BaliBeritaDaerahDenpasarPendidikan

FGD Panitia Dharma Shanti Nyepi Bahas Ketahanan Generasi Muda Hindu Godok Tema Semnas, Jelang Semnas 2026

Jbm.co.id-DENPASAR |  Panitia Dharma Shanti Nyepi menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas strategi memperkuat ketahanan generasi muda Hindu. Diskusi tersebut berlangsung di Kantor PHDI Provinsi Bali, Minggu, 15 Maret 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju Seminar Nasional Dharma Shanti Nyepi 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 6 April 2026 di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar.

FGD ini secara khusus membahas perumusan tema seminar nasional bertajuk “Membangun Ketahanan Generasi Muda Hindu: Antara Kebutuhan Ekonomi, Identitas, dan Pendidikan”.

Sebanyak 12 pembicara dari berbagai latar belakang keilmuan terlibat dalam diskusi tersebut. Mereka berasal dari bidang ekonomi, kebudayaan, spiritualitas, manajemen sumber daya manusia, hingga pendidikan.

Akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Ni Kadek Surpi, menekankan pentingnya perencanaan strategis dalam pengembangan sumber daya manusia umat Hindu. Menurutnya, penguatan generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan umat.

Ia menjelaskan, dengan jumlah umat Hindu sekitar 4,7 juta orang, diperlukan penguatan pada berbagai sektor strategis. Ia mengataka untuk mewujudkan ketahanan Hindu dibutuhkan sekitar 189 ribu wirausaha, 7 ribu politisi, 47 ribu akademisi, 569 ribu cendekiawan, 37 ribu anggota TNI/Polri, 18 ribu guru pendidik, serta sekitar lima persen influencer Hindu.

Selain itu, terdapat sekitar 1,3 juta generasi muda Hindu yang perlu dipersiapkan secara terarah agar mampu mengisi berbagai sektor tersebut dan menjadi kekuatan strategis bagi masa depan umat.

Sementara itu, akademisi UNHI Denpasar Agung Paramitha menyoroti tantangan nilai, spiritualitas, dan budaya yang dihadapi generasi muda Hindu di era modern.

Menurutnya, sebagian generasi muda saat ini mengalami disorientasi nilai budaya. Mereka cenderung melihat diri sebagai “warga dunia” dibandingkan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.

Fenomena tersebut diperkuat oleh derasnya arus informasi digital yang sering tidak diimbangi dengan kemampuan menyaring serta mengolah informasi secara kritis.

Ia juga menilai terjadi disorientasi spiritualitas yang membuat sebagian generasi muda kehilangan ketenangan batin. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya kepekaan sosial serta meningkatnya kecenderungan sikap individualistik.

Selain itu, praktik keagamaan juga menghadapi tantangan berupa kecenderungan materialisme dan formalisme. Ritual kerap dijalankan hanya sebagai formalitas tanpa pemahaman yang mendalam.

Disisi lain, meningkatnya biaya sosial dan ritual keagamaan dinilai memicu pergeseran makna upacara. Upacara yang sebelumnya sarat simbol kesuburan kini sering dipandang lebih sebagai kegiatan seremonial.

Meski demikian, ia menilai umat Hindu memiliki kekuatan khas berupa “DNA genius sintesa”, yaitu kemampuan untuk menyelaraskan tradisi dengan perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi dan peradaban modern.

Pandangan lain disampaikan akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Sutarya. Ia menyoroti dinamika generasi muda Hindu dalam konteks sosial, ekonomi, dan teknologi.
Menurutnya, banyak generasi muda Hindu memilih bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 9.000 orang dari Bali dengan tujuan negara seperti Turki, Italia, dan Jepang.
Migrasi tersebut tidak hanya terjadi ke luar negeri, tetapi juga dari desa ke kota. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial dan budaya di desa.

Ia menjelaskan salah satu faktor yang mendorong generasi muda Hindu bekerja di luar negeri adalah tingkat upah minimum regional yang relatif rendah, sekitar Rp3 juta.
Meski demikian, ia menilai generasi muda Hindu memiliki kemampuan adaptasi yang baik dan relatif mudah diterima di berbagai negara.

Namun, ia mengingatkan bahwa jika terlalu banyak generasi muda bekerja di luar negeri, ada risiko posisi-posisi strategis di dalam negeri justru diisi oleh pihak luar.

Oleh karena itu, generasi muda Hindu dinilai perlu membangun jejaring global sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button