BaliBeritaDaerahPemerintahan

Gung Cok Kritik Tajam Kinerja Pertamina saat BBM Langka Ancam Citra Pariwisata Bali 

Jbm.co.id-JAKARTA | Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra Arka alias Gung Cok melontarkan kritik tajam atas kinerja Pertamina di Bali menyusul kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Gung Cok menilai, krisis BBM yang dikeluhkan masyarakat selama sepekan terakhir, terutama dalam tiga hari terakhir, semestinya dapat diantisipasi. Terlebih, Bali merupakan pulau kecil yang kebutuhan dan distribusi BBM-nya dinilai lebih mudah dipetakan.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut kebutuhan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan industri pariwisata Bali. Antrean panjang hingga berjam-jam, bahkan tidak menjamin masyarakat mendapatkan BBM, turut merugikan wisatawan mancanegara (WNA).

“Kalau BBM di Bali seperti ini kan juga merusak ini perhelatannya otomatis industri pariwisata juga bisa hancur juga karena tamu-tamu asing yang datang ke Bali itu juga dampak juga sangat dirugikan,” kata Gung Cok yang juga Wakil Ketua Umum (WKU) Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) Kadin Bali di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Gung Cok menjelaskan, wisatawan yang berkunjung ke Bali umumnya telah menyusun jadwal perjalanan secara terencana. Ketika kesulitan mendapatkan BBM, agenda perjalanan mereka berpotensi terganggu karena waktu tersita untuk mengantre di SPBU.

“Wisatawan itu sudah punya terjadwal dan terukur, jadi hari ini dia tur ke sini, hari ini dia tur ke sini sehingga dia merasa dirugikan. Nah itu dampaknya di pariwisata,” bebernya.

Gung Cok menambahkan, dampak kelangkaan BBM juga dapat merembet ke operasional hotel dan penginapan. Mobilitas pekerja pariwisata yang seharusnya mendukung pelayanan tepat waktu ikut terganggu ketika pasokan BBM sulit diperoleh.

“Ini yang saya sampaikan dampak sangat-sangat buruk sekali, karena kan Bali itu kecil sekali, pulau kecil sekali, harusnya lebih gampang mengukur dan melihat stok dari BBM yang beda dengan dengan pulau-pulau di Indonesia yang lebih besar yang lebih padat penduduknya,” herannya.

Gung Cok mempertanyakan kemampuan Pertamina dalam menghitung kebutuhan BBM dan mengantisipasi lonjakan permintaan di Bali. Menurutnya, perusahaan tersebut sudah puluhan tahun menangani distribusi BBM sehingga semestinya memiliki data dan kajian yang memadai.

“Berapa pasokan diperlukan, dengan jumlah roda empat, roda dua, bus, tronton yang sudah berlangsung puluhan tahun,” tegasnya.

Gung Cok juga menyoroti perbedaan antara pernyataan bahwa stok BBM aman dengan kondisi yang dirasakan masyarakat. Di lapangan, warga masih harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar.

Gung Cok mengaku tidak akan menyoroti kinerja manajemen Pertamina di Bali secara tajam apabila kelangkaan serupa terjadi merata di seluruh Indonesia. Namun, saat berada di Jakarta, ia tidak menemukan persoalan serupa, meskipun aktivitas kendaraan dan kepadatan penduduk jauh lebih tinggi.

Disisi lain, Gung Cok merasa heran karena persoalan kelangkaan BBM di Bali turut dikaitkan dengan Partai Golkar dan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya dijelaskan melalui evaluasi terhadap kesiapan pasokan dan distribusi BBM, bukan dengan mengaitkannya kepada menteri tertentu.

Gung Cok menegaskan Pertamina Bali perlu memberikan penjelasan mengenai penyebab kelangkaan sekaligus memastikan distribusi BBM kembali normal agar aktivitas masyarakat dan industri pariwisata tidak terus terganggu.

“Kinerja Pertamina Bali pantas dipertanyakan. Jangan dikaitkan dengan menteri tertentu,” pungkasnya.

Editor: Putu Wiguna

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button