Pacitan Alami Deflasi 3,32 Persen pada Minggu Kedua Juli 2026, Dipicu Turunnya Harga Cabai dan Telur Ayam
"Penurunan indeks tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga sejumlah komoditas pangan strategis, yakni cabai rawit, cabai merah, dan telur ayam ras"

Pacitan,JBM.co.id-Memasuki minggu kedua Juli 2026, perkembangan harga di Kabupaten Pacitan masih menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan hasil pengolahan Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Pacitan tercatat mengalami deflasi sebesar 3,32 persen dibandingkan minggu sebelumnya.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Pacitan, Ayub Setyo Budi mengatakan, penurunan indeks tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga sejumlah komoditas pangan strategis, yakni cabai rawit, cabai merah, dan telur ayam ras. Ketiga komoditas tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap terjadinya deflasi di Pacitan pada pekan ini, seiring meningkatnya pasokan di pasar yang mendorong harga bergerak turun.
Secara nasional, capaian IPH Kabupaten Pacitan menempati peringkat ke-321, sedangkan di tingkat Provinsi Jawa Timur berada pada urutan ke-19 dari seluruh kabupaten/kota. Sementara itu, di wilayah Pulau Jawa, Pacitan berada pada peringkat ke-63.
Kinerja perkembangan harga di Pacitan juga tercermin dari indikator inflasi lainnya. Hingga Juni 2026, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) tercatat sebesar 2,30 persen, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar -2,13 persen, sedangkan inflasi bulanan (month to month/m-to-m) Juni mencapai -1,09 persen. ‘Adapun perkembangan IPH hingga minggu kedua Juli menunjukkan angka -3,52 persen, mengindikasikan bahwa tren penurunan harga masih berlanjut,”terang Ayub, Senin (13/7/2026).
Perjalanan IPH sepanjang tahun 2026 memperlihatkan dinamika yang cukup fluktuatif. Pada Januari terjadi deflasi sebesar -5,21 persen, kemudian berbalik mengalami inflasi pada Februari sebesar 4,73 persen dan Maret 1,28 persen. Memasuki April kembali terjadi deflasi -2,87 persen, disusul inflasi tipis 1,03 persen pada Mei, sebelum kembali mengalami deflasi -1,09 persen pada Juni dan semakin dalam pada minggu kedua Juli.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kelompok komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit dan cabai merah, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga di Kabupaten Pacitan sepanjang tahun 2026. Hampir setiap bulan kedua komoditas tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi maupun deflasi, mencerminkan tingginya sensitivitas harga akibat perubahan pasokan dan kondisi pasar.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Pacitan, hanya bawang putih yang mengalami kenaikan harga pada minggu kedua Juli. Beberapa komoditas pokok lainnya seperti beras medium, Minyakita, daging sapi, gula pasir, pisang, dan jeruk tercatat relatif stabil. Sebaliknya, harga minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai merah, cabai rawit, serta bawang merah mengalami penurunan dibandingkan rata-rata harga pada Juni 2026.
Di tingkat Provinsi Jawa Timur, Pacitan menjadi daerah dengan deflasi terbesar ke-19. Kabupaten Lamongan mencatat deflasi terdalam sebesar -5,48 persen, sedangkan Kabupaten Probolinggo menjadi daerah dengan penurunan harga paling ringan sebesar -0,06 persen. Secara umum, penurunan harga di berbagai daerah di Jawa Timur juga didominasi oleh melemahnya harga cabai rawit, cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
“Pada skala nasional, Kabupaten Pacitan berada di posisi 321 dari seluruh kabupaten/kota yang dipantau. Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 8,89 persen, sementara Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mengalami deflasi terdalam sebesar -6,45 persen,”jelasnya.
Melihat perkembangan tersebut, stabilitas pasokan pangan, khususnya komoditas hortikultura, tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan harga di Kabupaten Pacitan. Sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan petani diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan sehingga fluktuasi harga dapat dikendalikan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.(Red/yun).




