Petuah Leluhur Bali Soal Sampah: Jika Urusan Sekala Gagal Total, Yakin Bisa Sucikan Alam Niskala?

Jbm.co.id-DENPASAR | Peneliti manuskrip lontar Bali dan Jawa Kuno, Sugi Lanus menegaskan bahwa ajaran leluhur Bali sejak lama telah menempatkan kebersihan sebagai dasar utama dalam kehidupan spiritual dan pelaksanaan upacara keagamaan.
Menurutnya, petunjuk mengenai pengelolaan sampah dan kebersihan tercantum dalam lontar pedoman Kepemangkuan Sangkul Putih dan Kusumadewa.
Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa sebelum upacara di pura dimulai, tahapan pertama yang wajib dilakukan adalah bersih-bersih secara sekala sebelum masuk ke penyucian niskala.
Tahapan itu dimulai dari Nyampat, kemudian dilanjutkan dengan Pangresik dan Prayascita. Artinya, menyapu dan membersihkan lingkungan menjadi syarat utama sebelum Odalan atau Karya di sebuah pura dilaksanakan.
Bahkan, dalam tradisi Bali, pemangku pura memiliki gelar Juru Sapuh atau tukang sapu. Hal itu menunjukkan bahwa kebersihan bukan sekadar urusan fisik, melainkan bagian mendasar dari spiritualitas masyarakat Bali.
“Hal ini penjelasannya bahwa aspek kebersihan adalah fundamental dalam spiritualitas Bali. Kebersihan di luar harus beres sebelum melakukan penyucian ke dalam rohani,” kata Sugi Lanus, yang dikutip dalam akun media sosial pribadinya di Denpasar, Selasa, 7 April 2026.
Sugi Lanus menjelaskan, Upacara Nyapuh, Pangresik, dan Prayascita wajib diawali dengan kebersihan yang terlihat secara sekala, sebelum dilanjutkan ke penyucian unsur yang tidak tampak atau niskala.
Menurutnya, penyucian sekala adalah tahapan pertama yang tidak boleh diabaikan. Setelah itu, barulah ritual penyucian niskala dapat dilakukan secara sempurna.
Sugi Lanus juga mengutip sebuah Pupuh Ginada yang menjadi bagian dari khazanah tembang Bali, yakni: “Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin, geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luhu. Hilang luhu buke katah, yadin ririh liu enu paplajahan.”
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pupuh tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak merasa paling mampu. Hidup diibaratkan seperti menyapu, karena sampah dan debu akan selalu datang silih berganti, sehingga manusia harus terus belajar sepanjang hidup.
“Kenapa laku belajar tanpa putus itu diibaratkan “menyapu”? Penjelasan bisa kita perpanjang berhalaman-halaman. Dari Pupuh tersebut, kita menggali bahwa leluhur Bali berpesan bahwa sebelum menata rohani, menata pikiran, dimulai di palemahan dengan bersih dari “luhu”. Tahu mengatur kebersihan adalah pokok pembelajaran hidup leluhur Bali,” kata Sugi Lanus.
Dari penjelasan itu, Sugi Lanus menilai bahwa pesan leluhur Bali sangat tegas, yakni jangan mengaku pintar jika masih tidak mampu mengurus sampah. Sebab, jika kebersihan alam sekala saja gagal dijaga, maka penyucian niskala juga tidak akan bermakna.
Sugi Lanus juga menyoroti persoalan sampah di Bali yang masih menjadi tantangan besar, termasuk kebiasaan membakar sampah hingga keberadaan Gunung Sampah Suwung.
“Apakah Leluhur Bali tidak malu melihat keturunannya bakar-bakar sampah se-Pulau Bali? Banggakah Leluhur Bali melihat Gunung Sampah Suwung? Banggakah Leluhur Bali pada para Pejabat Bali sekarang? Eda ngaden awak bisa yen sing bisa ngurus luhu,” tegasnya. (red).




