BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSosial

Tak Perlu “Berburu” Lailatul Qadar: KH Mahmud Jelaskan Pesan Tenang Gus Baha tentang Konsistensi Ibadah

"Dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar bukan tanpa hikmah"

Pacitan,JBM.co.id- Fenomena “berburu” Lailatul Qadar kerap mewarnai sepuluh malam terakhir Ramadhan. Masjid mendadak penuh, doa dipanjatkan lebih panjang, dan sebagian umat menanti tanda-tanda dramatis dari langit. Namun, Pendakwah KH Mahmud menyampaikan pandangan yang lebih teduh, mengulas pesan yang kerap disampaikan oleh Gus Baha: Lailatul Qadar bukan soal sensasi, melainkan efek dari konsistensi ibadah.

Menurut KH Mahmud, banyak orang membayangkan Lailatul Qadar sebagai malam penuh keajaiban visual, cahaya turun dari langit atau mimpi-mimpi ganjil. Padahal, bisa jadi seseorang “bertemu” Lailatul Qadar tanpa peristiwa dramatis apa pun. Tanda-tandanya justru sederhana: hidup yang pelan-pelan menjadi lebih jernih, ibadah yang stabil, hati yang lebih lembut, dan lisan yang semakin terjaga.

“Lailatul Qadar itu efek, bukan sensasi,” demikian kutipan yang dinisbatkan kepada Gus Baha, sebagaimana disampaikan kembali oleh KH Mahmud, Sabtu (28/2/2026).

Di tengah budaya yang menggemari momen viral dan kejadian luar biasa, pandangan ini terasa sunyi. Umat cenderung tertarik pada malam yang dianggap ajaib, ketimbang proses panjang yang tampak biasa. Padahal, Ramadhan sejatinya adalah madrasah kesabaran: menahan lapar yang sama setiap hari, mengulang doa-doa yang serupa, serta menjalani ibadah rutin tanpa gemuruh.

KH Mahmud menjelaskan, dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar bukan tanpa hikmah. Gus Baha kerap menegaskan bahwa kerahasiaan itu bertujuan agar manusia istiqamah, bukan panik memburu satu malam tertentu.

“Kalau Allah sebut tanggalnya, orang ibadahnya cuma semalam. Karena dirahasiakan, kamu jadi rajin sebulan,” begitu penjelasan yang sering disampaikan Gus Baha.

Logika ini, lanjut KH Mahmud, memindahkan fokus dari pencarian sensasi menuju konsistensi. Lailatul Qadar bukan teka-teki langit yang harus dipecahkan, melainkan metode pendidikan ilahi agar hamba menjaga kualitas ibadah sepanjang bulan.

Pandangan tersebut selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam berbagai hadis sahih:

“Siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya.”

Hadis ini menegaskan bahwa ganjaran besar tidak semata dikaitkan dengan satu malam, melainkan dengan kesungguhan menjalani seluruh Ramadhan atas dasar iman dan harapan pahala.

KH Mahmud menutup ulasannya dengan pesan reflektif: barangkali Lailatul Qadar bukan malam yang diburu, melainkan keadaan yang ditumbuhkan. Bukan sesuatu yang dicari di langit, tetapi dipersiapkan di dalam hati. Jika seorang hamba sungguh-sungguh menjaga hubungannya dengan Allah selama sebulan penuh, maka mustahil ia “terlewatkan” dari kemuliaan malam tersebut.

Di tengah semarak ibadah sepuluh malam terakhir, pesan ini menjadi pengingat bahwa yang terpenting bukanlah menemukan satu malam misterius, melainkan memastikan seluruh Ramadhan dijalani dengan iman, harap, dan istiqamah.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button