Obat Penawar Rindu, Ketika Sekda Maulana Heru Menutup Lembar Panjang Pengabdiannya Sebagai ASN Pada 2027. Ketua FPPA Yang Juga Chef Bebek Sinjai, Gus Tik Dorong Sekda Heru Macong Bacawabup Pacitan
"Heru bukan hanya Sekda. Ia adalah tempat bertanya, tempat mengadu, sekaligus penyeimbang ketika ritme pemerintahan mulai meninggi"

Pacitan,JBM.co.id- Tak semua pengabdian tercatat rapi dalam buku laporan pemerintahan. Sebagian justru hidup dalam ingatan, dalam rasa aman yang dirasakan bawahan, dan dalam ketenangan sebuah birokrasi yang berjalan tanpa gaduh.
Di sanalah nama Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro menemukan tempatnya.
Tak genap dua tahun lagi, Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan itu akan menutup lembar panjang pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara.
Masa purna tugas yang akan datang bukan sekadar penanda usia jabatan, melainkan momentum perpisahan dengan sosok yang selama ini menjadi poros keteduhan birokrasi Pacitan.
Bagi banyak ASN, Heru bukan hanya Sekda. Ia adalah tempat bertanya, tempat mengadu, sekaligus penyeimbang ketika ritme pemerintahan mulai meninggi.
Dalam setiap keputusan, ia memilih bekerja sunyi, menyelesaikan persoalan tanpa harus meninggikan suara, tanpa perlu sorotan berlebihan.
Birokrat kelahiran Kota Brem, Madiun, itu dikenal teguh memegang falsafah Jawa “mikul dhuwur mendhem jero”. Prinsip yang mengajarkan bagaimana seorang pemimpin menjunjung tinggi kehormatan pimpinan dan menyimpan rapat segala kekurangan. Dalam praktiknya, Heru tak sekadar mematuhi falsafah itu, melainkan menjadikannya napas kepemimpinan.
Pengalamannya menyeberangi dua era kepemimpinan, dari Bupati Indartato hingga Bupati Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, menjadi bekal berharga yang tak semua birokrat miliki.
Ia hadir sebagai jembatan yang merawat kesinambungan kebijakan, menjaga agar roda pemerintahan tetap berputar stabil meski zaman dan gaya kepemimpinan berganti.
Banyak prestasi administratif telah ditorehkan. Namun yang paling dikenang justru hal-hal yang tak kasat mata. Seperti soliditas ASN yang terjaga, komunikasi lintas OPD yang cair, serta suasana kerja yang menempatkan etika dan kemanusiaan sebagai fondasi.
Jejak pengabdian itu mungkin tak tertulis tebal dalam dokumen resmi, tetapi nyata terasa di setiap sudut birokrasi.
Menjelang masa purna tugas, suara harapan mulai bermunculan. Dari ruang-ruang kantor pemerintahan hingga diskusi informal para praktisi media, muncul kerinduan agar pengabdian Heru tak berhenti di meja Sekda.
Wacana agar ia berkenan melangkah sebagai bakal calon Wakil Bupati Pacitan pun kian nyaring terdengar.
Ketua Forum Pewarta Pacitan (FPPA), Sutikno, atau yang akrab disapa Gus Tik, menyebut Heru sebagai figur yang mampu mengobati kerinduan masyarakat akan pemimpin yang membumi.
“Pak Heru itu bukan hanya pengendali birokrasi. Beliau figur bapak bagi ASN dan juga masyarakat,” tuturnya, saat ditemui di warung bebek sinjai miliknya di kawasan Desa Mentoro, Selasa (23/12/2025) malam kemarin.
Gus Tik menilai, karakter kepemimpinan Heru sejalan dengan nilai-nilai yang selama ini melekat pada sosok Bupati Aji. “Yaitu, ketulusan, ketegasan yang meneduhkan, serta kemampuan merangkul tanpa sekat. Sebuah kombinasi langka di tengah dinamika birokrasi dan politik yang kerap keras,” jelasnya.
Apakah Maulana Heru akan memilih tetap mengabdi lewat jalur politik, atau menutup pengabdian dengan tenang di masa purna tugas, waktu yang akan menjawab. Namun satu hal telah menjadi kesepakatan tak tertulis di Pacitan, jejaknya telah tertanam kuat.
Dalam sunyi pengabdian, Maulana Heru telah mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal siapa yang paling lantang terdengar, melainkan siapa yang paling dalam memberi makna.(Red/yun).




