Letjen TNI Nyoman Cantiasa Tegaskan Adat, Agama dan Pemerintah adalah Pilar Utama Jaga Peradaban serta Identitas Bali

Jbm.co.id-BANGLI | Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, SE., M.Tr (Han) menegaskan ritual tradisi keagamaan memiliki peran penting sebagai jembatan antara masa lalu, masa kini, hingga masa depan Bali.
Ritual keagamaan dinilai bukan hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga menjadi cara masyarakat menjaga identitas, marwah, dan sejarah yang membentuk kekayaan budaya Bali.
Hal tersebut disampaikan Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, SE., M.Tr (Han), saat peluncuran buku Gerbang Literasi Surya Candra Pelita Pemangku Kebijakan dan Krama Bali Menjaga Keseimbangan Harmoni Bali di Bangli, Sabtu, 4 April 2026.

Menurutnya, Bali memiliki jejak peradaban yang kuat melalui peninggalan sejarah dan simbol-simbol budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, masyarakat diminta tidak melupakan sejarah sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan.
“Kita sadar peradaban hari ini ada karena pondasi peradaban sebelumnya, Indonesia khususnya Bali, dengan melimpahnya pinggalan dan simbol-simbol yang menjadi jejak peradaban,” terangnya.
Letjen TNI I Nyoman Cantiasa menilai buku tersebut menjadi pengingat bahwa Bali bukan sekadar destinasi wisata, melainkan warisan spiritual dunia yang harus dijaga melalui keseimbangan antara skala dan niskala.
Menurutnya, kesucian dan kedaulatan Bali harus tetap dipertahankan dari berbagai bentuk degradasi nilai.
Dalam kesempatan itu, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa juga menegaskan konsep Bali sebagai satu tungku tiga batu, yakni adat, agama, dan pemerintah. Ketiga unsur tersebut dinilai menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Bali dan tidak boleh dilemahkan.
“Jadi, ketiga batu ini merupakan harga mati di Bali, jangan sampai dilemahkan tetapi harus saling menguatkan,” kata Letjen TNI I Nyoman Cantiasa.
Letjen TNI I Nyoman Cantiasa menjelaskan, adat memberikan roh identitas dan menjaga keberagaman Bali melalui ritual agama, upacara adat, hingga tata kehidupan masyarakat. Sementara agama menjadi
moral yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, Tuhan, dan alam.
Disisi lain, pemerintah memiliki peran penting dalam memberikan regulasi dan kebijakan yang melindungi kepentingan masyarakat Bali.
“Pemerintah memberikan payung regulasi dan kebijakan, menurut nya apabila pemerintah tidak bisa memberi Payung regulasi dan kebijakan, aturan yang jelas dan tegas, kebijakan-kebijakan yang pro rakyat Bali, selesai kita,” tegas Jenderal bintang tiga tersebut.
Letjen TNI I Nyoman Cantiasa juga mengingatkan bahwa Bali saat ini menghadapi tantangan besar akibat dinamika geopolitik global, arus budaya asing, tekanan imigrasi, hingga perubahan gaya hidup yang berpotensi menggerus budaya lokal.
Menurutnya, Bali kini tidak hanya menjadi tujuan wisata dunia, tetapi juga menjadi tempat perlindungan bagi warga asing yang menghindari konflik politik atau mencari pekerjaan secara ilegal.
“Disamping itu, kita harus mewaspadai dimana fenomena banya orang asing datang ke Bali bukan semata-mata untuk berwisata tetapi untuk mengungsi yang krisis di Negaranya atau mencari lapangan pekerjaan secara ilegal,” urainya.
Oleh karena itu, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa menilai Bali harus memiliki konsep dan skema pembangunan yang matang agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga bertransformasi secara beradab di tengah berbagai tantangan global.
“Masyarakat Bali harus terus mampu menjaga marwahnya sebagai pulau dewata melalui kesucian jiwa manusia sebagai umat Hindu, serta memperkuat generasi muda, karena generasi muda merupakan penerus Bali selanjutnya. Untuk itu, dalam menjaga peradaban alam Bali, adat agama dan pemerintah harus bekerjasama dan bersinergi,” pungkasnya. (red).




