Disel Astawa Minta Investor Rangkul Desa Adat: Pariwisata Bali Jangan Abaikan Budaya

Jbm.co.id-DENPASAR | Pembangunan pariwisata Bali harus berjalan seiring dengan pelestarian adat, agama, dan budaya.
Investor menanamkan modal di Pulau Dewata juga diminta tidak mengabaikan keberadaan desa adat serta masyarakat lokal sebagai bagian penting dari keberlanjutan pariwisata Bali.
Penegasan tersebut disampaikan Bendesa Adat Ungasan yang juga Wakil Ketua I DPRD Bali, I Wayan Disel Astawa, SE., saat ditemui, seusai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Bali, Denpasar, Jumat (30/10/2026).
Menurut Disel Astawa, karakter pariwisata Bali memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain. Daya tarik Pulau Dewata bukan semata keindahan alam maupun kemegahan fasilitas pariwisata, melainkan juga kekuatan adat, agama, dan budaya yang diwariskan serta dijaga masyarakat secara turun-temurun.
Oleh karena itu, Disel Astawa menilai desa adat harus ditempatkan sebagai salah satu pilar utama dalam pembangunan pariwisata. Sebab, berbagai aktivitas pelestarian budaya, pelaksanaan upacara keagamaan, seni tari, hingga tradisi masyarakat membutuhkan dukungan dan pembiayaan berkelanjutan.
Disel Astawa mengapresiasi langkah Gubernur Bali dalam memperkuat kedudukan desa adat melalui Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali.
Namun, penguatan melalui regulasi harus diikuti dukungan konkret. Pemerintah, investor, dan pelaku usaha pariwisata diharapkan turut berkontribusi atas keberlangsungan kegiatan adat, agama, dan budaya.
“Melestarikan adat, agama, dan budaya tidak bisa dilepaskan dari konteks biaya. Karena itu, kontribusi pihak ketiga dalam pembangunan harus kita pertimbangkan. Bagaimana hubungan investor dengan desa adat, desa dinas, dan masyarakat sekitar harus dibangun melalui kolaborasi yang baik,” kata Disel Astawa.
Investor Jangan Abaikan Desa Adat
Disel Astawa menyoroti pentingnya komunikasi antara investor dengan desa adat dan pemerintah desa dinas sejak awal proses investasi maupun pembangunan.
Menurutnya, investasi pariwisata seharusnya memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat setempat. Tidak hanya melalui pembangunan hotel, restoran, vila, dan fasilitas pariwisata lainnya, tetapi juga penyerapan tenaga kerja lokal serta kontribusi terhadap kegiatan sosial dan budaya masyarakat.
Disel Astawa mengibaratkan perkembangan pariwisata Bali seperti gula yang menarik semut dari berbagai daerah. Namun, masyarakat Bali sebagai pemilik wilayah dan penjaga kebudayaan jangan sampai hanya menjadi penonton di tengah pesatnya pertumbuhan industri pariwisata.
“Pariwisata itu ibarat gula, gulanya ada di Bali, tetapi semutnya datang dari mana-mana. Tidak semua yang menikmati gula itu orang Bali. Karena itu, harus ada sinergi agar masyarakat lokal juga mendapatkan manfaat dari perkembangan pariwisata,” tegasnya.
Disel Astawa mengungkapkan, masih ditemukan kondisi ketika desa adat tidak mengetahui secara pasti kapan investor masuk dan memulai pembangunan di wilayahnya.
Bahkan, masyarakat terkadang baru mengetahui adanya investasi setelah bangunan mulai berdiri.
“Kalau dulu masih ada komunikasi antara investor dengan desa adat dan masyarakat penyanding. Sekarang terkadang desa adat tidak tahu kapan investor datang, tahu-tahu bangunannya sudah berdiri. Ini yang menjadi persoalan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Sebab, ketika muncul persoalan di wilayah, masyarakat adat tetap menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan warga.
Oleh karena itu, Disel Astawa mendorong setiap investasi yang masuk ke Bali tetap mengedepankan komunikasi dan koordinasi dengan bendesa adat serta kepala desa atau lurah setempat.
Apresiasi Infrastruktur Soroti Krisis Air Bali Selatan
Meski demikian, Disel Astawa mengingatkan pembangunan infrastruktur membutuhkan tahapan dan proses, terutama terkait pembebasan lahan, penguatan regulasi, serta persiapan teknis lainnya.
“Minimal pemimpin kita sudah mengarah pada suatu perbaikan infrastruktur. Harapannya, kawasan-kawasan pariwisata strategis tidak lagi mengalami kemacetan dan masyarakat bisa merasakan manfaat pembangunan tersebut,” kata Disel Astawa.
Disisi lain, persoalan ketersediaan air bersih di kawasan Kuta Selatan menjadi perhatian serius.
Disel Astawa menjelaskan, pesatnya perkembangan pariwisata telah meningkatkan kebutuhan air bersih secara signifikan. Pertumbuhan hotel, restoran, vila, dan berbagai fasilitas pariwisata berdampak pada bertambahnya jumlah penduduk serta wisatawan yang membutuhkan pasokan air.
Situasi tersebut semakin berat akibat musim kemarau panjang yang berdampak terhadap sumber-sumber air baku.
Disel Astawa menilai kapasitas dan cadangan air yang sebelumnya tersedia kini semakin sulit mengimbangi pertumbuhan pembangunan dan kebutuhan masyarakat.
Sebagai solusi mengatasi keterbatasan air bersih, Disel Astawa mendukung rencana pemerintah mengembangkan teknologi penyulingan air laut atau desalinasi menjadi air bersih yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Disel Astawa menyebutkan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah, termasuk pembangunan jaringan perpipaan untuk mendukung distribusi air bersih serta rencana penyertaan modal sebesar Rp150 miliar kepada PDAM.
Menurutnya, rencana tersebut harus segera direalisasikan agar persoalan kebutuhan air bersih di Bali Selatan, khususnya Kuta Selatan, dapat ditangani secara bertahap.
Namun, pengembangan desalinasi juga membutuhkan kesiapan teknis serta perizinan dari pemerintah pusat. Karena itu, pemerintah provinsi dan kabupaten diminta memperkuat koordinasi serta mempercepat penyelesaian regulasi.
“Harapan saya, pemerintah pusat dan daerah serius mempercepat proses regulasinya. Ini merupakan bentuk pelayanan publik dan menyangkut kepentingan masyarakat. Jangan sampai kebutuhan air bersih terus menjadi persoalan,” kata Disel Astawa.
Jaga Identitas Budaya sebagai Kekuatan Pariwisata Bali
Lebih jauh, Disel Astawa mengingatkan bahwa pembangunan pariwisata Bali tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan investasi. Keberlanjutan lingkungan serta pelestarian adat, agama, dan budaya harus tetap menjadi prioritas.
Disel Astawa menegaskan, kekuatan pariwisata Bali tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat adat dan tradisi yang selama ini menjadi identitas Pulau Dewata.
Jika pelestarian budaya tidak mendapatkan perhatian, Bali justru berisiko kehilangan daya tarik utamanya sebagai destinasi pariwisata dunia.
Oleh karena itu, Disel Astawa mengajak pemerintah, investor, pelaku usaha, desa adat, desa dinas, serta seluruh elemen masyarakat membangun kolaborasi yang saling menguntungkan.
“Kalau pelestarian agama dan budaya tidak berjalan, apa lagi yang menjadi daya tarik Bali? Karena itu, mari kita berkolaborasi dengan baik. Kemajuan pariwisata harus memberikan manfaat bagi masyarakat Bali sekaligus menjaga identitas budaya kita,” pungkasnya.
Pewarta: Ivan
Editor: Putu Wiguna




