Dari Nira ke Mancanegara: Lompatan Sunyi Gula Aren Temon Pacitan, Menembus Pasar Global
"Transformasi tidak cukup hanya dengan bantuan. Yang menentukan adalah kemauan untuk berubah, belajar, dan berani naik kelas"

Pacitan,JBM.co.id- Di balik seremoni pelepasan ekspor yang dihadiri Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Bupati Pacitan, serta jajaran manajemen PT Astra International Tbk, tersimpan sebuah kisah transformasi yang tak sederhana. Gula aren dari Desa Temon, Kecamatan Arjosari, tak sekadar berangkat ke pasar global, ia membawa narasi tentang perubahan mentalitas dan keberanian desa menata masa depan.
Keberhasilan ini bukan lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari proses panjang yang mengubah pola pikir para pelaku usaha, dari sekadar pengolah tradisional menjadi penggerak bisnis berbasis standar mutu dan tata kelola modern.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian (Dinkoperin) Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, menyebut capaian tersebut sebagai bukti nyata kekuatan mental kewirausahaan masyarakat Temon. Menurutnya, alat produksi yang lebih baik, program pembinaan, hingga dukungan kemitraan hanyalah instrumen. Penentu utamanya tetap manusia.
“Transformasi tidak cukup hanya dengan bantuan. Yang menentukan adalah kemauan untuk berubah, belajar, dan berani naik kelas,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Mengelola ratusan petani aren dalam satu sistem bisnis terpadu, lanjutnya, bukan perkara teknis semata. Dibutuhkan disiplin kolektif, kepercayaan yang terbangun kuat, serta komitmen bersama untuk menjaga standar. Dalam konteks ekspor, setiap detail menjadi krusial, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, hingga legalitas yang memenuhi tuntutan pasar internasional.
Para pelaku usaha di Temon dinilai telah menunjukkan karakter khas seorang entrepreneur: berani mengikuti standar mutu global, konsisten menjaga kualitas, patuh terhadap manajemen produksi, serta siap memenuhi regulasi ekspor. Mentalitas inilah yang membuat pembinaan berjalan efektif dan kemitraan terjalin berkelanjutan.
Bagi M. Ali, keberhasilan Temon pada dasarnya adalah kemenangan pola pikir. Ketika orientasi usaha bertumpu pada kualitas, kapasitas, dan kontinuitas, maka akses pasar global bukan lagi sesuatu yang mustahil.
“Produk bisa dibuat oleh siapa saja. Tetapi menjaga standar secara konsisten membutuhkan ketangguhan mental. Temon telah membuktikannya,” tegasnya.
Capaian tersebut diharapkan menjadi preseden bagi sentra-sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) lain di Pacitan. Bahwa kunci untuk naik kelas bukan semata terletak pada modernisasi alat, melainkan pada karakter pelaku usahanya, pada keberanian untuk berubah dan komitmen untuk tumbuh.
Pelepasan ekspor hari itu menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjadi simbol bahwa desa bukan lagi entitas pinggiran dalam peta ekonomi, melainkan aktor yang mampu berdiri sejajar dalam rantai pasok global, ketika manusianya memiliki visi, disiplin, dan keberanian untuk melampaui batas tradisi menuju standar dunia.(Red/yun).




