BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan Hidup

Wayan Patut Minta Dukungan Jangan Biarkan Serangan Sendirian atas Polemik LNG Harus Libatkan Partisipasi Publik

Jbm.co.id-DENPASAR | Masyarakat Desa Adat Serangan mengungkapkan keprihatinan atas polemik pembangunan Terminal LNG di perairan Denpasar Selatan.

Pihak Desa meminta dukungan dari akademisi, pakar lingkungan dan seluruh masyarakat Bali, agar tidak membiarkan mereka menghadapi proyek besar itu seorang diri.

Prajuru Desa Adat Serangan I Wayan Patut menegaskan, isu ini bukan hanya urusan Serangan, tetapi menyangkut masa depan tata ruang dan keselamatan Bali bagian selatan.

“Kalau alam rusak di Serangan, seluruh Bali akan kena dampaknya. Ini tanggung jawab bersama,” kata Wayan Patut, saat dikonfirmasi awak media di Denpasar, Sabtu, 8 November 2025.

Menurutnya, masyarakat desa sampai saat ini belum pernah menerima salinan dokumen resmi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau kajian teknis pembangunan Terminal LNG tersebut.

“Kami sudah ke Jakarta, ke KLH, bahkan ke Surabaya menemui tim akademik ITS. Tapi sampai sekarang, dokumen kajian yang kami minta belum diberikan,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat warga pesisir khawatir bahwa proyek strategis ini berjalan tanpa transparansi yang memadai.

“Kalau proyek sebesar ini tidak terbuka dari awal, bagaimana masyarakat bisa tenang,” kata Wayan Patut.

Ia mengajak para akademisi di Bali, termasuk peneliti dan profesor di bidang lingkungan, untuk ikut menyuarakan kajian objektif.

“Kami harap yang punya kapasitas ilmiah di Bali mau ikut berbicara. Jangan hanya masyarakat adat yang disorot, sementara aspek ilmiahnya tidak dikawal,” ujarnya.

Wayan Patut menegaskan, masyarakat Serangan tidak menolak pembangunan energi bersih.

“Kami sadar energi bersih penting untuk Bali. Tapi jangan karena alasan itu, lalu semua proses adat, sosial, dan lingkungan diabaikan,” kata Wayan Patut.

Desa Adat Serangan berharap pemerintah lebih terbuka dalam proses sosialisasi dan koordinasi lintas pihak.

“Kalau komunikasi dibuka sejak awal, masyarakat pasti bisa menerima. Tapi kalau tidak dilibatkan, ya wajar kalau muncul resistensi,” urainya.

Selain itu, ia juga menilai pentingnya partisipasi publik dalam perencanaan proyek besar.

“Energi bersih tidak boleh lahir dari proses yang menutup ruang dialog. Kalau Bali ingin tetap harmoni, maka keputusan besar seperti ini harus dibicarakan bersama,” paparnya.

Wayan Patut mengingatkan, daya tarik Bali di mata dunia justru terletak pada kekuatan adat dan budaya.

“Bali tidak besar, karena industri, tapi karena budaya. Jadi menjaga budaya adalah juga menjaga ekonomi Bali,” pungkasnya. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button