Mas Aji: Nada Cinta yang Tak Pernah Berlalu untuk Pacitan
"Di balik judul lagu yang mengisahkan cinta yang pergi, tersimpan pesan kehidupan yang justru meneguhkan, bahwa cinta sejati tidak selalu tentang kepemilikan, melainkan tentang ketulusan untuk tetap memberi"

Pacitan,JBM.co.id-Musik memiliki cara yang lembut namun kuat untuk menyentuh hati manusia. Pada Sabtu malam (7/2/2026), alunan lagu legendaris Cintamu Telah Berlalu karya Koes Plus menjadi medium refleksi kebersamaan dalam live concert Koes Plus di Museum dan Galeri SBY–Ani, Pacitan. Lagu itu dilantunkan langsung oleh Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, dengan suara khas yang sarat rasa dan makna.
Di balik judul lagu yang mengisahkan cinta yang pergi, tersimpan pesan kehidupan yang justru meneguhkan, bahwa cinta sejati tidak selalu tentang kepemilikan, melainkan tentang ketulusan untuk tetap memberi. Hal itulah yang tercermin dari penampilan sang Bupati, yang memaknai lagu tersebut bukan sebagai perpisahan, melainkan pengingat akan komitmen untuk terus hadir dan mengabdi.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pacitan, Luthfi Azza Azizah, menuturkan bahwa pesan lagu tersebut tidak dimaknai secara harfiah.
“Meski lagu ini bercerita tentang cinta yang berlalu, kecintaan Pak Bupati kepada masyarakat Pacitan tidak pernah pudar. Justru menjadi energi untuk terus membangun dan menghadirkan kebahagiaan serta kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.
Konser tersebut menjadi ruang edukatif yang menyejukkan, terutama bagi generasi muda. Musik lama yang sarat nilai diperkenalkan kembali sebagai warisan budaya yang tidak lekang oleh waktu. Lagu-lagu Koes Plus mengajarkan tentang kesederhanaan, kejujuran perasaan, dan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Kehadiran Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), serta keluarga besar musisi legendaris Yok Koeswoyo, menambah makna historis dan emosional dalam acara tersebut. Museum dan Galeri SBY–Ani malam itu bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan tempat bertemunya kenangan, nilai, dan harapan.
Lebih dari sebuah konser, malam itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan melalui kebijakan, tetapi juga lewat sentuhan budaya dan empati. Seperti lagu yang dinyanyikan, cinta boleh saja berlalu dalam kisah, namun bagi Pacitan, cinta itu tetap hidup, mengalun dalam kerja, pengabdian, dan kebersamaan.(Red/yun).



