BeritaDaerahLingkungan HidupPemerintahanPendidikanSosial

Kesadaran Pilah Sampah dari Rumah Jadi Kunci Pengurangan Sampah Plastik di Pacitan

"Sampah yang kita hasilkan setiap hari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, bisa ke TPA, ke sungai, ke laut, bahkan berdampak kembali pada kesehatan manusia. Karena itu, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga"

Pacitan,JBM.co.id-Permasalahan sampah plastik masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Pacitan. Berdasarkan data nasional, Indonesia menghasilkan sekitar 12,7 juta ton sampah plastik per tahun, dan hampir setengahnya belum terkelola dengan baik. Menariknya, sekitar 65 persen sampah tersebut berasal dari aktivitas rumah tangga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pacitan, Cicik Ruhdotul Jannah, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh masyarakat, dimulai dari lingkungan rumah.

“Sampah yang kita hasilkan setiap hari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, bisa ke TPA, ke sungai, ke laut, bahkan berdampak kembali pada kesehatan manusia. Karena itu, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga,” jelas Cicik, Senin (9/2/2026).

Menurutnya, langkah paling sederhana namun berdampak besar adalah memilah sampah sejak dari rumah. Pemilahan antara sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) akan sangat membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus meningkatkan potensi daur ulang.

“Ketika sampah sudah tercampur, proses pengelolaannya menjadi lebih sulit dan mahal. Sebaliknya, jika masyarakat sudah memilah sejak awal, sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dapat didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah,” tambahnya.

DLH Kabupaten Pacitan juga terus mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dengan membiasakan membawa tumbler, tas belanja ramah lingkungan, serta memilih produk dengan kemasan yang lebih berkelanjutan.

Selain itu, peran bank sampah dan gerakan edukasi lingkungan dinilai sangat penting sebagai sarana pembelajaran sekaligus pemberdayaan masyarakat.

“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Kita yang menghasilkan sampah, maka kita pula yang wajib mengelolanya. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” tegas Cicik.

Melalui edukasi berkelanjutan dan partisipasi aktif masyarakat, Pemerintah Kabupaten Pacitan berharap budaya pilah dan olah sampah dari rumah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari. Dengan demikian, lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan bersama.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button