Demo Tutup Taxi Online Buat Resah Masyarakat Bali di Kawasan TPA, IPAL dan Limbah WC

Jbm.co.id-DENPASAR | Pariwisata Bali yang yang selama ini sudah terbangun dengan baik justru terpusat di Bali Selatan.
Bahkan, kawasan pariwisata tersebar di daerah Canggu, Kuta, Legian, Jimbaran, Sanur, Nusa Dua, Ubud, Tanah Lot dan sekitarnya.
Hal tersebut telah membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, termasuk taksi pangkalan lokal yang melayani hotel dan akomodasi wisata lainnya.
Demikian disampaikan Pengamat Kebijakan Publik, A.A. Gede Agung Aryawan, S T., yang populer dikenal Gung De di Denpasar, Sabtu, 11 Januari 2025.

Terlebih lagi, lanjutnya Peguyuban Transportasi Pariwisata Lokal menjadi monopoli dolar pariwisata terasa sangat berkah dan menjadi hak masyarakat setempat atas nama Otonomi Desa Adat.
Untuk itu, Bali sebagai kesatuan utuh, sehingga diharapkan tidak muncul ego sektoral hingga monopoli lapangan kerja pariwisata.
“Bali itu adalah satu kesatuan utuh. Jangan ego sektoral monopoli lapangan kerja pariwisata,” tegas Gung De.
Pasalnya, perkembangan pariwisata Bali sangat memerlukan daerah penyangga dengan dibangun fasilitas TPA Sampah, IPAL Limbah Domestik, IPLT Truck Tinja, DAM Sumber Air PDAM dan lain sebagainya. “Fasilitas tersebut tidak dapat dibangun dalam Kawasan Destinasi atau Akomodasi Wisata,” kata Gung Dr.
Pilihannya adalah daerah penyangga berkorban menikmati bau busuk sampah dan limbah WC yang sangat membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya tanpa ada lapangan kerja yang bisa dimonopoli.
Terlebih lagi, TPA Suwung sebagai tempat sampah regional atau Sarbagita sempat terbakar, yang saat ini menjadi sorotan publik.
“Itu tidak mungkin sampah atau limbah WC bisa menjadi dollar, seperti taksi pangkalan lokal, maka masyarakat sekitar TPA atau IPAL menjadikan taxi online sebagai pilihan, walau sebenarnya sangat tidak menjanjikan pendapatan besar setidaknya dapat menyambung hidup,” kata Gung De.
Dengan adanya Demo berisikan Spanduk Tutup Taxi Online oleh Peguyuban Transport Pariwisata Pangkalan sangat meresahkan masyarakat Bali yang bekerja sebagai Driver Ojek atau Taxi Online.
Hal tersebut disebabkan oleh kenyataan, bahwa tidak mungkin membuat Taxi Pangkalan Lokal di TPA atau IPAL yang menyebarkan bau busuk dan lalat bangkai.
“Investor pun tidak mungkin membangun akomodasi wisata di sekitar TPA atau IPAL,” tegasnya lagi.
Menurutnya, pilihan terbaik adalah menutup TPA dan IPAL agar Kawasan Hutan Mangrove bisa menjadi Destinasi Wisata Internasional, sehingga ada Lapangan Kerja Masyarakat untuk membuat Taxi Pangkalan Lokal, seperti Canggu, Nusa Dua, Kuta, Sanur atau Ubud.
Namun, jika menutup Taxi Online sama saja memotong mata pencaharian masyarakat sekitar TPA atau IPAL Suwung yang sebagian besar berprofesi sebagai Driver Online.
“Jika hal ini terjadi, apakah mungkin Kuta, Sanur, Canggu dan lain-lainnya menjadi tempat dibangun TPA atau IPAL Tai WC..? Inilah yang harus disikapi secara bijak, sehingga opini dan statemen di Media Sosial jangan sampai membenturkan kepentingan Ego Sektoral Monopoli Transport Pangkalan Lokal, tapi membuang Sampah dan Limbah WC-nya ke Desa Lainnya,” pungkasnya. (red/tim).




