
Jbm.co.id-DENPASAR | Anggota DPD RI Perwakilan Provinsi Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III atau Arya Wedakarna (AWK) menjembatani kolaborasi kemanusiaan antara Indonesia dan India melalui program pemberian 150 kaki palsu gratis bagi penyandang disabilitas.
Kolaborasi melibatkan lembaga kemanusiaan India, Narayan Seva Sansthan dan Yayasan Puspadi Bali melalui kegiatan pengukuran kaki palsu di Annika Linden Centre, Jalan Bakung Nomor 19, Tohpati, Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar, Jumat (9/10/2026).
AWK mengungkapkan, inisiatif tersebut mulai dirintis pada Juli 2026 melalui pertemuan dengan pihak Narayan Seva Sansthan dan Sonia Kaur di kantor DPD RI, Denpasar.
Pada pertemuan tersebut, AWK kemudian mempertemukan Narayan Seva Sansthan dengan Yayasan Puspadi Bali untuk membangun sinergi dalam membantu penyandang disabilitas yang membutuhkan kaki palsu.
“Dari pertemuan tersebut, kami mendampingi dan ternyata tercipta kesepahaman. Ternyata, kami menemukan bahwa daftar antrean warga yang membutuhkan kaki palsu gratis ini sangat banyak,” kata AWK.
Menurut AWK, tingginya kebutuhan masyarakat atas kaki palsu terlihat dari terpenuhi kuota 150 penerima manfaat hanya dalam waktu sekitar satu bulan, setelah melakukan sosialisasi program.
Penerima manfaat berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Lombok dan sejumlah pulau lainnya.
Program tersebut diawali dengan pengukuran pada 9-10 Oktober 2026. Setelah proses pengukuran selesai, kaki palsu akan diproduksi sesuai kebutuhan setiap penerima manfaat dan rencananya diserahkan sekitar Desember 2026.
Para penerima juga akan menjalani proses penyesuaian atau fitment serta mendapatkan pelatihan penggunaan kaki palsu.
AWK menilai program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bentuk kerja sama antarmasyarakat kedua negara yang memberikan manfaat langsung bagi penyandang disabilitas.
“Ini merupakan bentuk kerja sama bilateral yang luar biasa antara Indonesia dan India dalam kerangka G20, sebuah people-to-people connection nyata yang sangat saya dukung,” kata AWK.
Dorong Transfer Teknologi Kaki Palsu
Selain memperluas akses bantuan bagi penyandang disabilitas, AWK menyoroti peluang transfer teknologi pembuatan kaki palsu dari India ke Indonesia.
AWK menilai, pengalaman dan teknologi yang dimiliki Narayan Seva Sansthan dapat menjadi peluang untuk mengembangkan layanan rehabilitasi dan penyediaan alat bantu yang lebih luas di Indonesia.
AWK juga menyoroti penggunaan teknologi kaki palsu dengan material yang lebih ringan dibandingkan sejumlah produk konvensional.
Dalam program tersebut, kaki palsu yang digunakan disebut memiliki bobot sekitar 3-4 kilogram, sedangkan kaki palsu konvensional dapat mencapai sekitar 8-9 kilogram.
AWK berharap, perbedaan bobot tersebut dapat membantu penerima manfaat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman, sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
“Oleh karena itu, kami berharap ilmu fabrikasi artificial limb dari India ini bisa ditularkan ke kita. Kalau memungkinkan, kita berharap beliau bisa membangun klinik, rumah sakit, hingga pabriknya disini,” kata AWK.
Dorongan tersebut membuka peluang agar kerja sama kemanusiaan tidak hanya berorientasi pada penyaluran bantuan, tetapi juga pengembangan kapasitas dalam negeri, termasuk pengetahuan teknis dan layanan pembuatan kaki palsu.
Dengan demikian, AWK berharap Indonesia dapat memperluas akses penyandang disabilitas terhadap alat bantu yang sesuai kebutuhan sekaligus memperkuat kemampuan pelayanan rehabilitas.
Harapan Program Kaki Palsu Berlanjut Setiap Tahun
AWK juga berharap program pemberian kaki palsu gratis dapat dilanjutkan setiap tahun dan menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia.
Salah satu wilayah yang diharapkan dapat menjadi sasaran pengembangan program berikutnya adalah Surabaya.
Keberlanjutan program dinilai penting, mengingat kebutuhan kaki palsu tidak hanya berkaitan dengan mobilitas, tetapi juga kesempatan penyandang disabilitas untuk kembali bekerja, beraktivitas bersama keluarga, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Kolaborasi Narayan Seva Sansthan dan Puspadi Bali juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali.
Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial P3A Provinsi Bali, Ni Putu Yuni Candra Yanti menyebutkan berdasarkan data semester I 2024 terdapat 25.781 penyandang disabilitas di Bali. Dari jumlah tersebut, 11.826 orang atau sekitar 45,8 persen merupakan penyandang disabilitas fisik.
“Tentu kebutuhan setiap orang berbeda-beda, sehingga pemberian alat bantu harus berdasarkan asesmen kebutuhan individu agar tepat guna, aman, dan dapat mendukung kemandirian penerimanya,” kata Candra Yanti.
Disisi lain, Ketua Pembina Yayasan Puspadi Bali, Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., menegaskan bahwa kaki palsu bukan sekadar alat bantu, melainkan sarana untuk membuka kembali kesempatan bergerak, bekerja, dan menjalani kehidupan secara bermartabat.
Melalui kolaborasi tersebut, Wayan Runa berharap kerja sama Indonesia dan India dapat terus berkembang, sehingga semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh akses terhadap alat bantu yang sesuai kebutuhan, sekaligus memiliki kesempatan lebih luas untuk hidup mandiri dan produktif.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Our Religion is Humanity, Sonia Kaur menegaskan program tersebut menjadi wujud nyata dari upaya mewujudkan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.
“Banyak sekali bantuan dari rekan-rekan dan para dermawan yang mengapresiasi acara ini,” kata Sonia Kaur.
Lebih lanjut, Sonia Kaur menjelaskan, proses pengukuran dilaksanakan selama dua hari, yakni 9-10 Oktober 2026. Pada hari pertama, sekitar 80 peserta mengikuti pengukuran, sedangkan 70 peserta lainnya dijadwalkan pada hari berikutnya.
Menurutnya, pengukuran bertujuan untuk memastikan kaki palsu yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima manfaat.
“Jadi, peserta sebanyak 150 datang untuk diukur kakinya. Istilahnya, kaki yang didapatkan nanti sesuai dengan kebutuhan individu,” kata Sonia Kaur.
Setelah proses pengukuran selesai, kaki palsu akan diproduksi dan disiapkan untuk diserahkan sekitar 2,5 hingga 3 bulan kemudian, atau pada Desember 2026. Penerima manfaat nantinya kembali menjalani proses fitment atau penyesuaian, menerima kaki palsu, sekaligus mengikuti pelatihan penggunaannya.
Sonia Kaur juga mengungkapkan, persiapan kaki palsu dalam program tersebut menggunakan teknologi terbaru dengan material yang lebih ringan dibandingkan kaki palsu konvensional.
Menurutnya, kaki palsu konvensional dapat memiliki bobot sekitar 8-9 kilogram, sedangkan produk yang digunakan dalam program ini berbobot sekitar 3-4 kilogram.
“Makanya, ini bisa digunakan mulai dari anak-anak usia 6 tahun dan sifatnya diabetic-friendly sehingga aman,” kata Sonia Kaur.
Kemudian, Sonia Kaur menambahkan, kaki palsu tersebut diperkirakan memiliki masa pakai sekitar 3-4 tahun. Dengan perawatan yang tepat, masa penggunaannya berpotensi lebih lama.
Untuk mendapatkan bantuan ini, calon penerima harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain warga negara Indonesia (WNI) berusia 8-60 tahun, serta telah menjalani amputasi atau operasi akibat kecelakaan lebih dari enam bulan sebelumnya.
Kondisi luka juga harus sudah kering dan calon penerima tidak memiliki kondisi medis berbahaya yang dapat menghambat penggunaan kaki palsu, seperti epilepsi dan sejenisnya.
Sonia Kaur menyebut program ini merupakan kegiatan pembagian kaki palsu gratis yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia melalui kolaborasi tersebut. Setelah Bali, pihaknya membuka peluang untuk memperluas kegiatan ke daerah lain.
“Kebetulan dari pihak Narayan Seva Sansthan Udaipur mempercayakan saya untuk menjalankan misi aksi kemanusiaan ini. Setelah Bali, mungkin kami akan ke daerah-daerah lain. Kami terbuka untuk berkolaborasi demi tujuan kemanusiaan,” terangnya.
Oleh karena itu, Sonia Kaur berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan dukungan para donatur dan berbagai instansi pemerintah. Dukungan tersebut diperlukan agar bantuan dapat diberikan sepenuhnya secara gratis, menggunakan produk baru bukan barang bekas.
“Kami sangat berterima kasih karena pihak Bea Cukai juga sudah kami temui, responsnya sangat positif, dan pastinya akan dibantu untuk proses masuk barangnya nanti,” pungkasnya.
Turut hadir, Anggota DPD RI Perwakilan Provinsi Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III atau Arya Wedakarna (AWK), Kepala Narayan Seva Sansthan YS. Lodha, Ketua Pembina Yayasan Puspadi Bali Prof. Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali Ni Putu Yuni Candra Yanti, perwakilan Imigrasi Denpasar, Kantor Bea Cukai Ngurah Rai serta undangan lainnya.
Hadir pula, Anak Agung Sri Utari Satria Naradha (Ibu Agung Sri Satria Naradha), istri dari tokoh pers nasional sekaligus pemilik Kelompok Media Bali Post (KMB) dan pendiri Bali TV, yaitu Anak Bagus Gde (ABG) Satria Naradha.
Pewarta: Ace Wiguna
Editor: Putu Wiguna




