BeritaDaerahKeagamaanPemerintahanPendidikanSeni BudayaSosial

Waspada di Era Digital: Antara Swafoto dan Bahaya ‘Ain yang Tak Kasat Mata

"Dibalik kemudahan berbagi itu, tersimpan peringatan yang patut direnungkan dengan hati yang jernih dan iman yang teguh"

Pacitan,JBM.co.id-Di tengah derasnya arus media sosial, manusia modern kian akrab dengan budaya membagikan setiap momen kehidupan. Dari kebahagiaan kecil hingga pencapaian besar, semuanya diabadikan dalam swafoto dan diunggah ke ruang publik digital.

Namun, di balik kemudahan berbagi itu, tersimpan peringatan yang patut direnungkan dengan hati yang jernih dan iman yang teguh.

Seorang pendakwah kondang di Pacitan, KH Mahmud, mengingatkan umat agar lebih berhati-hati dalam memposting diri di media sosial.

Dia menuturkan bahwa tidak semua yang terlihat indah layak untuk dipertontonkan. Ada dimensi tak kasat mata yang sering luput dari kesadaran manusia, yakni potensi munculnya penyakit ‘ain, sebuah pandangan yang disertai rasa kagum atau iri yang dapat membawa dampak buruk bagi yang dipandang.

Menurutny, ‘ain bukan sekadar mitos, melainkan sesuatu yang telah dikenal dalam khazanah keilmuan Islam. “Ketika seseorang terlalu sering menampakkan kenikmatan dirinya tanpa perlindungan doa dan tanpa kesadaran akan pandangan orang lain, maka ia membuka pintu bagi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur KH Mahmud dengan nada penuh keprihatinan, Selasa (28/4/2026).

Lebih jauh, KH Mahmud yang juga menjabat sebagai Inspektur di Inspektorat Pacitan ini mengingatkan, bahwa kebiasaan memamerkan diri, baik dalam bentuk swafoto maupun unggahan kehidupan pribadi, dapat mengundang rasa iri yang berlebihan dari orang lain. Dalam kondisi tertentu, hal ini diyakini dapat berdampak pada kesehatan, keberkahan hidup, bahkan usia seseorang. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menjaga niat dan membatasi apa yang layak untuk dibagikan.

Pesan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dan peringatan agar umat lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Media sosial sejatinya adalah alat, bukan tujuan. Ia bisa menjadi ladang pahala jika digunakan untuk kebaikan, namun juga bisa menjadi sumber mudarat jika digunakan tanpa kendali.

Di era yang serba terbuka ini, menjaga diri bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal kehati-hatian dalam menampilkan kehidupan. Sebagaimana nasihat para ulama, tidak semua nikmat harus diumbar, karena sebagian lebih indah jika disimpan dalam syukur yang sunyi.

“Semoga kita semua diberikan kebijaksanaan untuk menjaga diri, memperkuat doa, dan menata niat dalam setiap langkah, termasuk dalam jejak digital yang kita tinggalkan,” tukasnya. (Red/yun).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button