BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Seringlah Berkunjung ke Makam Orang Tua, Karena Mereka Tahu dan Bahagia Didatangi Anak-anaknya

"Seringlah berkunjung ke makam orang tua. Mereka tahu dan sangat suka ketika pusaranya didatangi anak-anak yang dicintai semasa hidupnya. Doa anak yang saleh menjadi cahaya bagi mereka di alam kubur"

Pacitan,JBM.co.id- Berziarah ke makam orang tua bukan sekadar tradisi, melainkan wujud cinta dan bakti yang tak lekang oleh waktu. Pesan menyentuh itu disampaikan oleh pendakwah yang juga menjabat sebagai Inspektur Inspektorat Pacitan, KH Mahmud, Kamis (19/2/2026).

KH Mahmud mengajak masyarakat untuk tidak melupakan makam kedua orang tua, meski mereka telah lama berpulang. Menurutnya, ada nilai spiritual dan pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi ziarah kubur.

“Seringlah berkunjung ke makam orang tua. Mereka tahu dan sangat suka ketika pusaranya didatangi anak-anak yang dicintai semasa hidupnya. Doa anak yang saleh menjadi cahaya bagi mereka di alam kubur,” tuturnya dengan nada penuh haru.

Ia menjelaskan, dalam ajaran Islam, ziarah kubur memiliki dimensi edukatif. Selain mendoakan ahli kubur, ziarah juga menjadi pengingat bagi yang hidup akan hakikat kematian. Kesadaran ini, kata dia, dapat menumbuhkan sikap rendah hati, memperbaiki akhlak, serta memperkuat komitmen untuk berbuat kebaikan.

Lebih lanjut, KH Mahmud menekankan bahwa bakti kepada orang tua tidak terputus oleh kematian. Justru setelah mereka wafat, kesempatan berbakti hadir dalam bentuk doa, sedekah atas nama mereka, serta menjaga nama baik keluarga.

“Jangan tunggu hari raya atau momen tertentu saja. Luangkan waktu. Bersihkan pusaranya, bacakan doa, sampaikan salam. Itu bukan sekadar ritual, tapi bentuk komunikasi batin dan rasa terima kasih,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak merasa canggung atau enggan berziarah. Menurutnya, tradisi ini mengandung nilai pendidikan moral yang penting dalam membangun karakter bangsa, menghormati orang tua, mengenang jasa, serta menyadari bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.

Melalui pesan itu, KH Mahmud berharap masyarakat Pacitan semakin menyadari bahwa cinta kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka tiada. Justru, di sanalah ketulusan diuji, apakah anak-anak masih mengingat, mendoakan, dan menyempatkan diri datang ke pusara orang-orang yang dahulu tak pernah lelah mendoakan mereka.(Red/yun). 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button