Gempa Bumi sebagai Pengingat Kekuasaan Tuhan, Dakwah Spiritual dari Kepala UPT PJJ Pacitan
"Ketika bencana datang, yang diuji bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga keimanan, kesabaran, dan solidaritas kita. Dari situlah nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan seharusnya tumbuh"

Pacitan,JBM.co.id-Musibah bencana alam seperti gempa bumi tektonik tidak hanya meninggalkan dampak fisik dan kerugian material, tetapi juga membawa pesan spiritual yang mendalam bagi umat manusia. Di balik guncangan yang menggoyahkan bumi, terdapat pengingat bahwa seluruh alam semesta berada dalam kuasa dan kehendak Allah SWT.
Pendakwah asal Pacitan, Budi Harisantoso yg juga sepupu Alm.G.Sudibyo mantan Bupati Pacitan, menuturkan bahwa gempa bumi kerap menjadi momentum refleksi diri bagi manusia yang selama ini terlena oleh rutinitas duniawi.
Saat bumi berguncang hebat, tak sedikit orang yang secara spontan melafalkan kalimat-kalimat thayyibah seperti “Ya Allah,” “Allahu Akbar,” dan “Astaghfirullah” sebagai bentuk kepasrahan dan pengakuan atas kebesaran Sang Pencipta.
“Ucapan spontan itu menunjukkan bahwa dalam kondisi genting, fitrah manusia akan kembali mengingat Allah. Gempa memang bencana, namun di sisi lain ia menjadi pengingat nyata atas kuasa-Nya,” ujar Budi Harisantoso, Jumat (6/2/2026).
Pendakwah yang juga menjabat sebagai Kepala UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan, wilayah Pacitan, Dinas PU dan Bina Marga Pemprov Jatim ini menjelaskan, dalam perspektif keimanan, setiap kejadian di alam semesta mengandung hikmah. Bencana bukan semata-mata hukuman, melainkan juga sarana introspeksi agar manusia kembali memperbaiki hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar. Kesadaran spiritual yang muncul saat bencana seharusnya tidak bersifat sementara, tetapi menjadi titik balik untuk menjalani hidup yang lebih bertakwa.
Lebih lanjut, Budi yang juga jebolan S2 Teknik Sipil ITS mengajak masyarakat untuk memaknai gempa bumi sebagai pelajaran tentang keterbatasan manusia. Secanggih apa pun teknologi dan sekuat apa pun bangunan, manusia tetap tidak memiliki kuasa penuh atas alam. Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana harus diiringi dengan peningkatan keimanan dan kepedulian sosial.
“Ketika bencana datang, yang diuji bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga keimanan, kesabaran, dan solidaritas kita. Dari situlah nilai-nilai kemanusiaan dan ketauhidan seharusnya tumbuh,” tambahnya.
Ia berharap, peristiwa gempa bumi yang terjadi dapat menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat untuk senantiasa bersyukur, memperbanyak doa, serta menjaga keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan ketundukan spiritual kepada Allah SWT.(Red/yun).




