BeritaDaerahEkonomiInternasionalPariwisataSeni Budaya

Imbas WWF 2024, Kunjungan Wisatawan ke DTW Jatiluwih Tembus 1.500 Orang Per Hari

Jbm.co.id-TABANAN | DTW Jatiluwih Tabanan menjadi salah satu Site Visit dari Delegasi World Water Forum (WWF) ke-10. Diharapkan, kunjungan Delegasi WWF dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih, Tabanan.

Hal tersebut terbukti dengan adanya KTT WWF ke-10 berimbas pada jumlah kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih meningkat sangat signifikan sebesar 80 persen, yang kini berada diatas 1.200 orang hingga menembus 1.500 orang per hari. Sebelumnya, jumlah kunjungan wisatawan pada bulan Mei 2023 lalu maksimal 800 orang.

“Saya berharap, agar kunjungan Delegasi WWF yang lebih dari puluhan negara ini menambah jumlah wisatawan nantinya yang akan berkunjung ke DTW Jatiluwih,” kata Manager DTW Jatiluwih John Ketut Purna bersama Akademisi Pariwisata Universitas Udayana, Prof. Nyoman Sunarta di Tabanan, Sabtu, 25 Mei 2024.

Advertisement

Menurutnya, kedatangan Delegasi WWF benar-benar menambah pundi-pundi rejeki bagi seluruh masyarakat di Desa Jatiluwih Tabanan. Hal ini berarti kontribusi Delegasi WWF sangat besar ke masyarakat Jatiluwih ini.

“Seperti yang dilihat dibelakang ini, ada gong dan juga tarian serta UMKM yang kita libatkan dalam penyambutan dari Delegasi WWF ini,” kata Ketut Purna.

Soal persiapan menyambut kedatangan Delegasi WWF, Ketut Purna menyebutkan semua sarana persiapan sudah dibuatkan, seperti memasang penjor, umbul-umbul, gate dan pindekan, sunari hingga orang-orangan di sawah.

“Pokoknya semua apa yang kita kerjakan orangtua kita terdahulu, saat sebelum pertanian modern ini kita kembalikan, munculkan lagi agar tradisi itu tidak lewat,” paparnya.

Hal senada juga diungkapkan Prof. Nyoman Sunarta selaku Akademisi Pariwisata Universitas Udayana yang menyatakan, bahwa selain persiapan saat menyambut WWF 2024, DTW Jatiluwih juga dipersiapkan, untuk ikut serta Lomba UN Tourism pada tahun depan, yang sudah masuk 8 besar.

“Harapan kami, semua yang ada disini kita mencoba mengangkat tidak hanya turis yang sebagai stakeholder, tapi juga masyarakat lokal dan alam, karena yang kita jual itu alam, sehingga alam itu dijadikan stakeholder disini,” terangnya.

Apalagi, daerah Jatiluwih ini merupakan resapan air, yang harus dijaga kelestariannya.

“Kalau ini tidak kita jaga, itu berarti air kita akan tidak bagus dan kurang potensinya. Dengan adanya WWF ini memberi pelajaran buat kita, jangan sampai nanti kita sudah diperhatikan dunia, tapi orang lokal sendiri yang tidak bisa menjaga,” tegasnya.

Mengingat, bulan Agustus mendatang adanya fix season maka akan terjadi booming kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih.

“Kita ada waktu dari sekarang ini, memperbaiki apa-apa yang patut diperbaiki dengan pengalaman adanya WWF, kita panik karena banyak sekali wisatawan yang datang, pada saat bersamaan. Hal ini bisa menjadi pelajaran baik untuk perbaikan kedepan,” tandasnya.

Diakui, DTW Jatiluwih memiliki dua gate yang posisinya dari barat dan timur, yang sedang ditata, untuk mengantisipasi adanya penumpukan wisatawan pada satu titik saja, saat datang bersamaan.

“Itu dua gate ditata lagi, biar jelas pintu masuknya seperti apa. Itu yang akan kita garap. Nanti juga kita publish di medsos, bahwa pintu masuk ke DTW Jatiluwih seperti ini,” tambahnya.

Bahkan, areal parkir juga telah dipersiapkan dengan matang kedepannya, sehingga manajemen parkir benar-benar tertata dengan baik.

“Pengalaman DTW lainnya, ini khan sering sekali terjadi, karena dia ada tujuan kesini. Kalau tujuan kesini makan siang itu misalnya, berarti semua akan datang pada saat makan siang,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap para wisatawan yang datang ke DTW Jatiluwih pada pagi hari, karena melihat pemandangan pegunungan.

“Idealnya makan di siang hari, tapi view di pagi hari sangat bagus,” pungkasnya. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button