BaliBeritaDaerahDenpasarPemerintahanPendidikan

Trisno Nugroho: IPM Bali Tembus 80,03 Masuk Lima Besar Nasional Jadi Momentum Bangun Manusia Unggul dan Sejahtera

Jbm.co.id-DENPASAR | Bali mencatat kemajuan signifikan dalam pembangunan kualitas manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali 2026 mencapai 80,03 sehingga meningkat dari 79,37 pada 2025.

Capaian tersebut mengantarkan Bali naik kelas dari kategori pembangunan manusia tinggi menjadi sangat tinggi, sekaligus menempatkan Bali di peringkat kelima nasional.

Pengamat Ekonomi dan Pariwisata, Trisno Nugroho menilai peningkatan IPM tersebut menjadi kabar menggembirakan ditengah perhatian publik atas pertumbuhan ekonomi, investasi, dan perkembangan pariwisata Bali.

Menurutnya, kemajuan pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup masyarakat, meliputi kesehatan, pendidikan, produktivitas, dan kesejahteraan.

“Prestasi ini patut diapresiasi, menjadi penegasan penting bahwa pembangunan Bali mulai menunjukkan kemajuan yang semakin nyata pada aspek kualitas manusia,” kata Trisno Nugroho.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 November 2026, IPM Bali berada diatas rata-rata nasional sebesar 76,59. Bali juga berhasil mempertahankan posisi lima besar nasional selama dua tahun berturut-turut.

Pada 2026, hanya lima provinsi yang masuk kategori pembangunan manusia sangat tinggi, yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Bali.

Kualitas Kesehatan dan Pendidikan Meningkat

Trisno Nugroho menjelaskan, peningkatan IPM Bali ditopang oleh perbaikan pada tiga dimensi utama, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup masyarakat.

Umur harapan hidup masyarakat Bali meningkat menjadi 75,68 tahun. Sementara harapan lama sekolah mencapai 13,64 tahun dan rata-rata lama sekolah meningkat menjadi 9,95 tahun.

Disisi standar hidup, pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan meningkat 3,06 persen menjadi Rp15,85 juta per tahun.

Indikator tersebut menunjukkan adanya perbaikan standar hidup masyarakat, meskipun tidak dapat dimaknai sebagai ukuran langsung pendapatan atau gaji rata-rata penduduk.

Perkembangan positif juga terlihat pada sektor ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali pada Agustus 2026 tercatat 1,42 persen, jauh dibawah angka nasional sebesar 4,75 persen.

Selain itu, proporsi pekerja formal meningkat dari 49,53 persen menjadi 51,31 persen. Pekerja penuh waktu juga naik dari 73,02 persen menjadi 76,66 persen.

Meski demikian, Trisno Nugroho mengingatkan bahwa peningkatan kualitas pembangunan manusia harus diikuti perbaikan kualitas pekerjaan dan pendapatan masyarakat.

Pasalnya, jumlah penduduk bekerja sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan tingkat setengah pengangguran meningkat menjadi 3,62 persen.

Menurutnya, tantangan Bali ke depan bukan hanya mempertahankan tingkat pengangguran rendah, tetapi memastikan masyarakat memperoleh pekerjaan produktif, penghasilan layak, serta kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.

Kesenjangan IPM Antar Wilayah Masih Jadi Tantangan

Kemajuan pembangunan manusia juga tercermin dari seluruh kabupaten/kota di Bali yang telah masuk kategori pembangunan manusia tinggi atau sangat tinggi.

Denpasar mencatat IPM tertinggi sebesar 86,33, disusul Badung 84,72, Gianyar 81,62, dan Tabanan 80,23. Keempat daerah tersebut telah mencapai kategori pembangunan manusia sangat tinggi.

Sementara itu, Buleleng, Jembrana, Klungkung, Bangli, dan Karangasem terus mengalami kemajuan, meskipun masih berada dalam kategori tinggi.

Namun, Trisno Nugroho menyoroti kesenjangan pembangunan manusia antarwilayah yang masih perlu mendapat perhatian serius.

Selisih IPM antara Denpasar dan Karangasem meningkat dari 13,74 poin pada 2025 menjadi 13,92 poin pada 2026.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan pembangunan Bali belum sepenuhnya merata.

Anak-anak di Karangasem, Bangli, Buleleng, Jembrana, serta wilayah perdesaan lainnya harus memperoleh akses pendidikan, pelayanan kesehatan, keterampilan, dan kesempatan kerja yang semakin baik.

Trisno Nugroho juga menegaskan, pemerataan pembangunan bukan berarti seluruh daerah harus berkembang dengan pola yang sama.

Setiap kabupaten memiliki potensi dan keunggulan yang dapat dikembangkan, mulai dari pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, industri pengolahan, hingga pariwisata berkualitas.

Keberhasilan pembangunan Bali akan semakin bermakna apabila kemajuan tidak hanya terkonsentrasi di pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi masyarakat di seluruh wilayah.

SDM Berkualitas Jadi Prioritas Bali 2027

Memasuki 2027, Trisno Nugroho menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi salah satu prioritas utama pembangunan Bali.

Pendidikan dan pelatihan perlu semakin terhubung dengan kebutuhan dunia kerja. Generasi muda harus dibekali keterampilan yang relevan dengan perkembangan pariwisata berkualitas, ekonomi digital, industri kreatif, pertanian modern, dan sektor ekonomi produktif lainnya.

Pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, peningkatan produktivitas petani, serta perluasan kesempatan kerja di desa juga dinilai penting untuk terus diperkuat.

Menurutnya, pariwisata Bali yang berkembang harus memberikan manfaat lebih luas melalui penyerapan tenaga kerja lokal, penggunaan produk pertanian dan UMKM Bali, serta penguatan usaha masyarakat.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat menjadi penggerak peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Percepatan pemerataan pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, dan kesempatan ekonomi di Bali Utara, Timur, dan Barat juga perlu semakin diperkuat.

Arah pembangunan tersebut sejalan dengan Transformasi Ekonomi Kerthi Bali dan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan kesejahteraan manusia, kelestarian alam, serta kekuatan budaya sebagai fondasi pembangunan.

Trisno Nugroho menegaskan, IPM Bali sebesar 80,03 dan posisi lima besar nasional merupakan prestasi membanggakan. Namun, capaian tersebut bukan titik akhir, melainkan pijakan untuk membangun Bali yang semakin berkualitas, produktif, dan merata.

Kedepan, keberhasilan pembangunan Bali tidak sekadar mempertahankan peringkat nasional, tetapi memastikan setiap warga memiliki kesempatan lebih baik untuk hidup sehat, memperoleh pendidikan berkualitas, bekerja produktif, dan menikmati kesejahteraan.

Menurut Trisno Nugroho, Bali yang maju adalah Bali yang masyarakatnya semakin berkualitas, generasi mudanya memiliki masa depan, petaninya semakin sejahtera, desa-desanya semakin berkembang, serta kemajuan pembangunan dapat dinikmati oleh seluruh wilayah.

“Bukan hanya ekonomi yang terus bertumbuh, tetapi juga kualitas manusia yang semakin meningkat, kesempatan yang semakin merata, dan kesejahteraan yang semakin luas, dengan tetap menjaga alam dan budaya Bali bagi generasi mendatang,” demikian optimisme Trisno Nugroho atas masa depan pembangunan Bali. (tnu). 

 

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button