BaliBeritaDaerahPemerintahanPendidikan

Seniasih Giri Prasta Soroti Kekerasan Anak dan Pentingnya Ikatan Emosional Keluarga

Jbm.co.id-BULELENG | Ketua Forum PUSPA Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, menyoroti tingginya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Buleleng.

Hal itu disampaikan Ketua Forum PUSPA Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Kabupaten Layak Anak (KLA) di Kantor Bupati Buleleng, Selasa, 31 Maret 2026.

Menurutnya, kekerasan terhadap anak tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat berbentuk verbal dan perlakuan yang menyakitkan secara emosional.

“Kekerasan yang dimaksud bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan verbal dan bentuk lainnya. Berbicara dengan nada tinggi atau membentak anak juga merupakan bentuk kekerasan,” jelasnya.

Ia menilai penting bagi orang tua untuk membangun bonding atau ikatan emosional dengan anak sejak dini. Ikatan tersebut dapat dibentuk melalui perhatian, komunikasi, sentuhan, dan kebersamaan yang hangat dalam keluarga.

Namun, Seniasih mengakui bahwa saat ini ikatan emosional antara orang tua dan anak mulai berkurang. Kondisi itu terutama terjadi pada keluarga dengan kedua orang tua yang sama-sama bekerja.

Meski mendukung perempuan untuk tetap berkarier, ia mengingatkan agar peran sebagai ibu dan istri tidak diabaikan. Menurutnya, anak tetap membutuhkan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya.

“Jangan sampai anak kekurangan perhatian dari kedua orang tuanya. Bangun keterbukaan antara anak dan orang tua. Jangan sampai anak merasa ditelantarkan dan diabaikan,” paparnya.

Selain menyoroti kekerasan anak, Seniasih juga menyampaikan keprihatinannya terhadap tingginya kasus bunuh diri dan perkawinan anak di Kabupaten Buleleng. Ia menilai minimnya perhatian dari orang tua menjadi salah satu faktor yang membuat anak merasa terabaikan dan mengambil keputusan secara impulsif.

“Perkawinan anak banyak terjadi pada keluarga dengan orang tua yang bercerai, kemudian ayah atau ibunya menikah lagi. Anak menjadi bingung harus ke mana karena merasa tidak diterima di mana pun, sehingga terjadilah perkawinan anak,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan baru bagi orang tua dalam mendidik anak. Menurutnya, kemudahan akses terhadap berbagai konten di media sosial dapat memberikan dampak negatif jika tidak diawasi dengan baik.

“Perkembangan media sosial saat ini menyebabkan anak dapat mengakses berbagai hal tanpa filter. Anak-anak mulai membandingkan apa yang mereka miliki dengan milik orang lain. Hal ini tentu tidak baik bagi tumbuh kembang mereka. Begitu pula dengan konten negatif dan tidak layak yang sangat mudah diakses. Ini harus menjadi perhatian kita bersama sebagai orang tua,” tegasnya.

Sosialisasi Kabupaten Layak Anak di Kabupaten Buleleng menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Forum PUSPA Provinsi Bali, Kepala Dinas Sosial PPPA Kabupaten Buleleng, dan Kepala Bidang PPM Bappeda Provinsi Bali. Kegiatan tersebut juga dihadiri seluruh Forkopimda Kabupaten Buleleng. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button