Kecewa!!! Warga Pubian Portal Jalan Bandar Sari-Payung Rejo Merasa Kena Prank Pertanyakan Janji Bupati Koheri

Jbm.co.id-LAMPUNG TENGAH | Kekecewaan masyarakat Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah atas janji pembangunan infrastruktur jalan semakin memuncak.
Bahkan, Aliansi 7 Kampung nekat melakukan pemortalan akses jalan Bandar Sari-Payung Rejo di Desa Tanjung Rejo, Selasa (27/10/2026).

Aksi tersebut dipicu kekecewaan warga atas realisasi pembangunan jalan yang dinilai tidak sesuai dengan janji Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Tengah dibawah kepemimpinan Bupati I Komang Koheri.
Warga menyebutkan ruas jalan yang sebelumnya dijanjikan untuk diperbaiki adalah Bandar Sari-Payung Rejo.
Namun, realisasi pembangunan justru hanya menyasar ruas Bandar Sari-Mojokerto.
Janji Pembangunan Dinilai Tidak Sesuai
Warga menilai kebijakan pembangunan tersebut tidak mencerminkan pemerataan dan keberpihakan atas kebutuhan masyarakat.
“Ruas Jalan Bandar Sari-Payung Rejo hancur, berlubang, penuh genangan. Kenapa yang dibangun cuma Bandar Sari – Mojokerto yang mulus hotmix? Yang seharusnya dibangun menyeluruh dari Bandar Sari hingga Payung Rejo, tapi yang diperbaiki hanya sampai Mojokerto,” kata warga di lokasi aksi.

Kekecewaan masyarakat bahkan dituangkan melalui poster bertuliskan, “KAMI MASYARAKAT PUBIAN BUKAN PEMAIN POLITIK, KAMI BUTUH JALAN BUKAN JANJI”.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan menyangkut keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat yang selama puluhan tahun menantikan perbaikan jalan.
Debu Truk Tambang Ganggu Kesehatan
Selain kondisi jalan yang rusak parah, aktivitas kendaraan pengangkut material tambang juga menjadi sorotan warga.
Truk bermuatan berat yang melintas setiap hari disebut memperparah kerusakan jalan. Saat musim kemarau, debu yang beterbangan bahkan masuk ke rumah-rumah warga dan menutupi tanaman.
Kondisi tersebut dikeluhkan karena memicu gangguan pernapasan dan gatal-gatal.
“Puluhan tahun jalan lintas Payung Rejo-Bandar Sari rusak. Kami dijanjikan terus tanpa ada realisasi. Kami sudah lelah dengan janji-janji pemerintah,” teriak orator aksi.
Warga juga menyoroti keberadaan sedikitnya tujuh perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut. Aktivitas perusahaan dinilai memberikan dampak lingkungan dan infrastruktur yang digunakan masyarakat.
“Warga menyebutkan 7 perusahaan tambang yang beroperasi cuma mengambil keuntungan dari alam bumi Lampung Tengah, tetapi melupakan dampak lingkungan,” tegas Sanadi, salah satu peserta aksi.
Atas kondisi tersebut, warga menuntut perbaikan jalan secara menyeluruh dengan konstruksi beton sedalam 60 sentimeter melalui pembongkaran dan pengecoran ulang.
Mereka menolak jika penanganan hanya dilakukan melalui tambal sulam yang dinilai tidak akan bertahan lama akibat lalu lintas truk bermuatan berat.
Aliansi 7 Kampung Ancam Portal Permanen
Aliansi 7 Kampung yang terdiri dari Bandar Sari, Sangun Ratu, Tanjung Rejo, Tanjung Kemala, Payung Rejo, Mojokerto, dan Gunung Haji menyatakan akan mempertahankan aksi pemortalan hingga tuntutan pembangunan jalan mendapat kepastian.
“Jalan ini mau dibangun atau tidak dibangun, kami akan tetap pasang portal. Jangan biarkan aspirasi masyarakat Pubian hanya menjadi catatan di atas kertas,” tegas warga.
Warga juga telah menyepakati skema pemortalan lanjutan. Apabila pembangunan dimulai dari Sangun Ratu, portal akan dipasang di Tanjung Rejo dan Tanjung Kemala.
Namun, jika tidak ada pembangunan sama sekali, portal permanen akan dipasang di Bandar Sari.
“Aksi ini adalah peringatan keras agar Pemda Lampung Tengah kembali berpihak kepada rakyatnya, bukan kepada kepentingan oligarki,” kata warga dalam aksi tersebut.
Masyarakat berharap Pemkab Lampung Tengah segera memberikan kepastian dan merealisasikan pembangunan ruas jalan Bandar Sari-Payung Rejo. Mereka menegaskan tidak lagi membutuhkan janji, melainkan bukti nyata pembangunan yang dapat dirasakan langsung.
Pewarta: Ranu Sugito
Editor: Putu Wiguna




