Prof Bakta Sebut Gagasan Prof Bagus Terbukti Mendunia Pionir Baliologi Dorong Pusat Kajian Budaya Bali Berbasis Kearifan Lokal

Jbm.co.id-DENPASAR | Rektor Universitas Bali Internasional (UNBI), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM., menegaskan pentingnya menjaga sekaligus mengembangkan Kebudayaan Bali melalui kajian ilmiah yang berlandaskan konsep Baliologi.
Menurutnya, gagasan yang dirintis Prof. I Gusti Ngurah Bagus telah menjadi pondasi penting dalam menjaga jati diri Bali ditengah perubahan zaman.
Pernyataan tersebut disampaikan Rektor Universitas Bali Internasional (UNBI), Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD-KHOM., di Denpasar, Jumat, 17 Juli 2026.
Prof Bakta menilai Prof. I Gusti Ngurah Bagus merupakan sosok pelopor yang berhasil meletakkan dasar pengembangan Pusat Kajian Budaya Bali di Universitas Udayana.
Prof. Bakta mengungkapkan, ketika masih menjadi mahasiswa, pemikiran Prof. Bagus kerap sulit dipahami karena dinilai jauh melampaui zamannya.
Namun, seiring perjalanan waktu, Prof Bakta menyadari bahwa konsep yang dibangun tersebut menjadi pijakan penting bagi pengembangan kajian budaya Bali.
“Bagi saya sebagai seorang Keluarga Besar Universitas Udayana (Unud) bahwa Pusat Kajian Budaya Bali sebagai intinya Udayana,” kata Prof Bakta.
Menurutnya, Universitas Udayana perlu terus memperkuat Kajian Budaya Bali agar mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Kajian tersebut dinilai menjadi ruang untuk menjaga nilai-nilai dasar yang menjadi roh kebudayaan Bali.
Prof Bakta menekankan bahwa pelestarian budaya tidak berarti mempertahankan sesuatu secara statis. Kebudayaan harus mampu berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan nilai-nilai utama yang menjadi identitas Bali.
Prof. Bakta juga mengingatkan bahwa tantangan modern seperti materialisme dan individualisme dapat menggerus nilai budaya apabila tidak diimbangi dengan penguatan karakter berbasis kearifan lokal.
“Banyak sekali tarikan-tarikan kearah materialisme dan sebagainya serta individualisme yang makin mendalam terkadang menyebabkan hal-hal yang negatif,” kata Prof Bakta.
Selain itu, Prof Bakta berharap para akademisi dan peneliti yang mendalami kebudayaan Bali dapat melanjutkan perjuangan yang telah dirintis Prof. I Gusti Ngurah Bagus agar warisan intelektual tersebut terus berkembang.
Prof. Bakta juga menyoroti kiprah Prof. Bagus dalam membangun jejaring internasional dengan para peneliti budaya Bali dari berbagai negara.
 Menurutnya, karya-karya ilmiah yang ditinggalkan menjadi referensi penting dalam pengembangan studi Bali di tingkat global.
“Buku-buku yang Beliau karang dan sebagainya itu mari kita kembangkan lagi. Saya kira Pusat Kajian Budaya Bali di Unud harus terus dipertahankan,” kata Prof Bakta.
Prof Bakta turut mengapresiasi capaian Majalah Kajian Bali yang kini telah meraih peringkat Scopus Q1. Baginya, prestasi tersebut membuktikan bahwa gagasan Prof. Bagus mengenai pengembangan pusat kajian budaya Bali telah diakui secara internasional.
Prof. Bakta juga memberikan penghargaan kepada Prof. Darma Putra yang dinilai berhasil meneruskan pengembangan Pusat Kajian Budaya Bali serta menjaga kualitas publikasi ilmiah hingga mampu bersaing di tingkat dunia.
“Saya salut kok hebat sekali, itu Majalah Kedokteran kita yang biayanya tinggi itu Q4 paling banyak, Kedokteran punya 2 Q4. Kok Sastra bisa Q1, karena editornya semua murid-muridnya Prof Bagus,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Bakta menegaskan bahwa Kebudayaan Bali harus mampu bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan global. Namun, proses perubahan tersebut tidak boleh menghilangkan nilai dasar yang menjadi identitas masyarakat Bali.
Menurutnya, agama Hindu dan kearifan lokal merupakan inti dari roh Kebudayaan Bali yang harus tetap dijaga sebagai landasan menghadapi tantangan masa depan.
“Itu intinya kita pegang sehingga itu bisa memberikan kepada kita. boleh berubah tapi perubahan itu harus tidak boleh tercerabut dari akar-akar kita,” pungkasnya. (ace).



