Kepala Dinas Pendidikan Pacitan: Pahami CP, TP, dan ATP dengan Menalar, Bukan Menghafal
"Ketika guru memahami hubungan antara CP, TP, dan ATP, mereka akan lebih mudah merancang pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada peserta didik"

Pacitan,JBM.co.id-Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, mengajak para guru memahami konsep Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) secara utuh. Menurutnya, implementasi Kurikulum Merdeka akan berjalan efektif apabila pendidik mengedepankan penalaran daripada sekadar menghafal istilah.
“Yang terpenting adalah menalar, bukan menghafal. Ketika guru memahami hubungan antara CP, TP, dan ATP, mereka akan lebih mudah merancang pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada peserta didik,” ujar Khemal, Rabu (5/8).
Ia menjelaskan, Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi yang harus dicapai peserta didik pada akhir suatu fase. CP menjadi tujuan akhir pembelajaran yang bersifat umum dan mencakup pengembangan sikap, pengetahuan, serta keterampilan.
Dari CP tersebut kemudian diturunkan Tujuan Pembelajaran (TP) yang lebih spesifik dan terukur. TP disusun untuk satu atau beberapa kali pertemuan sebagai target yang ingin dicapai peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Sementara itu, Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan rangkaian TP yang disusun secara sistematis, logis, dan berkesinambungan. ATP menjadi peta pembelajaran yang memandu guru dalam mengantarkan peserta didik menuju tercapainya Capaian Pembelajaran.
Sebagai ilustrasi, apabila CP menargetkan peserta didik mampu memahami dan menulis teks deskripsi dengan struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat, maka TP dapat disusun mulai dari menemukan ide pokok, menganalisis struktur teks, menulis teks deskripsi, hingga menyunting dan memublikasikan hasil tulisan. Rangkaian tujuan tersebut kemudian disusun secara berurutan dalam ATP agar proses belajar berlangsung bertahap dan berkesinambungan.
Khemal menegaskan bahwa ketiga komponen tersebut bukanlah konsep yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan. Menurutnya, CP adalah tujuan akhir yang ingin dicapai, TP merupakan target pada setiap tahapan pembelajaran, sedangkan ATP menjadi jalur sistematis yang mengantarkan peserta didik menuju tujuan tersebut.
Ia berharap seluruh guru di Kabupaten Pacitan mampu mengimplementasikan pemahaman tersebut dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi berorientasi pada penyelesaian materi semata, melainkan benar-benar berfokus pada pencapaian kompetensi peserta didik secara utuh.
“Ketika guru sudah memahami konsepnya, mereka tidak akan kesulitan menyusun perangkat ajar. Yang dibutuhkan bukan hafalan istilah, tetapi kemampuan menalar hubungan antarkomponen dalam pembelajaran,” pungkasnya. (Red/yun).




