Mencari Bekal untuk Kehidupan Akhirat, Pesan Dakwah Kepala UPT PJJ Pacitan Dinas PU Bina Marga Jatim
"Setiap orang hendaknya bertanya pada dirinya sendiri, apakah amalan yang dilakukan selama ini menjadi penyelamat di akhirat atau justru menjadi sebab kesengsaraan"

Pacitan,JBM.co.id-Kehidupan di dunia sejatinya hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan tujuan yang kekal dan abadi. Pesan tersebut disampaikan oleh seorang pendakwah yang juga menjabat sebagai Kepala UPT PJJ Pacitan pada Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Budi Hari sabtu, dalam tausiyahnya tentang pentingnya mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.
Dalam penyampaiannya, ia mengutip firman Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan orang-orang beriman agar selalu bertakwa kepada Allah dan memperhatikan setiap amal yang telah dilakukan sebagai bekal untuk hari esok, yaitu kehidupan akhirat.
Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan penting agar setiap manusia senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri terhadap amal perbuatannya selama hidup di dunia. Setiap perbuatan, baik maupun buruk, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat.
“Setiap orang hendaknya bertanya pada dirinya sendiri, apakah amalan yang dilakukan selama ini menjadi penyelamat di akhirat atau justru menjadi sebab kesengsaraan. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan,” jelas, keturunan ke-7 Adi Pati Kanjeng Djimat ini, Selasa (17/3/2026).
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya bersedekah sebagai salah satu bekal kehidupan akhirat sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Munafikun ayat 10, yang memerintahkan umat manusia untuk menginfakkan sebagian rezeki sebelum datangnya kematian. Ayat tersebut menggambarkan penyesalan seseorang ketika ajal datang, karena tidak sempat memperbanyak sedekah dan amal saleh.
Lebih lanjut, ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mempersiapkan dirinya dan memperbanyak amal untuk kehidupan setelah kematian, sedangkan orang yang lalai adalah mereka yang hanya mengikuti hawa nafsu dan berangan-angan tanpa amal.
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. “Dunia bagiku bagaikan seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi meninggalkannya,” sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Muslim.
Pesan serupa juga disampaikan dalam hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Umar, di mana Rasulullah SAW menasihati umatnya agar hidup di dunia seperti seorang asing atau pengembara. Artinya, manusia tidak seharusnya terlalu terikat dengan kehidupan dunia, melainkan memanfaatkannya sebagai sarana untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.
Ia juga mengingatkan pesan Ibnu Umar yang sangat terkenal, yaitu agar manusia memanfaatkan waktu sehat sebelum datang sakit dan memanfaatkan masa hidup sebelum datangnya kematian.
“Dunia ini ibarat perjalanan seorang musafir. Kita hanya singgah sementara untuk mencari bekal sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir, yaitu kehidupan akhirat,” ungkapnya.
Dalam penutup tausiyahnya, ia berharap agar seluruh umat Islam mampu mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang kekal tersebut. Bekal itu diwujudkan dengan memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah dengan penuh keistiqamahan.
“Semoga kita semua dimudahkan dalam beribadah, diberi kekuatan untuk terus beramal saleh, dan mendapatkan ridha Allah SWT sehingga memperoleh tempat terbaik di akhirat kelak,” pungkasnya.(*****).



