BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPendidikan

Akademisi Unwar Suryawan Kritik Proyek LNG Bali Sebut Bali Mandiri Energi Justru Picu Ketergantungan Energi Baru

Jbm.co.id-DENPASAR |  Rencana pembangunan proyek Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Liquefied Natural Gas (LNG) di Perairan Serangan, Denpasar, kembali menuai sorotan publik.

Kali ini, kritik datang dari akademisi Universitas Warmadewa, I Ngurah Suryawan yang mempertanyakan arah kebijakan “Bali Mandiri Energi” jika tetap bergantung pada pasokan gas dari luar daerah bahkan luar negeri.

Menurutnya, konsep kemandirian energi yang digaungkan Pemerintah Daerah Bali dinilai tidak sejalan dengan rencana pemanfaatan LNG sebagai sumber energi utama Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).

Pasalnya, Bali tidak memiliki cadangan gas alam sendiri, sehingga seluruh kebutuhan bahan baku harus didatangkan dari daerah lain.

Ngurah Suryawan menilai proyek FSRU LNG yang dirancang sebagai penunjang PLTG di Bali justru berpotensi menciptakan ketergantungan energi baru.

Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan semangat kemandirian energi yang selama ini digaungkan pemerintah.

“Menurut saya, jelas sekali dari laporan yang ada rencana pembangunan proyek gas di Bali justru akan menimbulkan ketergantungan baru bagi Bali dan jauh dari konsep kemandirian. Saya melihat, jika LNG ini terus dipaksan untuk direalisasikan justru akan menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, tidak ada kemandirian bagi Bali yang ada justru ketergantungan karena Bali bukan penghasil sumber daya alam berupa gas,” ungkapnya.

Selain menyoroti ketergantungan pasokan energi, Ngurah Suryawan juga menilai Bali sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Ia menyebut sumber energi, seperti tenaga surya maupun energi angin dapat menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan konsep energi mandiri dan berkelanjutan.

Menurutnya, keberlanjutan proyek LNG di Bali juga berpotensi membuka ruang dominasi pihak-pihak tertentu yang menguasai sektor gas alam.

Ngurah Suryawan khawatir proyek tersebut lebih banyak memberikan keuntungan bagi kepentingan bisnis dibanding kebutuhan masyarakat Bali secara jangka panjang.

“Seperti yang pernah saya sampaikan, logika dari logika ekstraktivisme mengatakan tidak ada kemandirian dibalik rencana pembangunan proyek gas di Bali. Justru, bagi saya, proyek gas di Bali ini akan memberikan kesempatan bagi pihak-pihak lain untuk memetakan zona-zona lainnya di Bali untuk mereka kuasai, ini kan yang ada hanya kepentingan-kepentingan kapitalis,” tandasnya.

Ngurah Suryawan berharap pemerintah dapat melakukan kajian ulang terhadap rencana pembangunan FSRU LNG di Bali agar kebijakan energi yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan Bali. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button