Hulu Bali Terancam! TNI dan Akademisi Bergerak Selamatkan Air dan Pertanian: Danau Batur Jadi Titik Awal

Jbm.co.id-BANGLI | Upaya menyelamatkan lingkungan Bali tidak cukup hanya dilakukan dari hilir. Perubahan harus dimulai dari hulu, tempat bertemunya air, hutan, dan kehidupan masyarakat.
Semangat inilah yang mendasari Aksi Karya Bakti TNI melalui dua gerakan sekaligus, yakni membersihkan kawasan Danau Batur dan memberdayakan masyarakat mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Kegiatan tersebut menjadi langkah nyata mendukung pelestarian lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Sampah dapur, limbah pertanian, hingga kotoran ternak yang selama ini berpotensi mencemari lingkungan diarahkan menjadi sumber pupuk organik yang bermanfaat bagi pertanian.
Aksi bersih Danau Batur bukan sekadar kegiatan seremonial. Gerakan ini merupakan bentuk kepedulian untuk memuliakan danau sebagai hulu kehidupan sekaligus menjaga kualitas air yang menjadi sumber penting bagi Bali.
Langkah tersebut juga menjadi kelanjutan dari Focus Group Discussion (FGD) Danau Batur dengan melibatkan 11 desa penyangga danau, (27/10/2026).
Pembahasan berfokus pada persoalan Keramba Jaring Apung (KJA) dan kualitas air Danau Batur yang harus tetap terjaga sebagai sumber air baku bagi Bali.
Gerakan TNI ini sejalan dengan agenda Tim Percepatan Pembangunan Provinsi Bali 2025-2030 Bidang Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.
Sepanjang September 2026, tim yang dikoordinasikan Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., bersama anggota I Gusti Rai Ari Temaja, Putu Anom Agustina, SIP., M.Si., dan Made Arimbawa, melakukan serangkaian koordinasi hingga peninjauan langsung ke lapangan.
Persoalan lingkungan yang ditemukan menunjukkan Bali menghadapi tekanan serius dari hulu hingga hilir. Mulai dari darurat sampah, alih fungsi lahan, pelanggaran sempadan danau, sungai dan pantai, pembabatan hutan, hingga pendangkalan danau.
Data Systemiq 2021 mencatat timbulan sampah plastik di Bali mencapai 829 ton per hari. Dari jumlah tersebut, hanya 57 ton atau sekitar 7 persen yang didaur ulang. Sementara 89 ton atau 11 persen terbuang ke saluran air hingga bermuara ke laut.
Kondisi itu diperkuat data DLHK Provinsi Bali semester I 2024 yang mencatat timbulan sampah mencapai 3.597 ton per hari. Angka tersebut meningkat 230 ton dibandingkan 2023 yang mencapai 3.367 ton per hari.
Ancaman krisis lingkungan juga terlihat dari sektor pertanian. Pekaseh Subak Jatiluwih, Selumbung, dan Tibu Beleng menyampaikan bahwa debit air di persawahan mengalami penurunan hingga 50 persen. Petani bahkan harus menerapkan pola tanam bergiliran.
Sementara itu, kajian P3E Bali Nusra KLHK 2021 memproyeksikan Bali mengalami kekurangan air bersih sebesar 1.051,91 liter per detik pada 2025.
Persoalan tersebut semakin kompleks, ketika tutupan hutan sebagai kawasan penyangga air disebut hanya tersisa 16,9 persen.
Lima danau yang menjadi menara air Bali, yakni Batur, Beratan, Buyan, Tamblingan, dan Yeh Malet, juga menghadapi persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan serius.
Empat Catatan Kritis untuk Bali
Dari berbagai koordinasi dan peninjauan lapangan selama September 2026, Tim Percepatan Pembangunan Bali merumuskan empat catatan penting.
Pertama, sampah organik harus dipandang sebagai sumber pupuk yang selama ini salah tempat. Kandungan bahan organik tanah persawahan Bali yang idealnya mencapai 5 persen disebut kini tinggal sekitar 1 persen.
Padahal, Denpasar dan Badung menghasilkan sekitar 1.300-1.800 ton sampah per hari, dengan komposisi 65 persen berupa sampah organik. Jika dikelola secara optimal, potensi pupuk organik yang dihasilkan diperkirakan mencapai 253,5-350,1 ton per hari.
Kedua, danau harus dikembalikan fungsinya sebagai menara air Bali. Pengendalian aktivitas di kawasan danau, perlindungan sempadan minimal 50 meter, serta pendataan sertifikat tanah di sekitar danau, sungai, dan pantai menjadi langkah penting.
Ketiga, alih fungsi lahan harus dikendalikan dan kawasan hutan dilindungi. Sawah tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi pangan, tetapi juga menjadi kawasan penyangga air. Penguatan pararem hutan pingit serta penegakan Pergub Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber juga menjadi perhatian serius.
Keempat, penanganan lingkungan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan Forum Pelestari Danau di masing-masing kawasan, Pokja Danau tingkat provinsi, serta penguatan Komunitas Peduli Sungai (KPS).
Dari Danau Batur hingga Desa Kukuh
Dari berbagai catatan tersebut, muncul dua gerakan besar yang membawa filosofi sama: sampah adalah pupuk yang tersasar.
Selain Karya Bakti TNI membersihkan Danau Batur dan mengedukasi masyarakat mengolah sampah organik, gerakan lainnya diwujudkan melalui pengembangan Desa Mandiri Energi di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan.
Program Sistem Pertanian Organik Terpadu Mandiri Energi Berbasis Sumber Daya Lokal tersebut resmi diluncurkan di Pondok Kelompok Tani Jaka Organik, Kamis (29/10/2026).
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Mandiri Energi dan Edukasi Green Energy, PT PLN (Persero) UID Bali bersama Kelompok Tani Jaka Organik membangun sistem pertanian terpadu yang mengandalkan sumber daya lokal dan mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar.
Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini menjelaskan sistem tersebut dirancang melalui siklus produksi yang saling terhubung, dimulai dari peternakan sapi.
“Hulunya dari sapi. Kotoran sapi diolah menjadi biogas, ini sumber mandiri energi yang bersih dan terbarukan untuk operasional kelompok tani,” ujarnya.
Limbah biogas selanjutnya diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung budidaya padi organik. Hasil panen juga tidak langsung dijual dalam bentuk gabah kering, tetapi terlebih dahulu melalui proses pengeringan, penyosohan, hingga penggunaan vacuum dryer guna menjaga mutu dan daya simpan produk.
Teknologi vacuum dryer membantu menurunkan kadar air sekaligus meminimalkan kerusakan akibat panas, oksidasi, dan kontaminasi.
Melalui sistem tersebut, hasil akhirnya diarahkan menjadi produk beras organik premium yang memiliki kualitas dan daya saing untuk menembus pasar global.
Model pertanian terpadu ini sebelumnya telah dikembangkan Prof. Kartini di lahan seluas 23 are di Subak Blongyang, Desa Megati, Tabanan, melalui konsep SaBiCalTaLa, singkatan dari Sapi, Biogas, Cacing, Ikan, Tanaman, Lebah, dan Agrowisata.
Dalam konsep tersebut, seluruh komponen membentuk rantai ekosistem yang saling mendukung. Cacing membantu menyuburkan tanah sekaligus menjadi pakan ikan. Air kolam ikan dialirkan ke sawah untuk membawa unsur hara, sementara lebah membantu proses penyerbukan tanaman.
Model ini menjadi implementasi semangat Kampus Berdampak, ketika akademisi tidak hanya menghasilkan gagasan di ruang kampus, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata.
Pada akhirnya, seluruh gerakan tersebut bermuara pada satu filosofi besar: hutan adalah ibunya air, air adalah ibunya pertanian, dan pertanian adalah ibunya pariwisata.
Jika pariwisata Bali ingin tetap lestari, pertaniannya harus diselamatkan. Untuk menyelamatkan pertanian, ketersediaan air harus dijaga. Sementara untuk menjaga air, kelestarian hutan dan kawasan hulu tidak boleh dikorbankan.
Sebab, menjaga Bali bukan hanya tentang mempertahankan keindahan alamnya, tetapi juga memastikan sumber kehidupan tetap terpelihara bagi generasi mendatang.
Kalau bukan kita yang menjaga Bali, siapa lagi!
Pewarta: Ranu Sugito
Editor: Putu Wiguna




