BeritaDaerahPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Ronthek Gugah Sahur Pacitan: Harmoni Bambu yang Menghidupkan Malam Ramadhan

"Mereka menari, bernyanyi, bahkan berlenggak-lenggok mengikuti irama musik, seolah tengah tampil dalam sebuah konser di atas panggung terbuka"

Pacitan,JBM.co.id- Malam-malam di Kabupaten Pacitan selama bulan suci Ramadan tidak pernah benar-benar sunyi. Denting bambu yang dipukul rampak berpadu dengan irama alat musik tradisional menggema di berbagai sudut kota, menghadirkan tradisi khas yang dikenal sebagai Ronthek Gugah Sahur.

Setiap malam, para pegiat ronthek turun ke jalan tanpa lelah. Mereka memainkan bambu dengan ritme yang kompak, diiringi berbagai alat musik tradisional yang menambah warna pada pertunjukan. Tidak sekadar membangunkan warga untuk sahur, ronthek kini berkembang menjadi pertunjukan budaya yang memikat.

Para pemain tampil penuh semangat. Mereka menari, bernyanyi, bahkan berlenggak-lenggok mengikuti irama musik, seolah tengah tampil dalam sebuah konser di atas panggung terbuka. Sorak sorai warga yang menyaksikan di sepanjang jalan semakin menambah semarak suasana malam.

Tradisi yang telah mengakar di masyarakat Pacitan ini juga mendapat perhatian langsung dari Bupati Indrata Nur Bayuaji. Pemimpin daerah yang memiliki gelar adat Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro itu hampir setiap malam turun langsung ke lapangan untuk menyaksikan pertunjukan ronthek.

Pada malam ke-18 Ramadhan, Bupati kembali hadir di tengah masyarakat. Ia menikmati harmoni suara bambu yang berpadu dengan alat musik tradisional, sekaligus memberi dukungan kepada para pegiat budaya yang terus menjaga tradisi tersebut.

Bagi masyarakat Pacitan, ronthek bukan sekadar kegiatan membangunkan sahur. “Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, sekaligus identitas budaya daerah yang terus hidup dari generasi ke generasi,” ujar Bupati, Ahad (8/3/2026) dini hari.

Di tengah gemerlap modernitas, denting bambu ronthek tetap menggema—menjadi pengingat bahwa warisan budaya lokal masih berdenyut kuat di jantung kota Pacitan setiap Ramadhan.(Red/yun)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button