Jelang Idulfitri, Permintaan Gas Melon di Pacitan Melonjak: Warga Mengeluh Sulit Dapat, Pangkalan Sebut Bukan Kelangkaan
"Fenomena yang terjadi saat ini bukanlah kelangkaan pasokan, melainkan lonjakan kebutuhan masyarakat yang lazim terjadi menjelang hari besar keagamaan, khususnya menjelang Idulfitri"

Pacitan, JBM.co.id-Keluhan masyarakat terkait sulitnya memperoleh gas elpiji 3 kilogram atau yang dikenal sebagai “gas melon” mulai mencuat di sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan dalam beberapa hari terakhir. Warga, termasuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), mengaku harus berkeliling lebih dari satu tempat untuk mendapatkan tabung gas bersubsidi tersebut.
Kondisi ini memunculkan anggapan di tengah masyarakat bahwa gas elpiji 3 kilogram sedang mengalami kelangkaan di pasaran. Namun klaim tersebut dibantah oleh salah satu pemilik pangkalan gas di Kota Pacitan, Heru Suranto Adi.
Heru menegaskan bahwa fenomena yang terjadi saat ini bukanlah kelangkaan pasokan, melainkan lonjakan kebutuhan masyarakat yang lazim terjadi menjelang hari besar keagamaan, khususnya menjelang Idulfitri.
“Kalau dibilang langka sebenarnya tidak. Yang terjadi sekarang ini kebutuhan masyarakat meningkat menjelang Lebaran, sementara pasokan dari Pertamina ke pangkalan tidak ada penambahan,” ujar Heru, Ahad (8/3/2026) malam.
Menurutnya, pola peningkatan permintaan gas bersubsidi setiap menjelang hari raya merupakan siklus tahunan. Ketika konsumsi meningkat, stok yang tersedia di pangkalan kerap cepat habis sehingga memunculkan persepsi kelangkaan di masyarakat.
Heru juga menilai persepsi tersebut sering kali diperkuat oleh kebiasaan sebagian konsumen yang enggan mencari pangkalan atau pengecer lain ketika tidak mendapatkan gas di satu tempat.
“Biasanya ketika pelanggan di tempat saya tidak kebagian, mereka malas mencari ke pangkalan atau pengecer lain karena jaraknya lebih jauh. Dari situ kemudian muncul kabar gas langka, padahal sebenarnya masih ada di tempat lain,” jelasnya.
Dari sisi harga, Heru memastikan tidak ada kenaikan harga di tingkat pangkalan. Gas elpiji 3 kilogram masih dijual sesuai harga yang berlaku yakni Rp18.000 per tabung.
Perbedaan harga, kata dia, biasanya terjadi di tingkat pengecer karena adanya biaya transportasi yang mereka keluarkan saat mengambil stok dari pangkalan.
“Kalau di pengecer biasanya selisih sekitar Rp2.000. Tapi itu juga tidak sama semua, tergantung jarak mereka mengambil dari pangkalan. Semakin jauh, biasanya ada tambahan untuk ongkos transportasi,” tambahnya.
Lebih lanjut Heru mengatakan, fenomena kelangkaan gas melon, memang hampir terjadi setiap tahun. Karena itu, ia menilai perlu adanya langkah dari OPD terkait untuk memperkuat koordinasi dengan pihak Pertamina.
Melalui koordinasi tersebut, saat kebutuhan masyarakat meningkat, pemerintah kabupaten dapat mengajukan tambahan kuota fakultatif. “Sebaliknya, ketika kebutuhan menurun, tidak terjadi penumpukan maupun klaim kelebihan stok gas di tingkat pangkalan,” tegasnya.
Meski demikian, keluhan masyarakat terkait sulitnya memperoleh gas melon tetap menjadi perhatian, terutama bagi pelaku UMKM yang sangat bergantung pada pasokan gas bersubsidi untuk operasional usaha sehari-hari.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Pacitan belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi distribusi gas elpiji 3 kilogram di wilayah tersebut.(Red/yun).



