Belajar dari Alam, Menghidupi Keluarga: Kisah Maun, Montir Otodidak yang Tak Pernah Menyerah Demi Bertahan Ditengah Kerasnya Kehidupan
"Di sebuah bengkel tambal ban sederhana di sisi timur Pendopo Kabupaten Pacitan, pria berusia paruh baya itu menghabiskan hari-harinya"

Pacitan,JBM.co.id-Sebelum tangan-tangan terampil lulusan sekolah teknik menyentuh mesin, ada tangan sederhana yang lebih dulu ditempa oleh kerasnya kehidupan. Tangan itu milik Maryanto, atau yang lebih akrab disapa Maun.
Di sebuah bengkel tambal ban sederhana di sisi timur Pendopo Kabupaten Pacitan, pria berusia paruh baya itu menghabiskan hari-harinya. Dengan wajah yang ramah dan tangan yang mulai dipenuhi bekas oli serta usia, Maun menyambut setiap pengendara yang datang. Ban bocor, mesin mogok, hingga peralatan elektronik yang rusak, semuanya ia hadapi dengan ketenangan seorang yang telah lama bersahabat dengan persoalan.
Siapa sangka, kemampuan itu bukan diperoleh dari bangku sekolah teknik atau kursus mekanik. Maun hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar.
Namun keterbatasan pendidikan formal tak pernah membatasi semangatnya untuk belajar. Kehidupanlah yang menjadi ruang kelasnya, sedangkan pengalaman menjadi guru terbaik yang membentuk keahliannya.
“Saya hanya lulusan SD. Jadi kalau sekarang kerja serabutan, entah tambal ban, perbengkelan sampai urusan jaringan listrik, semua karena belajar dari alam. Saya tidak pernah sekolah mekanik,” tuturnya saat ditemui di bengkelnya, Ahad (28/6/2026).
Lahir di Gemblegan Solo, Maun telah merantau ke Pacitan hampir 26 tahun silam. Bersama istri dan ketiga anaknya, ia membangun kehidupan dari nol hingga akhirnya menetap dan menjadi bagian dari masyarakat Pacitan.
Setiap hari, roda kehidupan berputar bersama roda-roda kendaraan yang ia perbaiki. Awalnya ia dikenal sebagai tukang tambal ban. Namun seiring waktu, keahliannya berkembang. Mesin sepeda motor yang bermasalah, instalasi listrik, bahkan peralatan elektronik rumah tangga yang rusak pun mampu ia tangani secara otodidak.
Baginya, setiap kerusakan adalah pelajaran baru. Setiap kesulitan adalah kesempatan untuk belajar.
“Memang saya fokus di bengkel tambal ban. Tapi kalau ada yang minta tolong memperbaiki mesin motor atau elektronik yang rusak, Alhamdulillah bisa saya bantu,” katanya dengan senyum sederhana.
Tak ada sertifikat yang menghiasi dinding bengkelnya. Tak ada gelar yang melekat di belakang namanya. Yang ada hanyalah kepercayaan pelanggan yang terus berdatangan selama puluhan tahun. Sebuah bukti bahwa kompetensi tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari ketekunan, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar.
Dari bengkel kecil itulah Maun menafkahi keluarganya. Sementara sang istri, Sri, membantu menopang ekonomi rumah tangga dengan membuka warung makan sederhana.
Penghasilan mereka memang jauh dari kata mewah. Namun bagi Maun, kebahagiaan memiliki ukuran yang berbeda.
“Ya Alhamdulillah, Mas… yang penting dapur bisa ngebul,” ucapnya lirih.
Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Sebab di baliknya tersimpan perjuangan panjang seorang ayah yang memilih bekerja keras daripada mengeluhkan keadaan.
Kisah Maun mengajarkan bahwa pendidikan memang sangat penting dan patut diperjuangkan. Namun ketika kesempatan belajar formal begitu terbatas, semangat untuk terus belajar tidak boleh ikut padam. Alam, pengalaman, dan kemauan untuk mencoba sering kali menjadi sekolah terbaik bagi mereka yang pantang menyerah.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja, sosok seperti Maun menjadi pengingat bahwa nilai seseorang tidak semata ditentukan oleh ijazah, melainkan juga oleh integritas, ketekunan, serta kemauan untuk terus mengasah kemampuan.
Karena pada akhirnya, ilmu bukan hanya diperoleh dari ruang kelas. Ada ilmu yang lahir dari peluh, dari kegigihan, dan dari keyakinan bahwa setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk belajar selama masih mau berusaha.(Red/yun).




