
Jbm.co.id-DENPASAR | Perayaan Hari Suci Nyepi yang berlangsung pada 19-20 Maret 2026 di Bali berjalan dengan khusyuk, tertib, dan tanpa pelanggaran. Selama 24 jam pelaksanaan Catur Brata Penyepian, suasana pulau benar-benar hening, mencerminkan kedisiplinan tinggi krama Bali dalam menjaga kesucian hari raya.
Nyepi tidak hanya dimaknai sebagai tradisi tahunan, tetapi juga warisan luhur yang terus dijaga secara turun-temurun. Momentum ini menjadi waktu bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri sekaligus menjaga keseimbangan alam dengan menghentikan seluruh aktivitas kehidupan.
Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah menjalankan Nyepi dengan penuh disiplin. Ia menilai keberhasilan ini menunjukkan kuatnya komitmen dalam menjaga nilai adat, budaya, dan spiritualitas Bali.
Kebersamaan lintas umat beragama semakin terasa karena perayaan Idul Fitri yang jatuh pada 21 Maret 2026 berlangsung hanya sehari setelah Nyepi. Umat Muslim di Bali merayakan hari kemenangan dengan penuh khidmat setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Gubernur Koster juga mengapresiasi sikap toleransi umat Muslim, khususnya saat malam takbiran yang bertepatan dengan Nyepi.
Pelaksanaan takbiran yang dilakukan di rumah masing-masing menjadi bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang tengah menjalankan Catur Brata Penyepian.
“Ini adalah wujud toleransi yang sangat indah dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan kehidupan bersama di Bali,” kata Gubernur Koster.
Momentum berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri dinilai memperkuat nilai menyama-braya atau semangat persaudaraan yang hidup di tengah masyarakat Bali. Keharmonisan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus mendukung keberlanjutan pembangunan daerah.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persatuan dan menjaga kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat gotong royong diyakini mampu menjaga Bali tetap aman, nyaman, dan damai.
Hal tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat secara sekala dan niskala.
“Rahayu sareng sami,” tutup Gubernur Koster, menegaskan harapan agar keharmonisan di Bali senantiasa terjaga. (red).




