BaliBeritaDaerahDenpasarPendidikan

Dalem Pemayun Raih Gelar Doktor ke-220 di UNHI Predikat Cumlaude Tekankan Sewaka Dharma Optimalkan Pelayanan Kesehatan di Biddokkes Polda Bali 

Jbm.co.id-DENPASAR |  Promovendus Anak Agung Gede Dalem Pemayun, SH., M.A.P., CCMS., mengikuti Ujian Promosi Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya Universitas Hindu Indonesia (UNHI) di Aula Lantai III, Gedung Rektorat Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Jalan Sangalangit, Tembau, Penatih, Denpasar Timur, Kota Denpasar, Rabu, 26 Agustus 2026.

Akhirnya, Dalem Pemayun resmi menyandang gelar Doktor, setelah lulus menjalani Sidang Akademik Ujian Terbuka Promosi Doktor Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya, Universitas HINDU Indonesia (UNHI). Tercatat, Dalem Pemayun meraih predikat Cumlaude sebagai Doktor ke-220 UNHI.

Dalem Pemayun berhasil mempertahankan Disertasi berjudul “Implementasi Sewaka Dharma dalam Mengoptimalisasikan Pelayanan Kesehatan di Biddokkes Polda Bali”.

Sidang Terbuka Promosi Doktor menghadirkan Rektor UNHI sekaligus Ketua Tim Penguji Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E.,M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya UNHI Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., dan Koordinator Program Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya UNHI Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si.

Dari lingkungan UNHI, Dalem Pemayun didampingi Tim Promotor dan Tim Penguji.

Promotor adalah Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si., dan Ko-Promotor adalah Dr. Drs. I Made Sumarya, M.Si.

Sementara itu, Anggota Penguji masing-masing Prof.Dr.I Wayan Suka Yasa, M.Si., Prof.Dr.Ir. Euis Dewi Yuliana, M.Si., Prof.Dr.Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS., dan Prof.Dr.Drs. Wayan Paramartha, SH., M.Pd.

Sedangkan, Prof.Dr. Dewa Putu Oka Prasiasa, A.Par., MM., sebagai Anggota Penguji Eksternal.

Dalam pemaparan Disertasinya, Dalem Pemayun menyampaikan Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Bali (Biddokkes Polda Bali) merupakan lembaga strategis di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia yang mengelola seluruh aspek medis dan kesehatan, dari perencanaan hingga pelaksanaan layanan.

Menurutnya, dalam melayani masyarakat, institusi ini mengusung jargon “Sewaka Dharma”, yakni memprioritaskan kepuasan konsumen dalam pemberian layanan.

 Namun, pada realitasnya masih saja ditemukan adanya keluhan pasien terhadap layanan yang diberikan institusi tersebut. Sebab dokter, perawat, dan pegawai administrasi belum mampu memberi layanan secara optimal sesuai motto yang diusung, misalnya, layanan yang diberikan sering lambat dan kurang empati.

“Dari gap research tersebut munculah tiga permasalahan, yakni (1) Mengapakah implementasi Sewaka Dharma belum optimal dalam pemberian layanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali? (2) Bagaimanakah implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian layanan kesehatan di Biddokkes Polda Bali? (3) Bagaimanakah implikasinya terhadap kehidupan sosial, budaya, perilaku pasien dan keluarganya, serta manajemen Biddokkes Polda Bali?,” terangnya.

Lebih lanjut, Dalem Pemayun menyampaikan Disertasi bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi Sewaka Dharma dalam pemberian layanan kesehatan, sehingga bermakna bagi bidang ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan di bidang layanan kesehatan rumah sakit.

Menurutnya, penelitian ini menggunakan tiga landasan teori, yakni teori fenomenologi, teori manajemen pelayanan, dan teori resepsi. Metode penelitiannya adalah kualitatif dengan pendekatan agama dan budaya serta paradigma interpretatif.

Dalem Pemayun juga menyebutkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancaraoleh beberapa faktor, yakni faktor SDM relatif terbatas, sosialisasi dan komunikasi kurang, dan kurangnya sarana-prasarana.

Dalem Pemayun menilai proses implementasi Sewaka Dharma di Biddokkes Polda Bali mensinergikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali dengan manajemen modern berdasarkan empat fungsi manajemen, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan kontrol. Hal tersebut ternyata berimplikasi terhadap manajemen Biddokkes Polda Bali.

“Temuan yang didapat: (1) mengafirmasi teori fenomenologi Alfred Schutz; (2) mengafirmasi teori manajemen dengan empat fungsi manajemen; (3) dari dimensi teori resepsi, temuan ini juga mengafirmasi teori resepsi yang meliputi teks dan respons yang terkonstruksi dari telaah teks secara total, atau sebagian bersifat oposisional,” pungkasnya. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button