BangliBeritaDaerahLingkungan HidupPemerintahan

Hama Kera di Tukad Melangit Jadi Sorotan Dewan

Jbm.co.id-BANGLI | Petani-petani di Kabupaten Bangli, terutama yang berada di areal hamparan wilayah alur sungai dan jurang tak henti-henti mengeluhkan serangan hama terhadap tanaman mereka.

Kera menggangu/ menyerang tanaman petani hingga terjadi gagal panen atau gagal produksi. Sebagian petani mencoba bertanam tanaman lainnya, seperti Albezia, kelapa dan sejenisnya justru diserang juga oleh kera tersebut.

Oleh karena itu, petani merasa kehilangan akal untuk menghindari serangan hama yang satu ini. Keluhan terhadap serangan hama tersebut muncul dari petani di Subak Tegalalang, Bangli, I Wayan Melaja.

Dia mengungkapkan, bahwa serangan kera terhadap tanaman kacang tanah dan jagung sangat membuatnya kecewa. Intensitas serangan terjadi pada areal yang dekat sungai dan jurang. Saking mengganasnya serangan tersebut, sampai-sampai dirinya memilih tak bertanam apa- apa.

“Saya biarkan tanah tak tanami apapun, teman saya menanam kelapa bahkan padi pun juga diobrak abrik,” keluh petani yang punya areal dekat sungai ini, Sabtu, 11 Januari 2025.

Serangan hama yang satu ini kian mengganas bahkan hingga menyebabkan gagal panen.

Untuk itu, Wayan Melaja mengalami kerugian besar, rugi dari pembelian benih, rabuk, korban waktu dan tenaga, tak kecuali ongkos traktor untuk bajak tanah. “Lebih baik tidur, ngapain nguras keringat tak ada hasil,” keluhnya pasrah.

Keluhan serupa sudah menjadi lagu lama bagi Subak di Bangli. Bahkan, keluhannya tak kunjung mendapatkan solusi.

Terlebih lagi, petani mencoba bertanam Albezia dengan harapan tak diserang kera, namun diserang juga oleh hama kera.

Soal serangan hama kera dikatakan hal tersebut sudah menjadi lagu lama bagi petani di wilayahnya. Sebagian areal pertaniannya berada di alur sungai melangit yang notabene rumahnya kera.

“Rata-rata petani yang lahannya di alur sungai mengeluhkan serangan kera,” tegasnya.

Bahkan seiring populasinya yang terus bertambah, intensitas serangan juga diakui semakin meningkat dan merusak tanaman yang tidak bakal dimakannya.

“Ya, serangan itu sudah jadi hal klasik dan sekarang bukan saja memakan kelapa, pisang, ketela pohon, durian. Namun, padi bahkan Albezia pun dirusak,” kata petani cabe tersebut.

Pihaknya mengaku dilema. Bila dibasmi salah, karena kera merupakan bagian dari ekosistem. Sekarang populasi kera semakin bertambah, seperti yang terpantau di alur sungai sebelah timur rumahnya, yang masih areal Sungai Melangit.

Sementara itu, jalan yang ditempuhnya hanya dengan memaksimalkan upacara Ngeredana secara Niskala.

“Satu-satunya jalan, ya lewat ke jalur niskala,” terangnya.

Foto: Anggota DPRD Bangli, Gusti Ngurah Bagus Triana Putra

Soal keluhan petani tersebut, Anggota DPRD Bangli, Gusti Ngurah Bagus Triana Putra mengakui mendengar keluhan petani atas serangan kera terhadap tanaman mereka, lantaran petani dihadapkan pada kondisi yang dilematis.

“Kalau meninggalkan profesi sepertinya salah, kalau menekuni profesi ada tantangan berat. Ya, petani sekarang dituntut untuk berinovasi,” kata Anggota DPRD Bangli dari Fraksi PDIP ini.

Bahkan, politisi asal Bebalang yang juga mantan Ajudan Bupati Bangli, I Made Gianyar ini berharap, agar petani senantiasa bersinergi dengan Pemerintah Daerah setempat, dalam hal ini Dinas Pertanian untuk dapat mencari solusi terbaik.

Kepada Dinas Pertanian, pihaknya berharap untuk tidak menyerah berkaitan serangan kera tersebut, namun terus mencari langkah terbaik untuk dapat menemukan format yang tepat bagi petani yang wilayahnya terserang hama kera.

“Kalau membasmi kami tak sepakat, karena kera adalah bagian dari ekosistem, yang artinya mesti dijaga,” kilahnya.

Kepada petani, pihaknya hanya bisa menawarkan untuk berjaga jaga secara gotong royong untuk meminimalisir serangan.

“Subak-subak di Banjar Tegal dan Suranadi juga mengeluhkan serangan kera ini. Ya, kita bergotong royong saling menjaga tanaman,” tutupnya. (S Kt Rencana).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button