BeritaDaerahPolitikSosial

Proporsional Tertutup dan Ujian Kesetiaan Kader: Gus Dion Ingatkan Arah Demokrasi, Pemilu Adalah Memilih Partai Politik

"Partai politik dibangun melalui proses kaderisasi yang panjang. Loyalitas dan dedikasi tidak bisa lahir secara instan"

Pacitan,JBM.co.id- Wacana pengembalian sistem pemilu ke proporsional tertutup pada Pemilu Legislatif 2029 kembali mengemuka. Di tengah perdebatan publik, mantan legislator DPRD Pacitan periode 2019–2024, Sediono, menyampaikan pandangan kritisnya dengan nada tenang namun substansial.

Politikus Partai Gerindra yang juga menjabat Bendahara DPD Gerindra Pacitan itu menilai, sistem proporsional tertutup sejatinya bukan sekadar soal teknis pemilu, melainkan menyangkut arah dan kualitas demokrasi itu sendiri.

Menurut Sediono, proporsional tertutup memberi ruang lebih adil bagi kader partai yang telah lama berproses, berjuang, dan mengabdi. Sistem ini dinilai mampu mengembalikan marwah partai politik sebagai pilar utama demokrasi.

“Partai politik dibangun melalui proses kaderisasi yang panjang. Loyalitas dan dedikasi tidak bisa lahir secara instan,” ujarnya, Ahad (18/1/2026).

Mantan wartawan media cetak mingguan ini menyoroti praktik politik dalam sistem proporsional terbuka yang dinilainya kerap menjauh dari nilai-nilai ideal demokrasi. Kompetisi elektoral, kata dia, sering kali direduksi menjadi pertarungan modal, bukan gagasan maupun rekam jejak pengabdian.

“Ketika uang menjadi penentu utama, elektabilitas bisa direkayasa. Di titik itulah demokrasi kehilangan ruhnya,” ungkapnya halus namun tegas.

Pria yang akrab disapa Gus Dion ini juga mengingatkan kembali filosofi dasar pemilu, bahwa rakyat sejatinya memilih partai politik beserta ideologi dan platform perjuangannya, bukan semata figur atau popularitas individu.

“Filosofi tersebut melekat kuat dalam sistem proporsional tertutup,” jelasnya.

Dengan mekanisme itu, lanjutnya, partai memiliki tanggung jawab penuh memastikan calon legislatif yang diusung benar-benar memiliki rekam jejak kepartaian yang teruji, bukan sekadar memiliki kemampuan finansial.

“Tidak adil jika seseorang baru seumur jagung di partai, lalu melenggang ke parlemen hanya karena kekuatan modal, sementara kader militan yang telah bertahun-tahun berjuang justru tersingkir,” tuturnya.

Sediono menegaskan, refleksi atas sistem pemilu menjadi penting agar pesta demokrasi ke depan tidak sekadar prosedural, melainkan mampu melahirkan wakil rakyat yang berintegritas, berideologi, dan memiliki ikatan moral dengan partai serta konstituennya.

“Inilah esensi yang perlu kita jaga bersama, agar demokrasi tetap berada pada rel pengabdian, bukan transaksi,” pungkas Gus Dion.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button