BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Ramadhan Berkemas dari Dunia. Doa yang Menggantung di Langit Malam

"Ramadhan yang datang dengan begitu dinanti kini bersiap pergi. Ia akan menjauh selama dua belas bulan ke depan"

Pacitan,JBM.co.id-Malam-malam di bulan suci mulai terasa berbeda. Di sudut-sudut kampung, lantunan tadarus yang beberapa waktu lalu begitu akrab di telinga kini perlahan meredup. Di jalanan desa, suara kentongan penggugah sahur yang biasanya bersahut-sahutan sebentar lagi akan berhenti. Ramadhan di Pacitan perlahan berkemas, meninggalkan jejak rindu di hati banyak orang.

Sebulan terakhir, suasana religius terasa begitu hidup. Mushala dan masjid dipenuhi jamaah, anak-anak belajar mengaji selepas tarawih, dan para remaja dengan penuh semangat berkeliling kampung membangunkan warga untuk sahur. Malam-malam yang biasanya sunyi berubah menjadi penuh makna.

Namun waktu tak pernah benar-benar berhenti. Ramadhan yang datang dengan begitu dinanti kini bersiap pergi. Ia akan menjauh selama dua belas bulan ke depan, meninggalkan pertanyaan yang diam-diam menggetarkan hati: apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu dengannya lagi?

Tak ada yang mampu menjawabnya selain Allah SWT.

Di banyak rumah, doa-doa mulai terucap lirih selepas shalat. Ada harapan sederhana yang terbang bersama angin malam: semoga umur masih dipanjangkan, semoga kesehatan masih dijaga, dan semoga tahun depan kita kembali dipertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini.

Bagi sebagian orang, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, mempererat silaturahmi, dan menata kembali hubungan dengan Sang Pencipta.

Karena itu, ketika Ramadhan hampir usai, perasaan haru sering kali tak terhindarkan. Ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Seolah seorang tamu agung yang selama sebulan tinggal bersama kita kini harus pulang.

Namun umat Muslim percaya, setiap perpisahan dengan Ramadhan bukanlah akhir. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan di dunia juga sementara. Bahwa kesempatan untuk berbuat baik harus terus dijaga, bahkan setelah bulan suci berlalu.

Di Pacitan, malam terakhir Ramadhan mungkin akan tetap diisi dengan tadarus yang khusyuk, doa-doa panjang, dan harapan yang tak putus.

Satu doa yang sama menggantung di langit-langit masjid dan rumah-rumah warga:

“Ya Allah, pertemukan lagi kami dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang”.(******). 

Ditulis oleh Pendakwah yang juga Inspektur di Inspektorat Pacitan, KH. Mahmud.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button