BaliBeritaDaerahDenpasarLingkungan HidupPemerintahan

Mangkrak 22 Tahun, Pemprov Bali Diminta Bantu Percepat Pusat Kebudayaan India di Renon

Jbm.co.id-DENPASAR | Mangkraknya proyek pembangunan India Cultural Centre Bali (ICCB) atau Pusat Kebudayaan India di kawasan Renon, Denpasar, kembali menjadi sorotan publik.

Aset tanah milik Pemerintah Provinsi Bali yang sudah disiapkan hampir seperempat abad lalu dinilai perlu segera diaktifkan demi mendukung hubungan budaya, pendidikan, hingga ekonomi antara Bali dan India.

Pengelana Global Putu Suasta, alumnus UGM dan Cornell University mengaku heran proyek yang telah memiliki penanda resmi itu hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti.

“Ya, sebetulnya kita heran saja kenapa tanahnya yang sudah ada plang namanya di depan belum juga diaktifkan,” kata Putu Suasta yang juga Pendiri LSM JARRAK dan Yayasan Wisnu di Denpasar, Kamis, 4 Juni 2026.

Lokasi ICCB di Jalan Tantular, Renon, sebelumnya bahkan telah diresmikan oleh Gubernur Bali periode 1998-2008 Dewa Beratha bersama Duta Besar India Hemant Krishan Singh dan DG ICCR Rakesh Kumar. Namun hingga kini proyek tersebut masih belum terealisasi.

Menurut Putu Suasta, keberadaan pusat kebudayaan India di Bali memiliki nilai strategis, karena dapat memperkuat hubungan historis dan budaya kedua negara yang telah terjalin sejak lama.

Putu Suasta menilai tanah yang sudah diperuntukkan bagi pemerintah India seharusnya segera dimanfaatkan sebagai fasilitas publik untuk meningkatkan hubungan kebudayaan dan ekonomi Bali dengan India.

“Kalau ada hambatan hambatan birokrasi dan administrasi. Wajib Pemda Bali membantu kelancaran semua hambatan itu,” tegasnya.

India sendiri saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dengan pertumbuhan tercepat. Pada 2026, India diproyeksikan memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) nominal sekitar 4,15 triliun dolar AS dan berada di posisi keenam ekonomi terbesar dunia.

Dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, India dinilai semakin maju dalam sektor ekonomi, pendidikan, teknologi, hingga Sumber Daya Manusia (SDM).

Pertumbuhan ekonomi India pada 2026 bahkan diperkirakan mencapai 6,48 persen, tertinggi di antara negara-negara ekonomi utama dunia.

Hubungan Indonesia dan India juga disebut semakin erat karena memiliki akar budaya yang sama, khususnya warisan sanatana dharma melalui kisah Ramayana dan Mahabharata.

Hubungan diplomatik kedua negara telah terjalin sejak 1949. Presiden pertama RI Soekarno bahkan menjadi tamu utama pada Hari Republik India pertama tahun 1950. Sementara Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru hadir dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955.

Kedekatan historis itu terus berlanjut hingga sekarang. Presiden Prabowo Subianto diketahui menjadi tamu kehormatan pada perayaan Hari Republik India pada Januari 2025. Kunjungan tersebut mempertegas penguatan kerja sama strategis Indonesia dan India di bidang ekonomi, pertahanan, dan maritim.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga pernah menjadi tamu kehormatan Hari Republik India pada 2018, sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hadir pada 2011.

Belum lama ini, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty juga bertemu Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Jakarta. Pertemuan itu membahas hubungan historis Indonesia dan India sejak era Soekarno dan Jawaharlal Nehru, termasuk isu geopolitik dan penguatan demokrasi kedua negara.

Selain hubungan diplomatik, kerja sama Bali dan India juga semakin terlihat dari sektor pendidikan dan ekonomi.

Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya atau Dewa Jack baru-baru ini menerima CEO Patanjali Ayurved, Acharya Balkrishna, di Kantor Sekretariat DPRD Bali, Kamis, 4 Juni 2026.

Acharya Balkrishna dikenal sebagai pendiri sekaligus Direktur Pelaksana Patanjali Ayurved, salah satu perusahaan FMCG terbesar di India yang didirikan bersama guru yoga Baba Ramdev pada 2006.

Dalam kunjungan tersebut, Wakil Rektor University of Patanjali India juga melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

Putu Suasta menilai Bali memiliki peluang besar memperkuat hubungan ekonomi dengan India, terutama melalui sektor pariwisata. Wisatawan asal India saat ini menjadi salah satu penyumbang terbesar kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali.

Peningkatan jumlah wisatawan India dinilai akan berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi Bali, termasuk peningkatan devisa dan Pungutan Wisatawan Asing (PWA).

Oleh karena itu, Putu Suasta berharap proyek India Cultural Centre Bali (ICCB) di Renon tidak lagi terbengkalai dan dapat segera direalisasikan sebagai simbol penguatan hubungan budaya dan ekonomi antara Bali dan India. (ace).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button