BaliBeritaDaerahDenpasarInternasionalOlahraga

Ambisi Argentina Patahkan “Hattrick Kutukan”: Juara Bertahan dan Peringkat 1 FIFA Hingga 64 Tahun Back to Back

Jbm.co.id-DENPASAR |  Piala Dunia 2026 edisi ke-23 menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola Dunia. Bahkan, ekspansi jumlah peserta membengkak menjadi 48 tim.

Tak hanya itu, total laga melonjak dari 64 pertandingan menjadi 104 laga yang dimainkan selama 39 hari.

Menariknya, tiga negara Amerika Utara bertindak sebagai tuan rumah sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Mengingat luasnya bentang geografis wilayah Amerika Utara, FIFA membagi wilayah pertandingan ke dalam klaster regional meliputi Pantai Timur, Tengah dan Pantai Barat.

Pertandingan tersebar di 16 kota raksasa di Amerika Utara, dengan rincian 11 kota di AS dan 3 kota di Meksiko serta 2 kota di Kanada.

Turnamen ini meluncurkan tiga maskot yang mewakili keunikan tiap negara, yaitu Maple (rusa besar/berang-berang khas Kanada), Zayu (jaguar berwarna cerah khas Meksiko), dan Clutch (elang botak gagah khas AS).

Sementara itu, Bola Resmi bernama “Trionda” diproduksi oleh Adidas, nama Trionda diambil dari gabungan kata “Tri” (tiga tuan rumah) dan “Onda” (gelombang dalam bahasa Spanyol) dengan corak warna khas ketiga negara.

Juara Bertahan Argentina 2022

Sebelumnya, Juara Piala Dunia 2022 edisi ke-22 di Qatar adalah tim nasional Argentina yang berhasil merengkuh gelar juara dunia untuk ketiga kalinya.

Argentina menekuk Perancis dalam drama adu penalti 4-2 setelah laga berjalan lewat perpanjangan waktu 3-3.

Turnamen final di Stadion Lusail, 18 Desember 2022 ini menyajikan salah satu laga final paling dramatis sepanjang sejarah sepak bola dunia.

Argentina menatap Piala Dunia 2026 dengan masih mempertahankan mayoritas wajah lama yang menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar.

Pelatih Lionel Scaloni menerapkan strategi keberlanjutan tim dengan mempertahankan sekitar 17 pemain alumnus Qatar 2022 ke dalam daftar final 26 pemain, sambil menyuntikkan darah muda baru.

Para tulang punggung tim utama saat mengangkat trofi di Qatar masih menjadi andalan utama di Piala Dunia 2026.

Lini Depan masih mempertahanka Lionel Messi memimpin tim Albiceleste sebagai kapten di Piala Dunia keenamnya, didampingi oleh Julián Álvarez dan Lautaro Martínez.

Lini Tengah masih mengandalkan Trio Dinamis Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister dan Enzo Fernández sebagai motor permainan.

Lini Belakang dan Kiper tetap mengandalkan Bek Veteran Nicolás Otamendi dan Cristian Romero mengawal pertahanan, dengan Emiliano “Dibu” Martínez yang kokoh dibawah mistar gawang.

Untuk menjaga kedalaman skuad, Scaloni memasukkan beberapa talenta muda berbakat yang absen di Qatar.

Nico Paz: Gelandang muda yang bersinar di Serie A bersama Como.

Valentin Barco: Bek sayap kidal potensial milik Chelsea (yang dipinjamkan ke Strasbourg).

Jose Manuel Lopez: Penyerang tajam yang merumput bersama Palmeiras.

Giuliano Simeone: Penyerang sayap energik asal Atletico Madrid.

Secara taktik, Argentina 2026 dinilai versi lebih matang dari pondasi juara 2022, namun dengan variasi serangan baru untuk menutupi lubang yang ditinggalkan oleh pensiunan Di Maria.

Meski demikian, Argentina menghadapi kutukan Juara Bertahan di Piala Dunia sebagai mitos sepak bola modern.

Mitos ini merilis negara yang datang sebagai Juara Bertahan seringkali gagal total dan langsung tersingkir di fase grup pada edisi berikutnya.

Fenomena takhayul ini menjadi momok menakutkan, karena sempat menelan korban lima tim raksasa dunia.

Daftar Korban “Kutukan Juara Bertahan”

Sejak memasuki abad ke-21, hampir seluruh juara bertahan asal Eropa mendadak hancur di fase grup.

Perancis (2002): Datang sebagai Juara Bertahan Piala Dunia 1998, Prancis langsung angkat koper di fase grup setelah menempati posisi juru kunci tanpa mencetak satu gol.

Italia (2010): Setelah mengangkat trofi pada edisi 2006, Italia finis di peringkat terbawah fase grup 2010 di bawah Paraguay, Selandia Baru, dan Slovakia.

Spanyol (2014): Berstatus sebagai penguasa sepak bola setelah menjuarai Piala Dunia 2010, Spanyol hancur lebur di fase grup 2014 setelah dibantai Belanda 1-5 dan kalah dari Chili.

Jerman (2018): Juara Bertahan edisi 2014 ini secara mengejutkan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018 setelah menelan kekalahan memalukan 0-2 dari Korea Selatan di laga penentu.

Back to Back Juara Bertahan

Hingga Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung saat ini, hanya ada dua negara di bumi yang mampu mempertahankan mahkota juara dunia mereka secara beruntun.

Italia: Juara pada edisi 1934 dan sukses mempertahankan gelar di edisi 1938.

Brasil: Juara Bertahan pada edisi 1958 (bersama Pele muda) dan berhasil juara kembali pada edisi 1962.

Dalam sejarah 96 tahun Piala Dunia, rekor juara berturut-turut (Back to Back) belum pernah tercipta lagi selama 64 tahun terakhir, sejak terakhir kali diraih oleh Brasil pada edisi 1962.

Mitos Kutukan mulai coba dipatahkan Tim Tango, Argentina. Berstatus sebagai Juara Bertahan edisi 2022, Argentina langsung menepis kekhawatiran publik dengan meraih kemenangan di fase grup. Bahkan, Argentina sukses menekuk Aljazair 3-0 dan Austria 2-0 hingga meraih menjuarai Grup J.

Argentina mulai membuktikan bahwa regenerasi skuad yang dilakukan Lionel Scaloni berjalan sangat efektif.

64 Tahun Back to Back Juara Bertahan 

Mencuatnya narasi 64 tahun ini ke permukaan publik, karena Argentina datang ke Piala Dunia 2026 sebagai juara bertahan edisi 2022.

Setelah mereka dipastikan aman lolos dari fase grup, tim asuhan Lionel Scaloni kini mengemban misi sakral untuk menyamai tinta emas legendaris Brazil.

Jika Lionel Messi dan kawan-kawan berhasil mengangkat trofi di Amerika Utara pada Juli 2026 mendatang, maka Argentina akan menjadi tim pertama yang menghancurkan puasa gelar Back to Back dunia yang telah terkunci rapat sejak tahun 1962.

Selama rentang lebih dari enam dekade, ada beberapa negara yang nyaris memutus kutukan ini namun berakhir tragis di partai puncak, seperti Argentina juara 1986, tapi apes di partai final 1990, Albiceleste kalah 0-1 dari Jerman. Demikian pula, Brazil juara bertahan 1994, tapi dilumat habis 0-3 oleh Perancis di partai final 1998.

Namun, Perancis menjadi tim paling apes di era modern. Lewat hattrick Kylian Mbappepada final dramatis di Qatar empat tahun lalu, mereka sudah menapakkan satu kaki untuk memutus sejarah 60 tahun kala itu, sebelum akhirnya dipatahkan oleh Argentina melalui drama adu penalti.

Kutukan Peringkat 1 FIFA 

Kutukan mengacu pada mitos nyata bahwa tidak ada satu pun tim nasional yang menempati Peringkat 1 Dunia menjelang Piala Dunia berhasil keluar sebagai juara turnamen tersebut.

Mitos historis ini kembali menjadi sorotan utama, karena timnas Argentina resmi memasuki Piala Dunia 2026 dengan menyandang status peringkat 1 FIFA.

Sejak sistem peringkat resmi FIFA diperkenalkan pada tahun 1992, setiap negara yang menduduki takhta nomor satu dunia, sesaat sebelum sepak mula Piala Dunia selalu bernasib buruk atau gagal mengangkat trofi.

Fakta ini sebagai pertanda buruk dalam sejarah turnamen akbar sepakbola dunia. Rekam jejak kegagalan para penguasa ranking 1 FIFA di Piala Dunia sebagai berikut:

Piala Dunia 1994: Jerman (Peringkat 1) tumbang di perempat final oleh Bulgaria. Juara: Brasil.

Piala Dunia 1998: Brasil (Peringkat 1) kalah dari Prancis di laga final. Juara: Prancis.

Piala Dunia 2002: Prancis (Peringkat 1) secara mengejutkan langsung hancur dan gugur di fase grup tanpa mencetak satu gol. Juara: Brasil.

Piala Dunia 2006: Brasil (Peringkat 1) disingkirkan oleh Prancis di babak perempat final. Juara: Italia.

Piala Dunia 2010: Brasil (Peringkat 1) kembali terhenti di perempat final setelah dikalahkan Belanda. Juara: Spanyol.

Piala Dunia 2014: Spanyol (Peringkat 1) datang sebagai juara bertahan namun langsung tersingkir secara tragis di fase grup. Juara: Jerman.

Piala Dunia 2018: Jerman (Peringkat 1) mengalami nasib serupa dengan Spanyol, tersingkir di fase grup setelah kalah dari Korea Selatan. Juara: Perancis.

Piala Dunia 2022: Brasil (Peringkat 1) kembali diunggulkan namun langkahnya dijegal oleh Kroasia di babak delapan besar. Juara: Argentina.

Argentina berstatus sebagai juara bertahan berhasil merebut posisi puncak ranking FIFA dari Perancis tepat sebelum turnamen Piala Dunia 2026. Hal tersebut dipicu kekalahan Perancis atas Pantai Gading di laga uji coba.

Kondisi ini membuat Lionel Messi dan kawan-kawan memikul beban ganda, untuk mempertahankan gelar juara, sekaligus mematahkan mitos buruk yang sudah bertahan selama lebih dari 30 tahun.

Piala Dunia 2026: Argentina Juara Grup J Potensi Patahkan Kutukan

Pada Piala Dunia 2026, Argentina sebagai juara grup J di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bertemu Tanjung Verde (Cabo Verde). Pertandingan ini akan digelar di Stadion Hard Rock, Miami, Jumat, 3 Juli 2026 mendatang.

Argentina berhak melaju ke fase gugur setelah keluar sebagai Juara Grup J dengan rekor gemilang di fase grup, dipimpin oleh kapten Lionel Messi. Sementara itu, tim kejutan Tanjung Verde lolos setelah finis sebagai runner-up di Grup H dibawah Spanyol, menyingkirkan tim kuat seperti Uruguay dan Arab Saudi.

Mengacu pada struktur bagan (bracket) resmi FIFA, jika lolos dari hadangan Tanjung Verde, Tim Tango di babak 16 besar diproyeksikan akan bertemu pemenang laga antara Australia vs Mesir, atau berhadapan dengan Swiss. Secara historis dan kedalaman skuad, Argentina diprediksi mampu melewati fase ini.

Di babak perempat final, potensi laga blockbuster terbesar abad ini berpeluang tercipta.

Jika terus menang, Argentina diprediksi akan menantang Portugal (pemenang Grup K yang dihuni Cristiano Ronaldo). Skenario alternatif lain di jalur bagan ini, Argentina berpotensi menghadapi tim kuat Amerika Selatan, seperti Kolombia.

Ujian sesungguhnya bagi misi Back to Back juara dunia Argentina akan tersaji di semifinal. Berdasarkan penempatan bagan sisi kanan atas, lawan paling logis bagi tim asuhan Lionel Scaloni di fase ini adalah rival abadi mereka, Brazil atau raksasa Eropa, Inggris

Jika berhasil menembus partai puncak final berpotensi mengulang final 2022 berhadapan dengan finalis 2022 Perancis.

Alternatif lainnya, Argentina berpeluang melawan tim terkuat lainnya, yang akan menunggu dari jalur bagan sebelah kiri, yaitu juara Eropa Spanyol.

Final Piala Dunia 2026 akan diselenggarakan di Stadion MetLife, New York/New Jersey pada 19 Juli 2026 mendatang.

Bagan babak gugur Piala Dunia selalu berpotensi menghadirkan tim kuda hitam yang membuat kejutan tak terduga dalam perhelatan Piala Dunia 2026 semacam tim Maroko, Mexico hingga Jepang.

Meski demikian, peluang Argentina terbuka sangatlah lebar untuk mematahkan Kutukan Juara Bertahan dan Kutukan Peringkat 1 FIFA, sekaligus mencetak sejarah Back to Back setelah 64 tahun.

Hal tersebut dibuktikan, setelah Argentina melaju mulus ke fase gugur Piala Dunia 2026. Sebagai Juara Grup J, tim asuhan Lionel Scaloni telah mematahkan pola buruk para juara bertahan abad ke-21 yang biasanya langsung kandas di awal turnamen.

Generasi emas Argentina di era modern dinilai memiliki segalanya untuk menyamai rekor legendaris Brazil tahun 1962.

Tidak seperti Perancis 2002 atau Spanyol 2014 yang hancur, karena generasi emas mereka menua bersama, Argentina melakukan transisi yang sangat rapi.

Kerangka tim juara Qatar 2022,seperti Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Julian Alvarez dan Rodrigo De Paul justru sedang berada di usia emas karier mereka (25-32 tahun). Ditambah rasa lapar dari darah muda baru, seperti Nico Paz berhasil menghindari kejenuhan taktik.

Beban psikologis Lionel Messi sebagai pemimpin sudah lepas sejak mengangkat trofi di Lusail dua edisi lalu di Qatar 2022.

Di Piala Dunia 2026 ini, Messi bermain dengan kenyamanan penuh untuk menikmati turnamen terakhirnya, namun tetap mempertahankan ketajaman luar biasa. Hal tersebut terbukti dengan catatan 3 golnya di fase grup saat menumbangkan Aljazair dan 2 gol menekuk Austria.

Ditambah lagi, ekspansi format menjadi 48 tim dengan babak gugur yang dimulai dari 32 besar memberikan keuntungan tersendiri bagi tim dengan kedalaman skuad mewah seperti Argentina.

Bahkan, di babak 32 besar nanti, mereka “hanya” akan menghadapi tim kejutan Tanjung Verde. Diatas kertas, kualitas individu dan pengalaman mental juara yang dimiliki Argentina jauh lebih unggul untuk melewati hadangan awal fase gugur ini.

Langkah awal memecahkan kutukan sudah berhasil dilewati oleh Scaloni. Kini, dunia tinggal menunggu apakah takdir akan membawa Albiceleste melangkah 6 babak lagi menuju MetLife Stadium di partai final, untuk mengunci status Argentina sebagai salah satu tim terhebat sepanjang masa. (berbagai sumber/ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button