Ketut Pradnya Buka Suara Soal Kemelut Berkepanjangan Desa Adat Selat, Bangli

Jbm.co.id-BANGLI | Desa Adat Selat, Kecamatan Susut, Bangli belakangan identik dengan kisruh. Bahkan, media massa pada tempo lalu, diwarnai berita tentang kisruh Desa Adat Selat, Kabupaten Bangli, terutama di media online.
Dari persoalan pro kontra atas munculnya SK penetapan Bendesa Adat Selat oleh MDA Provinsi Bali kepada I Ketut Pradnya dengan menganulir SK dari MDA Kecamatan kepada Bendesa Adat terpilih, serta terjadinya dualisme kepemimpinan dan bahkan juga tudingan dilanggarnya syarat-syarat Bendesa Adat sebagaimana Perda Bali Nomor 4 tahun 2014.

Pasalnya, I Ketut Pradnya yang mengantongi SK MDA Provinsi Bali ber-KTP di luar Desa Adat Selat dan tidak ber-KTP Desa Selat. Sedangkan, Perda Bali itu mensyaratkan bendesa adat ber- KTP setempat.
Namun I Ketut Pradnya yang mantan dosen Sastra Bali di UNUD Denpasar, saat ditemui media masa di museumnya, Museum Wiswakarma, Batubulan, Gianyar, Kamis, 22 Mei 2025 menjawab hal tersebut.
Soal dirinya ber-KTP di Batubulan, bukan ber-KTP Desa Selat, menurutnya suatu hal yang tidak ada korelasinyaa dengan awig- awig Desa Adat Selat. Sebab, pada Awig-Awig Desa Adatnya syarat menjadi Bendesa adat adalah bila masuk menjadi warga) krama Desa Adat Selat. “Saya masuk, saya sebagai krama di Desa Adat Selat sebagai krama mipil,” ujarnya.
Persolan dia ber- KTP luar menurutnya tidak masalah. Kalau mengenai KTP konteksnya berbeda.
“Kalau berhubungan dengan pemilihan umum/ Pilbup baru berkaitan dengan KTP. Kalau urusannya dengan pemilihan dan Pilkada, saya memilihnya di sini, Batubulan,” ujarnya, tanpa mau menyalahkan Perda tersebut.
Dia lalu menyinggung keberadaan Desa Adat Selat sejak dia pimpin. Dia meski tinggal di Batubulan diyakini tak menjadi kendala untuk untuk memimpinnya. “Dimana sih kurang saya memimpin kalaupun tinggal jauh,” tanyanya.
Tanpa mau menyombongkan, dirinya mengaku desa adatnya kini telah dibawa ke arah lebih maju. Hal-hal yang patut disederhanakan untuk meringankan beban masyarakat dia lakukan itu. Sebulan krama tedun belasan kali misalnya dia kurangi, agar tidak banyak menyita waktu mereka untuk mencari nafkah.
Disisi lain, Pradnya juga membuat gagasan dan terobosan tanah Desa Adat akan dijadikan pasar desa, yang nantinya akan menghasilan pendapatan desa adat yang membuat desa adatnya maju dan mempunyai penghasilan tetap akan diperuntukan untuk ngempon pura yang ada di Desa Selat, nantinya. “Saya mohon doa restu dan dukungan partisipasi dari masyarakat supaya cepat terwujud,” ungkapnya.
Dia efektifkan sekaa-sekaa, yakni Sekaa baris, seka gong, sekaa serati, dan sekaa undagi, yang disesuaikan dengan keahlian mereka. Sisanya diposisikan sebagai tukang cukur rumput di pura-pura dengan dilengkapi mesin cukur, sehingga dalam hal membersihkan rumput yang berada di pelataran pura jadi rata dan asri dilihat oleh mata.
Sebelumnya, kalau dikerjakan oleh krama dengan sistem gotong royong dengan memakai sarana sabit tampak potongan rumputnya menjadi bergelombang tidak rata dilihat dengan mata.
Desa Adat Selat juga melahirkan atlet bulu tangkis yang tidak patut disepelekan. Dengan memiliki cukup lapangan, dirinya mencari pelatih bulutangkis berkelas. Hingga di selat melahirkan pebulutangkis yang cukup diperhitungkan di kabupaten dan provinsi.
Di bidang keuangan, desa ini diperkuat kehadiran Koperasi Selat Peken yang disingkat Koperasi Seken. “Koperasi kami punya, Koprasi Seken namanya, sekarang asetnya tujuh miliar,” ujarnya serius.
Pradnya selaku Bendesa Adat yang diberikan kepercayaan oleh krama pengempon Pura Puseh Gede Selat yang terdiri dari 150 krama sangat berharap, kedepannya krama Banjar Selat mulailah memilih Bendesa Adat, tatkala nanti dirinya sudah purna tugas berhenti ngayah menjadi Bendesa, supaya ada generasi yang mau mewujudkan satu kesatuan menjadi Selat yang era baru paras paros sarpanaya selunglung sebayantaka. “Intinya, tidak usah mewariskan masalah pada generasi kita di Desa Adat Selat selanjutnya,” tegasnya.
Namun, berkaitan masa jabatan Bendesa Adat yang tersisa hitungan bulan ini, dia berharap penerusnya agar memimpin dengan arah pikir maju dan fleksibel, sehingga Desa Adat maju, secara individu krama dapat berkreasi.
“Ya, kami harap diteruskan nanti ke arah lebih maju,” kata pemilik museum yang memamerkan hasil karya Seniman melegenda, seperti Made Lentor, Rebeg, Narsa dkk. (S Kt Rcn).




