JBM.co.id, Klungkung – Salah seorang pengurus pura Bukit Buluh, I Ketut Budiarta menyampaikan apresiasi positif atas gerakan ngayah bersama berupa “aksi bersih-bersih” paguyuban Werddha Lalita di areal pura, yang terletak di desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Minggu, 7 Maret 2021.

Walau anggotanya, rata-rata berusia uzur diatas 50 tahun, namun, semangatnya patut diacungi jempol. Bahkan, beberapa anggotanya, yang mantan pensiunan danramil dan kepolisian pernah dilihatnya, saat berolahraga di lapangan puputan Klungkung, ” ungkap I Ketut Budiarta, yang juga menjabat sebagai perbekel Gunaksa.

Kami bangga atas jiwa muda para orang tua yang masih memiliki kesibukan di masa tuanya, yang mungkin saja saat masa produktif di lingkungan kerjanya tidak banyak memiliki waktu utk melaksanakan aksi sosial.

Hal ini juga sebagai salah satu strategi pengurus paguyuban Werddha Lalita untuk mempererat rasa persaudaraan, selain meningkatkan imun tubuh lewat olahraga “ujarnya.

Sebagai pengurus pura Bukit Buluh, I Ketut Budiarta berharap, agar kedepannya, paguyuban Werddha Lalita tidak hanya sebatas memperhatikan unsur lingkungan dan parhyangan saja, akan tetapi juga bisa mengarah ke agenda kemanusiaan serta agenda sosial lainnya.

Baca Juga :  Taksu Pura Bukit Buluh Mulai Terpancar Setelah Sempat Habis di Lalap Api

Selain itu, juga patut diresmikan atau dipatenkan sebagai organisasi berbadan hukum, agar tetap eksis kedepannya.

Sementara, pendiri sekaligus Ketua Werddha Lalita, Ida Bagus Komang Arnaya mengatakan, bahwa awal terbentuknya komunitas paguyuban Werddha Lalita berkat kesamaan hobi atau istilah bali-nya “sekeha demen” dalam berolahraga di lapangan puputan Klungkung.

Dijelaskannya, dari saling bertegur sapa, satu dengan yang lainnya, akhirnya disanalah muncul ide membentuk paguyuban dan awalnya tercetus konsep nama oleh pak Ketut Suta dari Sampalan, Klungkung yang selanjutnya didiskusikan dengan beberapa orang anggotanya di grup WA dan secara spontan diberi nama “Lolita”.

Lama-kelamaan, ternyata, jumlah anggotanya bertambah lagi hingga mencapai diatas 30 orang, selanjutnya dirajut terus komunikasinya, akhirnya berubah nama menjadi “Werddha Lalita,” jelasnya.

Menurutnya, Werddha Lalita berasal dari bahasa Kawi, yang artinya para tetua atau lingsir-lingsir, yang berusia diatas 50 tahun, yang mencari kesenangan saat waktu luang lewat berolahraga dan juga “ngerereh pasuwitran” ,”imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Mahayastra Serahkan Bantuan Kursi Roda

Rata-rata keanggotaannya tidak mengikat, siapapun yang berminat gabung menjadi anggota paguyuban “Werddha Lalita” diterima. Yang utama, ya satu hobi, berolahraga,” ungkapnya.

Saat ini, keanggotaannya berasal dari pensiunan PNS, guru, dosen, kepolisian, danramil dan bahkan ada masih berprofesi sebagai dokter. Walau berbeda profesi dan pensiunan, akan tetapi, terus kami pupuk komunikasi dan sebagai ajang silahturahmi.

Bahkan, saat ada anggota kami yang sakit, ya kami tengok. Juga kami melayat ke rumah salah seorang pencetus kami, Bapak Wayan Widya yang meninggal dunia, akibat terkena musibah, agar tetap terjalin rasa kekeluargaan, “ujar Ketua Werddha Lalita, Ida Bagus Komang Arnaya.

Ditanya agenda program kerja sebelumnya, Kakiang Surya begitu sapaannya dari griya Gede Kediri Pekandelan, Klungkung, menjelaskan, bahwa program kerja paguyuban Werddha Lalita telah berjalan setahun lalu, karena komunitas ini terbentuk tahun 2020, yang agenda utamanya berupa jalan sehat di areal lapangan puputan Klungkung, selanjutnya sebulan sekali, jalan sehat menyusuri pantai hingga ke areal Gianyar, bahkan pernah tembus ke daerah Karangasem hingga Yeh Malet.

Baca Juga :  TINGKATKAN OPTIMALISASI DATA, BULELENG BENTUK PUSKESOS DAN SLRT

Sekali-kali, naik ke gunung. Ya kita sebut program kita dengan sebutan “Nyegara Gunung”. Karena ada program jalan-jalan menyusuri pantai dan juga jalan-jalan mendaki gunung, sambil melakukan aksi bersih-bersih, termasuk agenda kali ini, ke pura Bukit Buluh, yang diikuti dengan kegiatan mereresik atau aksi bersih-bersih.

Sebelumnya juga telah dilakukan aksi mendaki sambil mereresik ke Bukit Tengah dan ke Bukit Abas di areal Dawan, Klungkung. Agenda kegiatannya selang-seling, pantai hingga naik gunung, makanya disebut nyegara gunung”jelasnya.

Ke depannya, paguyuban Werddha Lalita bisa menjadi ajang menjalin rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Alangkah baiknya diikat dalam struktur organisasi resmi dan berbadan hukum,” pungkasnya. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here