BeritaDaerahKesehatanPemerintahanPendidikanSosial

Direktur RSUD dr Darsono Pacitan Tekankan Peran Strategis Farmasi dalam Penguatan Layanan Kesehatan

"Farmasi adalah pilar penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Ketepatan dosis, pemilihan obat, hingga edukasi kepada pasien sangat menentukan keberhasilan terapi. Di sinilah profesionalisme tenaga farmasi diuji"

Pacitan,JBM.co.id-Dalam momentum peringatan Hari Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) ke-80, Direktur RSUD dr Darsono Pacitan, dr. Johan Tri Putranto, menegaskan pentingnya penguatan peran tenaga farmasi sebagai garda terdepan dalam menjamin mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Menurut dr. Johan, pelayanan kefarmasian saat ini tidak lagi sebatas pengelolaan dan distribusi obat, tetapi telah berkembang menjadi pelayanan yang berorientasi pada pasien (patient oriented). Tenaga farmasi memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan penggunaan obat yang rasional, efektif, aman, dan terjangkau.

“Farmasi adalah pilar penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Ketepatan dosis, pemilihan obat, hingga edukasi kepada pasien sangat menentukan keberhasilan terapi. Di sinilah profesionalisme tenaga farmasi diuji,” ujarnya, Jum’at (13/2/2026).

dr. Johan menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan obat secara bijak. Ia menjelaskan bahwa penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang tepat dapat memicu resistensi antimikroba, yang saat ini menjadi ancaman kesehatan global.

Tenaga farmasi, lanjutnya, berperan aktif dalam memberikan informasi obat yang akurat dan mudah dipahami pasien, melakukan skrining resep untuk mencegah kesalahan medikasi, mengedukasi pasien mengenai efek samping dan interaksi obat, dan mendukung program pengendalian resistensi antibiotik

“Pasien perlu memahami bahwa obat bukan sekadar diminum, tetapi harus digunakan sesuai aturan. Peran farmasis sangat penting dalam memberikan pemahaman tersebut,” tambahnya.

Seiring perkembangan teknologi, pelayanan farmasi di rumah sakit juga dituntut untuk bertransformasi secara digital. Sistem e-resep, rekam medis elektronik, serta manajemen stok obat berbasis teknologi menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan keselamatan pasien.

dr. Johan juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi berkelanjutan bagi tenaga farmasi agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan regulasi di bidang kesehatan.

“Profesionalisme tidak berhenti pada gelar, tetapi harus terus diasah melalui pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi lintas profesi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pelayanan kesehatan yang optimal hanya dapat terwujud melalui kolaborasi yang solid antara dokter, perawat, tenaga farmasi, dan tenaga kesehatan lainnya. Sinergi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan sekaligus menekan risiko kesalahan medis.

Peringatan Hari PAFI ke-80 menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bahwa farmasi semakin kuat dan profesional dalam mengabdi di bidang kesehatan.

Dilatari semangat pengabdian dan integritas, tenaga farmasi diharapkan terus berkontribusi aktif dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien.(Red/yun). 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button