Pokdarwis Dukuh Mesari Didampingi Jejaring DeWi Kembangkan Wisata Petik Jeruk Berbasis Pertanian Organik di Desa Tiga, Bangli

Jbm.co.id-TABANAN | Pendampingan Jejaring Desa Wisata (Jejaring DeWi) selama kurang lebih dua tahun mulai memberikan dampak nyata atas pengembangan potensi pertanian dan pariwisata di Pokdarwis Dukuh Mesari, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.
Ketua Pokdarwis Dukuh Mesari, Nengah Gebloh, mengatakan pendampingan Jejaring DeWi membantu pihaknya memahami cara mengelola potensi pertanian agar memiliki nilai tambah sekaligus dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Sebelum mendapatkan pendampingan, pihaknya yang bergerak sebagai pelaku pertanian mengaku masih kebingungan dalam mengelola potensi yang dimiliki.
Pendampingan Jejaring DeWi kemudian membuka perspektif baru, tidak hanya terkait pengembangan desa wisata, tetapi juga penguatan sektor pertanian.
“Setelah didampingi Jejaring DeWi, kami mulai beralih ke sistem pertanian berbasis organik. Melalui pendampingan ini, kami belajar cara mengembangkan pertanian organik serta memanfaatkan pertanian tersebut agar memiliki nilai tambah, salah satunya dengan mengemasnya menjadi destinasi wisata,” kata Ketua Pokdarwis Dukuh Mesari, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Nengah Gebloh, disela-sela program pelatihan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Sistem Pertanian Organik di Desa Senganan dan Ekowisata Keridan Organik Farm berlokasi di Desa Adat Keridan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Minggu (13/9/2026).
Nengah Gebloh menuturkan, pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan membuat Pokdarwis Dukuh Mesari mulai melangkah menuju pengembangan desa wisata yang berkelanjutan.
Salah satu potensi unggulan yang kini dikembangkan adalah perkebunan jeruk dan kopi organik. Pengembangan tersebut juga dibarengi dengan penataan kawasan yang sebelumnya dinilai kurang tertata.
Kini, kawasan tersebut telah ditata dan memiliki salah satu destinasi unggulan berupa wisata petik jeruk.
“Setelah didampingi Jejaring DeWi, kami mulai beralih ke sistem pertanian berbasis organik. Melalui pendampingan ini, kami belajar cara mengembangkan pertanian organik serta memanfaatkan pertanian tersebut agar memiliki nilai tambah, salah satunya dengan mengemasnya menjadi destinasi wisata,” ujarnya.
Menurut Nengah Gebloh, perubahan tersebut mulai berdampak terhadap kunjungan wisatawan. Setelah dilakukan penataan kawasan dan pengembangan aktivitas wisata, lokasi Pokdarwis Dukuh Mesari mulai ramai dikunjungi.
Wisatawan yang datang terdiri dari wisatawan mancanegara dan domestik. Namun, mayoritas pengunjung masih berasal dari wisatawan domestik atau lokal.
Aktivitas yang ditawarkan tidak hanya wisata petik jeruk. Pengunjung juga dapat mengikuti wisata edukasi pertanian yang memberikan pengalaman belajar langsung mengenai aktivitas pertanian.
Program edukasi ini terutama menyasar rombongan sekolah yang ingin mengenal sektor pertanian secara langsung. Bahkan, pada awal Oktober 2026 mendatang, telah ada booking dari sekolah CIS Denpasar dengan jumlah peserta mencapai 240 orang.
Meski belum dilakukan grand opening secara resmi, operasional pelayanan wisatawan di kawasan tersebut telah berjalan sekitar satu tahun.
Menurutnya, perkembangan kunjungan tersebut tidak terlepas dari jejaring kerja sama yang dibangun melalui program pelatihan SDM. Jejaring tersebut mempertemukan pengelola dengan pemandu wisata atau guide dari sekolah CIS.
“Dukungan jaringan Desa Wisata (DeWi) yang aktif mengarahkan dan mengajak wisatawan untuk berkunjung ke desa ini,” kata Nengah Gebloh.
Atas pendampingan Jejaring DeWi, Nengah Gebloh menyampaikan apresiasi kepada Jejaring DeWi. Ia berharap pendampingan tersebut dapat terus berlanjut sehingga Pokdarwis Dukuh Mesari mampu berkembang bersama menuju desa yang lestari sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Reporter: Ace Wiguna
Redaktur: Putu Wiguna




