Festival Film Horor Pacitan 2026 Resmi Ditutup, Sekda Maulana Heru: Bukan Sekadar Festival, tetapi Ruang Tumbuh Ekonomi Kreatif dan Budaya Daerah

Pacitan,JBM.co.id-Festival Film Horor Pacitan 2026 resmi berakhir pada Rabu (14/10/2026) malam. Namun, penutupan festival yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya ini bukan menjadi akhir dari perjalanan kreativitas para sineas. Sebaliknya, momentum tersebut menegaskan harapan baru bagi tumbuhnya ekosistem perfilman dan penguatan ekonomi kreatif di Kabupaten Pacitan.
Hadir mewakili Bupati Pacitan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan festival. Mulai dari pemerintah pusat dan daerah, sineas, komunitas film, dewan juri, pelaku seni dan budaya, hingga masyarakat yang turut memberikan dukungan.
Dalam sambutan Bupati Pacitan yang dibacakannya, Sekda menegaskan bahwa Festival Film Horor Pacitan tidak semestinya dipandang sebatas agenda seremonial ataupun ajang perebutan penghargaan. Lebih dari itu, festival ini menjadi ruang pertemuan gagasan, perjumpaan antarkomunitas, sekaligus wadah bagi para sineas untuk merawat keberanian bercerita melalui karya film.

Memasuki tahun kedua setelah pertama kali digelar pada 2025, Festival Film Horor Pacitan dinilai menjadi penanda bahwa daerah memiliki ruang, potensi, dan kesempatan untuk mengambil bagian dalam perkembangan perfilman nasional.
Bagi Pacitan, film bukan hanya medium ekspresi seni, melainkan juga sarana untuk menyampaikan gagasan, menggali kekayaan budaya, serta memperkenalkan identitas daerah melalui bahasa sinema. Keberlanjutan festival diharapkan mampu mempertemukan lebih banyak talenta, membuka ruang kolaborasi, dan memperluas jejaring kreatif hingga ke tingkat nasional.
Mengapresiasi Karya, Menumbuhkan Keberanian Berkarya
Malam penghargaan menjadi salah satu momen yang dinantikan dalam rangkaian festival. Di balik penghargaan yang diberikan kepada para pemenang, terdapat proses panjang, keberanian bereksperimen, serta dedikasi para sineas dalam melahirkan karya.
Pemerintah Kabupaten Pacitan menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peraih penghargaan. Prestasi tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat untuk terus meningkatkan kualitas produksi, memperkuat orisinalitas, dan melahirkan karya yang mampu bersaing di tengah dinamika perfilman Indonesia.
Sementara itu, bagi peserta yang belum memperoleh penghargaan, festival diharapkan tetap menjadi pengalaman berharga untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.
Sebab, nilai sebuah karya tidak semata-mata ditentukan oleh piala yang dibawa pulang. Ada proses yang membentuk kematangan, ada gagasan yang memperkaya perspektif, dan ada keberanian untuk memulai yang menjadi fondasi perjalanan panjang seorang sineas.
Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh dari Festival Film Horor Pacitan, sehingga semakin banyak kreator lokal berani menghadirkan cerita dengan perspektif yang khas, kuat, dan berakar pada kekayaan budaya Indonesia.
Membuka Peluang Ekonomi Kreatif
Lebih jauh, penyelenggaraan festival juga memiliki arti strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif daerah. Industri perfilman melibatkan berbagai profesi dan sektor pendukung, mulai dari penulis skenario, sutradara, pemain, kru produksi, musisi, desainer, fotografer, hingga pelaku usaha yang menopang kebutuhan produksi dan penyelenggaraan kegiatan.
Apabila dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan, ekosistem tersebut berpotensi membuka lapangan kerja, memperluas kesempatan usaha, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Karena itu, Festival Film Horor Pacitan diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi salah satu penggerak aktivitas kreatif yang memberi manfaat nyata bagi daerah.
Kolaborasi antara pemerintah, komunitas film, pelaku seni, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan harapan tersebut. Dukungan berbagai pihak diperlukan agar potensi perfilman dapat tumbuh seiring dengan penguatan identitas budaya dan pengembangan sektor ekonomi kreatif Pacitan.
Kolaborasi Menjadi Kunci Keberlanjutan
Apresiasi khusus turut disampaikan kepada Garin Nugroho selaku inisiator Festival Film Horor Pacitan, Forum Komunitas JAFF, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, serta para sineas, dewan juri, panitia, relawan, komunitas seni dan budaya, mitra, dan seluruh masyarakat yang terlibat.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa ruang kreatif dapat berkembang ketika gagasan dipertemukan dengan dukungan, kepercayaan, dan komitmen bersama.
Pemerintah Kabupaten Pacitan berharap semangat kolaborasi yang telah terbangun dapat terus dirawat, sehingga penyelenggaraan festival pada tahun-tahun mendatang semakin matang, berkualitas, dan memiliki posisi yang semakin kuat dalam peta perfilman Indonesia.
Bagi para sineas, keberlanjutan festival juga menjadi kesempatan untuk membangun jejaring, memperluas pengalaman, serta menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menyampaikan pesan dan merekam kekayaan kehidupan masyarakat.
Acara Berakhir, Semangat Kreativitas Terus Menyala
Penutupan Festival Film Horor Pacitan 2026 menjadi penanda berakhirnya satu rangkaian kegiatan sekaligus awal dari perjalanan kreatif berikutnya. Penghargaan yang diberikan pada malam itu menjadi bagian dari perayaan, sedangkan semangat berkarya dan berkolaborasi menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.
Pesan yang mengemuka dalam penutupan festival tersebut sederhana, tetapi bermakna: sebuah festival tidak hanya dinilai dari kemeriahan penyelenggaraannya, melainkan juga dari jejak yang ditinggalkan, jejaring yang dibangun, dan peluang yang berhasil dibuka bagi para pelaku kreatif.
Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil’alamin, Bupati Pacitan melalui sambutan yang dibacakan Sekda secara resmi menutup rangkaian Festival Film Horor Pacitan 2026.
Panggung festival boleh saja kembali sunyi. Namun, cerita-cerita baru diharapkan terus lahir, kamera kembali menyala, dan kreativitas para sineas terus menemukan jalannya. “Semangat untuk merawat budaya, merayakan keberanian bercerita, dan mengembangkan ekonomi kreatif diharapkan terus tumbuh serta memberi warna bagi perjalanan perfilman Indonesia,” pungkasnya. (Red/yun).




