
Pacitan, JBM.co.id- Pelaksanaan ibadah haji tahun ini menjadi bahan evaluasi penting bagi sejumlah pihak, terutama terkait pelayanan kesehatan bagi jamaah. Wakil Ketua DPRD Pacitan, H. Lancur Susanto, menilai jumlah tenaga medis yang mendampingi jamaah haji masih belum sebanding dengan jumlah jamaah yang harus dilayani.
Menurutnya, dalam satu kelompok terbang (kloter) yang berisi jamaah asal Pacitan, Madiun, dan Surabaya dengan jumlah lebih dari 400 orang, hanya terdapat satu dokter dan satu perawat yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai cukup berat mengingat mayoritas jamaah merupakan lanjut usia yang rentan mengalami gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Dengan jumlah jamaah yang mencapai lebih dari 400 orang dan sebagian besar berusia lanjut, keberadaan satu dokter dan satu perawat tentu sangat terbatas. Ke depan, jumlah petugas medis perlu ditambah agar pelayanan kesehatan dapat lebih optimal,” ujar Lancur, Ahad (7/6/2026).
Ia mengungkapkan, selama pelaksanaan ibadah haji, hampir seluruh jamaah mengalami gangguan kesehatan berupa flu dan batuk akibat cuaca ekstrem serta padatnya aktivitas ibadah. Bahkan, hingga menjelang kepulangan ke Tanah Air, banyak jamaah yang masih merasakan dampak penyakit tersebut.
Kondisi itu, lanjut Lancur, menunjukkan betapa pentingnya dukungan tenaga kesehatan yang memadai di setiap kloter. Sebab, selain memberikan penanganan medis, petugas kesehatan juga menjadi garda terdepan dalam menjaga stamina dan keselamatan jamaah selama berada di Arab Saudi.
Dalam kesempatan tersebut, Lancur juga menyoroti kondisi beberapa jamaah yang membutuhkan penanganan serius. Salah satunya adalah Sri Rahayu, jamaah asal Pacitan yang hingga waktu kepulangan masih harus menjalani perawatan di rumah sakit di Arab Saudi setelah mengalami penurunan kesadaran sehari sebelum jadwal kepulangan.
Selain itu, seorang jamaah lainnya, Tatik, juga memerlukan penanganan intensif menjelang keberangkatan pulang. Ia harus mendapatkan perawatan di bandara dengan pemasangan infus, bahkan perawatan tersebut tetap dilanjutkan selama perjalanan di dalam pesawat.
“Peristiwa-peristiwa seperti ini menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggaraan haji ke depan. Pemerintah perlu mempertimbangkan penambahan tenaga medis agar pelayanan kesehatan lebih maksimal dan jamaah merasa lebih aman selama menjalankan ibadah,” tegasnya.
Lancur berharap evaluasi tersebut dapat menjadi perhatian para pemangku kebijakan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun mendatang. Dengan dukungan tenaga kesehatan yang lebih memadai, kualitas pelayanan kepada jamaah diharapkan semakin meningkat, sehingga para tamu Allah dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman, sehat, dan khusyuk.
“Keselamatan dan kesehatan jamaah harus menjadi prioritas utama. Karena itu, penambahan petugas medis di setiap kloter menjadi kebutuhan yang sudah saatnya dipertimbangkan secara serius,” pungkasnya.(Red/yun).




