BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPemerintahanPendidikan

Bali Produksi 3.463 Ton Sampah per Hari, Prof. Ni Luh Kartini Dorong Integrasi Energi Terbarukan dan Kendaraan Listrik

Jbm.co.id-DENPASAR | Bali menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Setiap hari, pulau ini menghasilkan sekitar 3.463 ton sampah, dengan 65 persen atau 2.250 ton di antaranya merupakan sampah organik.

Data tersebut mengemuka dalam Kajian Diskusi Strategis bertajuk Pengelolaan Sampah Organik, Energi Terbarukan, dan Penguatan Ekosistem Kendaraan Listrik (EV)  di Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Jumat, 24 April 2026.

Foto: Para Narasumber beserta peserta berfoto bersama, usai acara Kajian Diskusi Strategis bertajuk Pengelolaan Sampah Organik, Energi Terbarukan, dan Penguatan Ekosistem Kendaraan Listrik (EV)  di Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Jumat, 24 April 2026.

Diskusi dibuka oleh akademisi Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., dan dihadiri berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi energi, hingga pemangku kebijakan.

Forum ini menekankan pentingnya integrasi tiga sektor utama untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Bali.

Dalam paparannya, Prof. Ni Luh Kartini menegaskan bahwa sampah organik seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan.

“Melalui teknologi tepat guna, sampah organik dapat dikonversi menjadi energi terbarukan. Energi inilah yang nantinya menopang ekosistem kendaraan listrik,” jelasnya.

“Integrasi pengelolaan sampah organik, energi terbarukan, dan kendaraan listrik adalah sebuah keniscayaan. Yang selama ini menjadi masalah lingkungan, sejatinya adalah sumber energi bila dikelola dengan benar,” tambah Prof. Ni Luh Kartini.

Paradigma Lama Dinilai Tak Relevan

Prof. Ni Luh Kartini menyoroti dampak pertumbuhan pariwisata yang memicu peningkatan volume sampah, alih fungsi lahan, serta tekanan terhadap lingkungan. Ia menilai paradigma lama pengelolaan sampah dengan sistem kumpul-angkut-buang sudah tidak relevan. “Selain boros energi hingga 65 persen, praktik ini memicu pencemaran akibat pembakaran sampah,” ujarnya.

Ia juga menyinggung ironi yang terjadi di Bali saat ini. Disatu sisi, sampah organik menumpuk di TPA. Disisi lain, lahan pertanian justru kekurangan bahan organik.

“Kandungan idealnya 5 persen, tetapi realitasnya hanya 1 persen. Dibutuhkan pendekatan terintegrasi dari hulu ke hilir,” kata Prof. Ni Luh Kartini.

Potensi Besar Belum Dimaksimalkan

Di Kota Denpasar, produksi sampah mencapai 957 ton per hari, dengan 622,05 ton merupakan sampah organik. Potensi kompos yang bisa dihasilkan berkisar 382,8 hingga 478,5 ton per hari, namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Sementara itu, Kabupaten Badung menghasilkan sekitar 500 ton sampah per hari, dengan 325 ton di antaranya berupa sampah organik. Potensi komposnya mencapai 130 hingga 162,5 ton per hari.

Prof. Ni Luh Kartini juga mengingatkan bahaya dari pembakaran sampah non-organik. Pembakaran plastik menghasilkan dioksin, zat sangat beracun yang dapat menyebar 5 hingga 50 kilometer.

“Mencemari udara, tanah, dan air. Paparannya pada manusia dapat menyebabkan kanker, gangguan reproduksi, hingga gangguan kekebalan tubuh,” ungkapnya.

Dorong Desa Mandiri Sampah

Diskusi juga menyoroti pengembangan teknologi pengolahan sampah organik menjadi biogas dan listrik, serta pentingnya skema insentif energi bersih.

Penutupan TPA Suwung disebut menjadi momentum untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber di Denpasar dan Badung.

Konsep Desa Mandiri 

Sampah melalui TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) semakin diperkuat. Saat ini, Denpasar memiliki 3 TPST dan 24 TPS3R, sedangkan Badung memiliki 1 TPST dan 47 TPS3R.

Dengan fasilitas tersebut, volume sampah harian Denpasar yang mencapai 900-1.000 ton dan Badung 500-600 ton diyakini dapat diolah secara menyeluruh.

Peran Kampus Jadi Kunci

Prof. Ni Luh Kartini menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mengambil peran strategis dalam menjawab persoalan lingkungan.

“Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Hasil riset harus turun langsung menjawab tantangan lapangan, mulai dari persoalan sampah, penyediaan energi, hingga transisi transportasi rendah emisi,” tegasnya.

 Prof. Ni Luh Kartini berharap diskusi ini menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah, dengan kolaborasi erat antara akademisi, industri, dan pemangku kebijakan.

“Dengan potensi yang ada, Bali layak menjadi pilot projeck nasional untuk ekonomi sirkular dan ekosistem kendaraan listrik berbasis energi bersih,” pungkas Prof. Ni Luh Kartini. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button