BeritaDaerahHukum dan KriminalNasionalOpiniPemerintahanPendidikanPolitikSeni BudayaSosial

Jejak Kelam 1965 di Pacitan, Ketika Sejarah Menyisakan Cerita dari Pancer hingga Arjosari

"Jejak ingatan itu salah satunya dikaitkan dengan sejumlah lokasi yang disebut pernah menjadi tempat pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September dan Partai Komunis Indonesia (PKI)"

Pacitan,JBM.co.id-Sejarah Indonesia tidak hanya tersimpan dalam buku-buku dan arsip negara. Di sejumlah daerah, ingatan tentang pergolakan politik 1965 masih hidup dalam cerita masyarakat, nama-nama tempat, hingga kisah tentang lokasi yang oleh warga setempat dianggap wingit atau angker.

Di Pacitan, jejak ingatan itu salah satunya dikaitkan dengan sejumlah lokasi yang disebut pernah menjadi tempat pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pengamat sejarah Pacitan yang juga Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Amat Topan, mengatakan cerita tersebut ia temukan dalam berbagai literatur sejarah dan penuturan yang berkembang di masyarakat.

Menurut Topan, rangkaian kekerasan pasca-peristiwa 30 September 1965 juga tidak dapat dilepaskan dari operasi penumpasan yang dilakukan aparat militer dan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan PKI. Dalam ingatan sejarah lokal Pacitan, salah satu kekuatan militer yang disebut terlibat adalah pasukan dari Divisi Siliwangi.

“Memang cerita literasi sejarah, lokasi pembantaian berada di kawasan Pancer, Barean, Pancer Pandan Kurung Lorok, sampai bawah Jembatan Tempuran Arjosari. Di lokasi tersebut dulu kala, konon dijadikan tempat pembantaian para pemberontak,” kata Amat Topan, Kamis (1/10).

Kisah mengenai tempat-tempat tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Sebagian lokasi bahkan dikenal dengan kesan mistis, seolah lanskap geografis menyimpan lapisan cerita yang tak seluruhnya tercatat dalam dokumen sejarah.

Namun, di balik cerita tentang tempat-tempat yang dianggap wingit, tersimpan persoalan sejarah yang jauh lebih kelam: kekerasan massal yang terjadi setelah peristiwa 30 September 1965.

Topan menuturkan, berdasarkan cerita dan literatur yang dikumpulkannya, tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai bagian dari pemberontakan dilakukan dengan cara yang sangat brutal.

“Mereka disembelih seperti hewan. Kalau nggak mempan disembelih, ya ditembak melalui mulutnya,” tutur Topan saat ditemui di sebuah kafe literasi di kawasan Dinas Perpustakaan.

Cerita tersebut menggambarkan betapa kerasnya atmosfer sosial-politik yang menyelimuti Indonesia pada periode setelah 1965. Di tengah upaya negara menumpas PKI dan jaringan yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September, kekerasan juga menimpa banyak orang yang dituduh sebagai anggota, simpatisan, atau terkait dengan organisasi kiri.

Sejarah dan Ingatan yang Belum Usai

Peristiwa 1965 hingga kini menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Pembunuhan para perwira Angkatan Darat pada 1 Oktober 1965 menjadi awal dari rangkaian perubahan politik besar yang kemudian berujung pada melemahnya kekuasaan Presiden Soekarno dan lahirnya Orde Baru.

Di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, periode tersebut juga diwarnai penangkapan, pembunuhan, penahanan, dan berbagai bentuk kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh memiliki hubungan dengan PKI.

Karena itu, kisah dari Pacitan tidak semata-mata tentang lokasi yang dianggap angker. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sebuah peristiwa nasional meninggalkan jejak panjang di tingkat lokal.

Cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi memang tidak selalu identik dengan catatan arsip. Karena itu, setiap kesaksian, cerita lisan, maupun literatur lokal perlu ditempatkan secara hati-hati—dibandingkan dengan dokumen sejarah, kesaksian lain, dan penelitian akademik.

Sebab sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sejarah juga tentang manusia yang menjadi korban, ingatan yang diwariskan, serta upaya generasi berikutnya memahami masa lalu tanpa mengulang kekerasan yang sama.

Di Pancer, Barean, Pandan Kurung Lorok, hingga kawasan bawah Jembatan Tempuran Arjosari, cerita-cerita itu masih mengendap dalam ingatan masyarakat. Tempat-tempat tersebut mungkin hanya tampak sebagai bentang alam biasa bagi orang yang melintas.

Namun bagi mereka yang mengetahui kisah yang melekat di dalamnya, setiap sudutnya menyimpan pertanyaan tentang masa lalu—dan tentang bagaimana bangsa ini seharusnya mengingat sejarahnya.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button