BaliBeritaDaerahDenpasarPariwisataPendidikan

Indonesia Butler Academy Hadirkan “Life Simulation” Kapal Pesiar Siapkan SDM Hospitality Berstandar Internasional Hanya dalam 15 Hari

Jbm.co.id-DENPASAR | Indonesia Butler Academy (IBA) menghadirkan inovasi baru dalam pendidikan vokasi bidang hospitality melalui konsep Cruise Ship Life Simulation, sebuah metode pelatihan yang dirancang untuk mencetak tenaga kerja profesional berstandar internasional dalam waktu 15 hari.

Program ini menyasar masyarakat yang ingin membangun karier di kapal pesiar, hotel berbintang, vila mewah, hingga berbagai sektor hospitality di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia yang kompeten.

Foto: Momen Indonesia Butler Academy (IBA) menerapkan metode Cruise Ship Life Simulation.

Founder & Innovator Cruise Ship Life Simulation Indonesia Butler Academy, Daniel Paulus Ferdinand mengatakan konsep yang diterapkan IBA berbeda dengan lembaga pelatihan pada umumnya.

Menurutnya, pelatihan dirancang secara padat, efektif, dan berbasis pengalaman nyata sehingga peserta tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu memenuhi standar kompetensi industri internasional dalam waktu yang lebih singkat.

 “Indonesia Butler Academy merupakan lembaga pelatihan vokasi yang menawarkan konsep berbeda sekaligus menjadi inovasi baru dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang hospitality. Program ini ditujukan bagi mereka yang memiliki cita-cita berkarier di kapal pesiar, hotel berbintang, maupun berbagai industri perhotelan di luar negeri sebagai pekerja migran Indonesia yang andal dan profesional,” kata Daniel.

Daniel menjelaskan, konsep “cepat” yang diusung bukan berarti mengurangi kualitas pelatihan, melainkan memberikan pembekalan yang efektif agar peserta dapat lebih cepat memperoleh kesempatan bekerja di kapal pesiar maupun industri hospitality internasional.

Selama mengikuti program, seluruh peserta diwajibkan tinggal di hotel berbintang empat hingga lima. Saat ini pelatihan dilaksanakan di The Lerina Hotel Nusa Dua, di mana peserta memperoleh fasilitas menginap selama 15 hari, makan tiga kali sehari, seragam pelatihan, modul pembelajaran digital melalui tablet, serta menikmati seluruh fasilitas hotel layaknya tamu.

Menurut Daniel, konsep tersebut sengaja diterapkan agar peserta memahami secara langsung bagaimana rasanya menjadi tamu hotel sebelum nantinya bertugas memberikan pelayanan kepada tamu.

 “Konsep ini kami terapkan agar calon tenaga kerja di bidang hospitality memahami secara langsung pengalaman menjadi seorang tamu. Dengan demikian, sebelum mereka bekerja melayani tamu, mereka sudah mengetahui ekspektasi dan standar pelayanan yang diharapkan dari sudut pandang tamu,” terangnya.

Pelatihan di IBA berlangsung secara menyeluruh sejak peserta bangun tidur hingga kembali beristirahat pada malam hari. Seluruh aktivitas menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan standar Mutual Recognition Arrangement (MRA) ASEAN di bidang hospitality.

Selain mendapatkan materi di kelas, peserta juga menjalani praktik langsung, mulai dari membersihkan kamar sendiri, mengelola area kerja (section), hingga melayani tamu sesungguhnya di restoran, bar, maupun housekeeping.

Program pelatihan dibagi menjadi tiga tahap. Lima hari pertama difokuskan pada kompetensi Housekeeping, kemudian peserta mengikuti asesmen dan berhak memperoleh sertifikat Housekeeping. Peserta juga memiliki kesempatan mengikuti sertifikasi BNSP apabila ingin memperoleh sertifikat kompetensi nasional.

Lima hari berikutnya diisi dengan pelatihan Food and Beverage Service, yang juga diakhiri dengan asesmen dan pemberian sertifikat bagi peserta yang dinyatakan kompeten.

Sementara itu, lima hari terakhir menjadi puncak pelatihan melalui program Butler Training, yang mengintegrasikan kemampuan Housekeeping dan Food and Beverage Service dengan penekanan pada etika, sikap (attitude), pelayanan premium, serta standar profesional seorang butler kelas dunia.

“Kurikulum yang kami gunakan diadaptasi dari International Butler Academy, yang merupakan salah satu akademi butler terbaik di dunia. Ke depannya, apabila perkembangan industri di Indonesia terus menunjukkan tren yang positif, kami juga berencana membuka International Butler Academy di Indonesia, khususnya di Bali,” ungkap Daniel.

Daniel menambahkan, pihaknya ingin menjadikan Bali sebagai pusat pelatihan hospitality internasional sehingga peserta dari berbagai negara dapat mengikuti program berstandar global di Pulau Dewata.

Selain membekali keterampilan teknis, peserta juga dipersiapkan menghadapi proses rekrutmen perusahaan internasional. Mulai dari penyusunan curriculum vitae (CV), simulasi wawancara kerja, hingga menghadapi sistem wawancara daring yang kini banyak memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

 “Dalam waktu 15 hari, peserta tidak hanya mendapatkan teknik, teori, dan praktik yang menjadi bagian dari kurikulum Indonesia Butler Academy, tetapi juga dibekali keterampilan menghadapi proses rekrutmen. Saat ini proses wawancara kerja banyak dilakukan secara daring dengan memanfaatkan platform berbasis AI. Karena itu peserta juga kami latih mulai dari menyusun CV hingga simulasi wawancara kerja,” jelasnya.

Daniel menuturkan, setiap hari peserta menjalani pelatihan selama 12 jam, terdiri atas enam jam teori, empat jam praktik, serta dua jam sesi evaluasi dan self-assessment pada malam hari. Dengan total sekitar 180 jam pelatihan selama 15 hari, durasi tersebut dinilai telah memenuhi bahkan melampaui standar jam pelatihan yang dipersyaratkan dalam SKKNI.

 “Output yang kami targetkan adalah lulusan dengan kualifikasi KKNI Level 3, yaitu level operator. Selama kurikulum yang digunakan mengacu pada SKKNI, maka durasi pelatihan bukanlah persoalan utama. Yang paling penting adalah peserta mampu memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan sesuai standar KKNI,” tegasnya.

Keunggulan lain dari program ini adalah penerapan metode Cruise Ship Life Simulation, di mana sejak hari pertama peserta telah menjalani budaya kerja layaknya kru kapal pesiar.

 “Metode yang kami gunakan adalah Cruise Ship Life Simulation. Artinya, sejak peserta memasuki venue pelatihan, mereka sudah merasakan suasana seperti sedang bekerja di atas kapal pesiar. Selama 15 hari, mereka dikondisikan untuk menjalani budaya kerja yang sesungguhnya, mulai dari kedisiplinan, penggunaan bahasa Inggris dalam lingkungan pelatihan, hingga cara berinteraksi dengan tamu layaknya kru kapal pesiar,” terang Daniel.

Daniel juga menegaskan bahwa praktik yang dilakukan peserta menggunakan kondisi nyata, bukan sekadar simulasi.

 “Jika di lembaga lain pelatihan umumnya menggunakan mock-up room, di sini peserta berlatih langsung di real room dengan real guest. Bahkan, selama program berlangsung mereka juga menginap di hotel berbintang empat hingga lima,” ujarnya.

Melalui konsep “Target to be Excellent”, Daniel menekankan bahwa standar yang ingin dicapai bukan hanya kategori baik atau sangat baik, melainkan menghasilkan tenaga hospitality dengan kualitas pelayanan yang benar-benar unggul.

 “Kami menerapkan konsep ‘Target to be Excellent’. Jadi target kami bukan sekadar menjadi good atau very good. Standar yang kami tetapkan adalah excellent, karena seorang butler harus mampu memberikan pelayanan dengan tingkat profesionalisme yang benar-benar unggul,” paparnya.

Ke depan, IBA menargetkan para lulusannya dapat memperoleh respons dari perusahaan, menerima job letter, hingga bergabung dengan perusahaan kapal pesiar impian dalam waktu sekitar tiga bulan setelah menyelesaikan pelatihan.

Salah satu peserta, Ketut Wiguna mengaku mengikuti pelatihan tersebut karena difasilitasi oleh Avantera Villa Management. Ia menilai konsep yang diterapkan IBA berbeda dibandingkan lembaga pelatihan lainnya di Bali.

 “Tempat saya bekerja memfasilitasi mengikuti pelatihan di IBA karena dari sekian lembaga pelatihan kerja di Bali, hanya IBA yang memiliki kurikulum, konsep, dan metode pelatihan yang out of the box. Di hari ke-10 saya sudah bisa melakukan tugas dua departemen sekaligus, yaitu Housekeeping dan Food and Beverage Service. Padahal umumnya untuk menjadi kompeten di dua bidang hospitality tersebut harus mengikuti dua program pelatihan yang masing-masing berlangsung sekitar satu tahun,” tutur Wiguna.

Wiguna mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari metode pelatihan yang berlangsung sepanjang hari.

“Hal yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin karena konsep pelatihan di IBA dilakukan sejak bangun tidur hingga saat akan kembali tidur. Dan semua fasilitas pelatihan bersifat real, bukan mock-up ataupun artificial,” pungkasnya.

Dengan konsep pelatihan berbasis pengalaman nyata, kurikulum berstandar internasional, serta metode Cruise Ship Life Simulation, Indonesia Butler Academy optimistis mampu menjadi salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia hospitality di Indonesia.

Melalui program intensif selama 15 hari, lembaga ini tidak hanya menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dan siap bersaing di industri hospitality global, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi putra-putri Indonesia untuk meraih karier profesional di kapal pesiar, hotel berbintang, vila mewah, hingga berbagai sektor hospitality internasional. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button