BeritaDaerahEkonomiPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Cabai Rawit Melonjak, IPH Pacitan Minggu Kedua September Capai 1,60 Persen

"Perkembangan harga pangan tersebut menjadi bagian penting yang terus dipantau pemerintah daerah, khususnya terhadap komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pergerakan IPH"

Pacitan,JBM.co.id-Perkembangan harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Pacitan kembali menjadi perhatian. Memasuki minggu kedua September 2026, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Pacitan tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,60 persen.

Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar, disusul daging ayam ras dan telur ayam ras.

Berdasarkan data BPS yang diolah, IPH Kabupaten Pacitan pada minggu kedua September 2026 berada di posisi 169 secara nasional. Di tingkat Provinsi Jawa Timur, Pacitan menempati urutan ke-15, sedangkan di Pulau Jawa berada di urutan ke-36.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pacitan, Ayub Setyo Budi, mengatakan perkembangan harga pangan tersebut menjadi bagian penting yang terus dipantau pemerintah daerah, khususnya terhadap komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pergerakan IPH.

“Perkembangan harga terus kami pantau, terutama komoditas yang memberikan andil cukup besar terhadap perubahan harga. Cabai rawit menjadi komoditas yang paling dominan pada minggu kedua September,” kata Ayub, Senin (14/9).

Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar
Data IPH Jawa Timur menunjukkan, dari 27 kabupaten/kota yang tercatat, Kabupaten Pacitan berada di posisi ke-15 dengan IPH sebesar 1,60 persen.

Kontribusi terbesar berasal dari cabai rawit sebesar 1,8062 persen, kemudian daging ayam ras sebesar 0,1701 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,1528 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan di Pacitan pada periode ini masih cukup kuat dipengaruhi komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit.

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur, Pacitan masih berada di bawah Kabupaten Pamekasan yang mencatat IPH tertinggi sebesar 3,36 persen, Kabupaten Tuban 2,97 persen, Kabupaten Madiun 2,50 persen, Kabupaten Ponorogo 2,37 persen, dan Kota Batu 2,36 persen.

Sementara itu, IPH terendah di Jawa Timur tercatat di Kota Pasuruan dengan angka -0,32 persen.

Harga Sejumlah Komoditas Mulai Bergerak
Pergerakan harga pada minggu kedua September juga menunjukkan dinamika pada sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat.

Dibandingkan dengan rata-rata harga Agustus 2026, komoditas yang mengalami kenaikan antara lain beras medium, minyak goreng, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, bawang putih, dan gula pasir.

Sementara itu, beberapa komoditas tercatat relatif stabil, yakni Minyak Kita, pisang, dan jeruk.

Adapun komoditas yang mengalami penurunan harga adalah cabai merah dan bawang merah.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan harga pangan di Pacitan masih berlangsung dinamis. Kenaikan pada sejumlah komoditas utama diimbangi dengan penurunan harga pada komoditas lainnya.

Pergerakan IPH Sepanjang 2026
Secara bulanan, perkembangan IPH Pacitan sepanjang 2026 juga menunjukkan fluktuasi.

Pada Januari, IPH tercatat -5,21 persen, kemudian meningkat menjadi 4,73 persen pada Februari dan 1,28 persen pada Maret. Pada April kembali mengalami penurunan menjadi -2,87 persen, sebelum naik menjadi 1,03 persen pada Mei.

Pada Juni, IPH kembali berada di angka -1,09 persen, kemudian -3,71 persen pada Juli. Memasuki Agustus, IPH berbalik naik cukup signifikan menjadi 2,13 persen.

Sementara hingga minggu kedua September, IPH tercatat 1,60 persen.

Dalam periode yang sama, sejumlah komoditas secara berulang menjadi penyumbang utama perubahan harga. Cabai rawit tercatat menjadi komoditas yang dominan pada beberapa bulan, bersama cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, daging sapi, beras, dan minyak goreng.

Adapun indikator perkembangan harga lainnya menunjukkan IPH year on year (y on y) Agustus sebesar 3,13 persen, IPH year to date (y to d) sebesar -3,71 persen, serta IPH month to month (m to m) sebesar 2,13 persen.

Pacitan Masih di Tengah Dinamika Harga Nasional
Di tingkat nasional, disparitas pergerakan harga antarwilayah masih cukup lebar. Pada minggu kedua September 2026, sejumlah daerah mencatat kenaikan IPH yang jauh lebih tinggi dibandingkan Pacitan.

Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, misalnya, mencatat IPH 17,05 persen, dengan cabai rawit dan cabai merah sebagai penyumbang utama. Kabupaten Kepulauan Sangihe mencapai 15,74 persen, sedangkan Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mencapai 14,63 persen.

Di sisi lain, sejumlah daerah justru mengalami deflasi. Kabupaten Biak Numfor, Papua, mencatat IPH -4,45 persen, disusul Kabupaten Teluk Bintuni -2,04 persen dan Kabupaten Tambrauw -1,97 persen.

Untuk wilayah Pulau Jawa, Kabupaten Pamekasan menjadi daerah dengan IPH tertinggi sebesar 3,36 persen, diikuti Kota Magelang 3,09 persen, Kabupaten Tuban 2,97 persen, Kabupaten Sragen 2,95 persen, dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu 2,72 persen.

Di tengah dinamika tersebut, posisi Pacitan dengan IPH 1,60 persen menunjukkan bahwa tekanan harga di daerah masih berada dalam rentang yang perlu terus diwaspadai, terutama pada komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap daya beli masyarakat.

Pemerintah daerah pun terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan pasokan komoditas strategis sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pangan di Kabupaten Pacitan.(Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button