Gubernur Koster Ungkap Tantangan Serius Bali Ditengah Lonjakan Wisatawan Asing

Jbm.co.id-DENPASAR | Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) melantik kepengurusan provinsi Bali periode 2026-2031 di Bali International Hospital, kawasan KEK Sanur, Rabu, 18 Februari 2026.
Momentum ini dirangkaikan dengan Seminar Nasional Bali Economic Investment Forum (BEIF) 2026 bertema penguatan investasi hijau menuju Indonesia Emas 2045.
Sejumlah tokoh hadir, termasuk mantan Gubernur Bali dua periode Made Mangku Pastika serta Ketua BPD PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati.
Forum menghadirkan unsur pemerintah, perbankan, akademisi, hingga investor guna membahas arah pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Ancaman Lahan Menyusut hingga Ketahanan Pangan
Gubernur Bali Wayan Koster membuka BEIF 2026 sekaligus menyoroti tantangan serius yang dihadapi Pulau Dewata, mulai dari penyusutan lahan, alih fungsi sawah, hingga ketergantungan pangan dari luar daerah.
“Tadinya, luas Bali 5.640 kilometer persegi, sekarang jumlah lahan Bali berkurang, bahkan jumlah sawah juga menyusut,” kata Gubernur Koster.
Disisi lain, pertumbuhan ekonomi Bali tetap kuat dengan capaian 5,82 persen dan kunjungan wisatawan asing mencapai 7,05 juta orang yang dipantau melalui Bandara Ngurah Rai.
“Bali itu tidak sepi. Saya terus pantau jumlah wisatawan ke Bali wisatawan datang berapa dan pergi berapa melalui Bandara Ngurah Rai. Itu 7,05 juta adalah angka capaian tertinggi selama wisatawan asing berada di Bali. Jadi, tiap hari saya pantau dengan GM Angkasa Pura. Kecil pulaunya, sedikit penduduknya, tapi khasiatnya besar,” kata Gubernur Koster.
Namun, Gubernur Koster menilai dukungan pembangunan infrastruktur nasional belum sepenuhnya memperhatikan karakteristik daerah.
“Selama di Banggar DPR RI tiga periode belum pernah ada rumusan memperhatikan kebutuhan daerah secara spesifik sesuai dengan karakteristik daerah. Jadi, kita tidak bisa membangun insfrastruktur sekala besar hanya dari APBD Bali,” kata Gubernur Koster.
Gubernur Koster juga menegaskan pentingnya kemandirian pangan, air, dan energi bagi keberlanjutan Bali.
“Saya tidak ingin Bali terlalu banyak tergantung sumber pangannya dari luar. Itu sangat membahayakan. Kebutuhan dasar Bali, seperti pangan, air dan energi itu harus bisa dimulai dari Bali,” terangnya.
NCPI Dorong Sinergi Investasi Berkelanjutan
Ketua Umum DPP NCPI Gusti Kade Sutawa menegaskan kepengurusan baru harus selaras dengan arah kebijakan pemerintah daerah.
“Dengan dilantiknya pengurus NCPI Bali, kami harapkan segera bisa bekerja untuk mendukung semua program-program apa yang pak Gubernur Bali sudah canangkan. Jadi, NCPI Bali harus mendukung semua kebijakan pak Gubernur Bali,” kata Gusti Kade Sutawa.
Ketua DPW NCPI Bali Agus Maha Usadha menilai BEIF menjadi ruang strategis untuk memperkuat koordinasi investasi hijau sekaligus menjawab persoalan infrastruktur dan pengelolaan sampah.
“Kunci Bali semuanya itu di insfratruktur. Kalau kita bicara jumlah kunjungan wisatawan ke Bali 7,05 juta kemarin itu sebenarnya masih bisa dikembangkan,” kata Agus Maha Usadha.
Forum ini juga menyoroti meningkatnya persaingan regional dengan destinasi Asia Tenggara lain yang berkembang sebagai pusat distribusi wisata.
Rekomendasi Kebijakan untuk Masa Depan Pariwisata
Dinas Pariwisata Provinsi Bali melalui I Ketut Yadnya Winarta berharap BEIF menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah.
“Mudah-mudahan, hal ini ada hasil dan output yang bisa menjadi masukan pemerintah, sehingga pemerintah bisa mengambil sebuah kebijakan yang bisa bermanfaat untuk semua, baik buat masyarakat maupun bermanfaat buat kemajuan pariwisata Bali,” kata Yadnya Winarta.
Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan pariwisata Bali sekaligus memperkuat posisi menuju visi Indonesia Emas 2045. (ace).



