BadungBaliBeritaDaerahPendidikan

NCPI Bali, Unud dan Western Sydney University Sepakati Bentuk BASA Perkuat Kerjasama Bali-Australia 

Jbm.co.id-BADUNG | Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali bersama Universitas Udayana (Unud) dan Western Sydney University bersepakat membentuk forum kerja sama Bali Australia Spirit Alliance (BASA) di Ruang Bangsa, Rektorat Universitas Udayana, Jimbaran, Kabupaten Badung, Selasa (3/11/2026).

Hal tersebut tertuang dalam kegiatan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Implementation (Mol) Bali Australia Spirit Alliance (BASA) yang dirangkaikan dengan kegiatan Kuliah Umum (Public Lecture).

Forum BASA ini bertujuan memperkuat hubungan kerja sama antara Bali dan Australia di bidang penelitian, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Provinsi Bali Agus Maha Usadha menegaskan pihaknya merajut acara seremonial penandatanganan MoU dan MoI antara Universitas Udayana dengan Western Sydney University melalui Dinas Kebudayaan sehingga terbentuknya BASA, yaitu Bali Australia Spirit of Alliance. Menurutnya, kerja sama ini berupa pengembangan riset bersama antara Bali dan Australia berjangka 5 tahun ke depan.

“Jadi, kerja sama kita dalam pengembangan riset bersama antara Australia dan Bali melalui Western Sydney University dan tentu akan dikembangkan ke universitas-universitas lain ke depan,” kata Agus Maha Usadha.

​ ​Lebih lanjut, Agus Maha Usadha menyebutkan nanti didalam BASA promotion itu bisa menjembatani semua kebutuhan dua universitas ini atas objek-objek subjektif yang lain yang dibutuhkan nanti dalam riset itu, baik secara organisasi maupun government.

“Jadi, semua akan kita approach untuk kesuksesannya. ​Nah, tentu dalam hal ini expert kita adalah Pak Prof. Sunarta yang akan mendampingi researcher luar ini, beliau akan membentuk tim researcher dari Bali yang akan mendampingi jembatan ini sehingga bisa menjadi satu wacana hasil yang bagus, begitu,” kata Agus Maha Usadha.

Lebih lanjut, Agus Maha Usadha menegaskan  kolaborasi Bali dan Australia ini berfokus spiritual Bali-nya, yaitu tourism, adat, desa dan masyarakatnya sendiri. Mengingat, tourism itu sendiri goal dan expectation-nya adalah kesejahteraan.

“Nah, itu yang kita coba arah. Dan bagaimana generasi muda ke depan itu bisa sustainable, bisa bersaing dengan global system yang ada. Karena kan tidak bisa hanya di dalam competition secara dua saja, tanpa nanti kebutuhan protection, regulasi-regulasi, bagaimana kita punya kesempatan competitive yang sama di dalam global sekarang,” kata Agus Maha Usadha.

Sementara itu, Rektor Universitas Udayana (Unud), Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menegaskan penandatanganan MoU dan MoI menjadi momentum sangat penting sebagai langkah awal dalam memperkuat kolaborasi akademik antara Universitas Udayana (Unud) dan Western Sydney University.

Tak hanya itu, Prof. Ketut Sudarsana menyampaikan apresiasi yang tulus kepada Western Sydney University atas komitmennya dalam membangun kemitraan ini.

Tak hanya itu, Prof. Ketut Sudarsana juga mengapresiasi NCPI Bali atas peran pentingnya dalam memfasilitasi kerja sama ini melalui jejaring, pengetahuan lokal, serta dukungan yang berkelanjutan.

​Sebagai perguruan tinggi negeri di Bali, Universitas Udayana berkomitmen tidak hanya untuk memajukan bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga untuk memastikan bahwa pembangunan akademik senantiasa terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai luhur bangsa.

“Visi kami untuk menjadi universitas yang unggul, mandiri, dan berakar pada budaya menjadi panduan dalam membangun kemitraan yang bermakna, baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata Prof. Ketut Sudarsana.

Oleh karena itu, Prof. Ketut Sudarsana percaya, bahwa kerja sama antar universitas harus melampaui sekadar perjanjian institusional. Namun,kerja sama ini harus mampu menciptakan peluang pertukaran pengetahuan guna memperkaya pengembangan akademik serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

​Lebih lanjut, Prof. Ketut Sudarsana menyatakan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding)  menyediakan kerangka kerjasama dibawah semangat aliansi Bali-Australia atau disebut BASA (Bali Australia Spirit of Alliance).

Menurutnya, beberapa bidang kerja sama utamanya meliputi penelitian bersama melalui inisiatif “Baliology for Social Impact” (Baliologi untuk Dampak Sosial), yaitu ​program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada perempuan, generasi muda, dan komunitas desa adat Bali, serta peningkatan kapasitas akademik melalui penelitian bersama, kemitraan gelar, serta pertukaran staf dan pengajar.

Menurutnya, ​bidang-bidang ini mencerminkan komitmen bersama, dalam menghubungkan ilmu pengetahuan akademik dengan kebutuhan sosial yang riil.

Bahkan, Prof. Ketut Sudarsana melihat nilai yang sangat penting dalam riset yang menghargai kekayaan budaya Bali, kearifan lokal, dan dinamika komunitas, demi mewujudkan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.

​Dalam kemitraan ini, setiap institusi membawa keunggulannya masing-masing. Western Sydney University membawa keahlian di bidang riset dan manajemen proyek, sementara Universitas Udayana menghadirkan kapabilitas akademik serta pemahaman mendalam mengenai Bali dan Indonesia.

Disisi lain, NCPI Bali dengan jaringan pemangku kepentingan yang luas serta pemahaman konteks lokal akan memegang peran penting dalam memfasilitasi keterlibatan masyarakat dan mendukung implementasi kegiatan kolaborasi.

“​Hal ini merupakan contoh nyata bagaimana universitas dan organisasi profesional dapat berjalan bersama. Kami menyadari bahwa kontribusi akademik yang bermakna memerlukan keterlibatan yang luas, merangkul masyarakat, serta para pemangku kepentingan yang berhubungan langsung dengan isu-isu yang sedang diselesaikan,” paparnya.

Selain itu, pihaknya juga melaksanakan kuliah umum menawarkan kesempatan yang sangat baik, untuk saling bertukar gagasan dan memperluas wawasan akademik.

Saya berharap kesempatan ini dapat mendorong dialog lanjutan serta membuka peluang kerja sama baru di antara institusi kita,” kata Prof. Ketut Sudarsana.

​Pada akhirnya, keberhasilan kemitraan ini tidak hanya diukur dari penandatanganan dokumen perjanjian melainkan dari pengembangan program-program pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, Prof. Ketut Sudarsana sangat berharap kolaborasi ini akan terus tumbuh atas dasar saling percaya, keterlibatan aktif, dan komitmen bersama atas keunggulan akademik serta pembangunan berkelanjutan.

“​Sekali lagi, apresiasi yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Western Sydney University, NCPI Bali, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi mewujudkan kemitraan ini,” kata Prof. Ketut Sudarsana.

Pada kesempatan yang sama, Head of HADRI Western Sydney University (WSU) Prof. Nichole Georgeou menegaskan kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi Western Sydney University.

Lebih lanjut, Prof. Nichole Georgeou membeberkan  salah satu manfaat paling penting mengenai belajar tentang Bali berhasil menjaga keharmonisan ditengah kondisi negara yang terkadang mengalami sedikit keresahan sosial. Selain itu, pihaknya juga belajar tentang keberlanjutan dan ekologi.

“Namun, hal ini juga merupakan sebuah kemitraan yang sangat penting dalam hal kerja sama bersama. Bahkan, faktanya, pihak Western Sydney University tidak mengetahui semua hal yang nantinya akan dipelajari.

“Kita benar-benar tidak tahu, karena kalian tidak tahu apa yang kita ketahui, dan kita pun tidak tahu apa yang kalian ketahui, serta bagaimana hal-hal tersebut berpadu untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar istimewa dan unik di kawasan ini,” kata Prof. Nichole Georgeou.

Dr. Rob Goodfellow, Guest Speaker juga menambahkan pihaknya menghargai kebudayaan Bali. Bahkan, orang Australia sering kembali, bukan satu kali, bukan 10 kali dan ada yang kembali 20 kali, termasuk dirinya mengunjungi Bali lebih daripada 100 kali.

 Menariknya, Dr. Rob Goodfellow, mencari ​namanya Tri Hita Karana, karena the environment, the fellow man, dan the divine bergabung dan bersatu.

Sementara, di negaranya, Australia hal itu berpecah. Oleh karenanya, orang Australia adalah orang barat kembali untuk mencari sumbernya dan semuanya mencipta jaringan, apalagi tim jaringan diantara dua negara tetangga.

​”Ya, luar biasa. Ini real, ini bukan filosofi saja. Ini real, yang real itu saya berteman dan pertemanan itu akan tahan untuk selama-lamanya,” tutupnya.

Pewarta: Ace Wiguna

Editor: Putu Wiguna

​

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button