BeritaDaerahPemerintahanPendidikanSosial

Dari Balik Meja Sekda: Isyarat Sunyi Pengabdian dan Warisan Kepemimpinan Maulana Heru. Sebut Khemal Pandu Adalah Sekda Masa Depan

"(Jabatan) Sekda itu, sebagai hadiah terindah dari Pak Bupati untuk Pandu (Khemal Pandu Pratikna) setelah saya pensiun"

Pacitan,JBM.co.id- Jarum jam dinding Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan menunjuk pukul 14.30 WIB. Sore itu berjalan seperti biasa, hingga suara mesin sebuah Toyota Innova Reborn hitam metalik bernopol AE 1815 XP memecah keheningan halaman kantor pemerintahan.

Pintu mobil tertutup perlahan. Langkah kaki menyusur lorong menuju ruang resepsionis. Sosok itu adalah Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, Sekretaris Daerah Pacitan, seorang birokrat yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di balik meja kerja, rapat tanpa henti, dan keputusan-keputusan sunyi yang menentukan arah pemerintahan.

Ia baru saja kembali dari tugas luar, didampingi asisten dan sekretaris pribadinya. Wartawan koran ini, telah menunggu. Bukan sekadar ingin konfirmasi agenda, melainkan mencari jawaban atas isu yang mulai bergulir, tentang masa depan birokrasi Pacitan setelah Heru purna tugas.

“Ayo kalau mau ketemu,” sapanya singkat, bersahaja. Tak ada jarak, tak ada kesan kuasa.

Pintu ruang kerja pun dibuka. “Monggo mas, silakan,” ucap sang ajudan. Di ruangan itu, aroma kertas dan tanggung jawab terasa kental. Beberapa lembar surat dibuka, dibaca sekilas, lalu ditata kembali. Heru bergeser dari kursi kerjanya, memilih duduk tepat di hadapan wartawan. Sebuah sikap yang kerap ia lakukan, sejajar, bukan menggurui.

“Nanti malam benar ada pelantikan?” tanya wartawan.

“InsyaAllah,” jawabnya pendek. Tidak ada nama. Tidak ada penegasan. Namun justru di situlah maknanya.

Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna. (doc).
Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna. (doc).
Pertanyaan berlanjut, menyinggung calon Sekda Pacitan di masa depan. Heru menarik napas pelan. Matanya menerawang sejenak, seolah menimbang antara kewajiban menjaga etika birokrasi dan kejujuran seorang pamong yang akan segera menutup masa baktinya.

“Ono opo soal calon sekda?” katanya lirih.

Di titik itulah percakapan berubah. Bukan lagi soal agenda, melainkan tentang warisan kepemimpinan. Tentang bagaimana sebuah jabatan tidak sekadar ditinggalkan, tetapi disiapkan. Heru mulai bertutur mengenai skenario besar pasca 2027, saat dirinya pensiun dan Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro, menapaki akhir masa pengabdiannya pada 2029.

“(Jabatan) Sekda itu, sebagai hadiah terindah dari Pak Bupati untuk Pandu (Khemal Pandu Pratikna) setelah saya pensiun,” ucapnya pelan namun pasti.

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Ia adalah sinyal. Sebuah pengakuan atas dedikasi, loyalitas, dan kerja sunyi seorang birokrat bernama Khemal Pandu Pratikna, figur yang disebut Heru telah lama ditempa dalam ritme pengabdian.

Namun bagi Heru, jabatan bukan puncak, melainkan ujian. Ia menitipkan pesan yang sarat nilai.

“Pandu harus bisa menjadi bapaknya semua ASN. Jangan ada dikotomi. Semua harus dirangkul,” katanya.

Lalu ia menyebut falsafah Jawa yang selama ini ia pegang teguh, mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat tinggi kehormatan pimpinan, mengubur dalam-dalam kekurangannya. Sebuah ajaran tentang kesetiaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati dalam kekuasaan.

“Itu yang harus dijadikan semangat pengabdian,” tegasnya.

Percakapan berakhir tanpa seremoni. Heru berdiri, memberi isyarat waktu harus berbagi dengan agenda lain. Wartawan pun berpamitan, meninggalkan ruang kerja itu dengan perasaan yang berbeda, bukan sekadar membawa kutipan, tetapi menyaksikan sebuah fase penting dalam perjalanan birokrasi Pacitan.

Sore itu, dari balik meja Sekda, publik seakan diajak memahami satu hal, bahwa pengabdian sejati tak selalu bersuara lantang. Kadang, ia hanya berbisik pelan, namun meninggalkan jejak yang panjang.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button