BaliBeritaDaerahDenpasarPemerintahanPendidikan

Ny. Putri Koster Buka Seminar Aksara Kawi Serukan Pelestarian Identitas Budaya Bali

Jbm.co.id-DENPASAR | Pendamping Gubernur Bali, Putri Koster, mengajak generasi muda untuk terus menjaga jati diri budaya daerah melalui penggunaan bahasa, busana, serta pemahaman aksara tradisional Bali.

Ajakan tersebut disampaikan Ny. Putri Koster, saat membuka Seminar Aksara Kawi dalam rangka Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong di Gedung Kerta Sabha, Denpasar, Minggu, 15 Pebruari 2026.

Menurutnya, arus globalisasi dan masuknya budaya Barat tidak boleh membuat generasi muda melupakan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

“Bali tentu kita ketahui sebagai daerah pariwisata dan wajah Indonesia dengan jumlah kunjungan wisatawan yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lain. Masuknya budaya Barat, saya harapkan tidak menjadikan generasi muda Bali lupa akan kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat yang dimiliki, terutama pada busana, aksara, dan bahasa daerah Bali,” kata Ny. Putri Koster.

Ia juga menegaskan pentingnya merawat keberagaman budaya sebagai identitas yang membanggakan.

“Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan budaya kita ini? Antara Bali dengan daerah lain tentu memiliki perbedaan budaya sebagai ciri khas yang melekat. Namun, perbedaan tersebut sudah tentu menjadi kebanggaan yang harus kita jaga dan rawat sebagai kekayaan, baik di tingkat daerah maupun pusat,” tegasnya.

Seminar yang menjadi bagian dari peringatan sejarah tersebut juga bertepatan dengan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2026. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Gede Suarbawa, Heri Purwanto, dan Fuad.

Dalam pemaparannya, Gede Suarbawa menjelaskan bahwa sejarah sistem aksara di Indonesia dipengaruhi tiga sistem utama, yakni Pallawa, Arab, dan Latin.

Selain itu, terdapat pula sistem lain yang ditemukan dalam tinggalan arkeologi, seperti Siddhamatrka/Pre-Nagari dan aksara Cina, meski pengaruhnya tidak berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa aksara Pallawa memiliki jejak panjang dalam tradisi tulis Nusantara, termasuk pada prasasti tertua di Muara Kaman yang memuat kebesaran Raja Mulawarman, serta prasasti di Jawa Barat yang berkaitan dengan Raja Purnawarman. Dalam perkembangan berikutnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali, sistem tersebut bertransformasi menjadi aksara Kawi.

Melalui Seminar Aksara Kawi ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian budaya dan tradisi semakin kuat, sekaligus menumbuhkan sikap toleransi dalam keberagaman bangsa. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button